Pos Terpadu untuk Cegah Tawuran SMA 6 dan SMA 70 Dinilai Tak Efektif

Pos terpadu yang dibentuk antara SMA 6 Jakarta dan 70 Jakarta untuk mengatasi tawuran dinilai tidak efektif.

“SMA 6 dan SMA 70 sudah bentuk pos terpadu. Tetapi keberadaannya tidak efektif hingga ada korban jiwa,” kata Ketua Umum Yayasan SMA 6 Jakarta, Budiman Lubis di Tangerang, Selasa.

Dia mengatakan, pos terpadu tersebut dibentuk sejak tahun 2010 sebagai solusi mengatasi tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 sejak tahun 80-an. Pos tersebut terletak di depan GOR dan pojokan gereja.

Di dalam pos terpadu itu, terdiri dari Kepolisian, Dinas Pendidikan, Dandim dan perwakilan dari SMA 6 dan SMA 70. Fungsinya yakni untuk mengawasi dan mengantisipasi terjadinya tawuran.

Namun dengan adanya salah satu siswa SMA 6 yang tewas, maka peran pos terpadu tersebut harus diaktifkan kembali. Budiman pun berharap agar kepolisian memberikan hukuman tegas kepada pelajar yang membunuh Alawy.
    
“Masukan saja pelaku ke penjara anak di Tangerang. Ini agar menjadi pembelajaran bagi pelajar lainnya,” katanya.

Mengenai tradisi tawuran kedua sekolah, Budiman yang merupakan lulusan tahun 1973, menambahkan, hal tersebut disebabkan karena saling ejek.
 
Tetapi, upaya mendamaikan kedua belah pihak sudah dilakukan beberapa kali. Namun, karena adanya pelajar baru setiap tahun, membuat proses perdamaian itu pudar. “Untuk pembinaan kepada senior memang sudah dilakukan tetapi kepada juniornya kurang,” katanya.

Mengenai upaya dari pihak alumni, Budiman menegaskan bila pihaknya akan kembali melakukan pertemuan tertutup. “Mulai besok kita akan bahas mencari solusi tetapi bukan penggabungan kedua belah pihak,” katanya.

Irjen Depdikbud Kementerian Pendidikan Haryono Umar mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan satu tim untuk melakukan pengusutan kasus ini.

“Tim dari Kementerian Pendidikan sudah melakukan penyelidikan bersama kepolisian untuk mengatasi kasus ini,” katanya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.