Populer?

Ayat bacaan: Lukas 6:26
=====================
“Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Seberapa pentingkah sebuah popularitas? Kalau ditanyakan kepada orang, kebanyakan akan mengatakan bahwa itu sangat penting. Seorang teman yang saya tanyakan berkata “wah, penting banget… hidup akan jauh lebih mudah, lebih bahagia kalau terkenal.” Apalagi di jaman sekarang, popularitas semakin menjadi primadona yang didambakan orang. Lihatlah berbagai ajang pencari bakat di televisi yang menjanjikan ketenaran dalam waktu instan. Artis-artis berebut untuk bisa masuk dalam infotainment, kalau perlu bayar, supaya mereka bisa populer. Ukuran kesuksesan pun terarah pada ketenaran yang menjanjikan banyak keuntungan mulai dari secara finansial sampai hal-hal lainnya seperti memilih pasangan hidup misalnya. Tapi di sisi lain, betapa seringnya kita melihat orang-orang populer yang bagai komet, melesat naik tapi sekejap kemudian sudah hilang. Ada pula yang mentalnya tidak siap sehingga terjatuh pada berbagai pelanggaran hukum dan berakhir di penjara. Tapi fakta ini tampaknya tidak menyurutkan niat orang untuk berlomba-lomba mengejar popularitas di mata manusia lainnya. Tidak jarang orang rela untuk melakukan hal-hal yang melanggar perjanjian dengan Tuhan dan melawan kebenaran agar popularitas bisa digenggam. Berkompromi dengan sesuatu yang salah, bahkan menggadaikan Tuhan, semua demi popularitas semata. Mengapa sampai berani seperti itu? Tentu, karena popularitas itu sangat penting bagi mereka.

Apa yang dikatakan Firman Tuhan akan hal ini? Ternyata Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas. Populer di mata orang lain itu sama sekali tidak penting, bahkan berpotensi mencelakakan. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” (Lukas 6:26). Lihatlah betapa kerasnya sehingga muncul kata ‘celaka’. Kenapa? Karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberi yang menciptakan kita. Popularitas bisa menyilaukan sehingga kita tidak lagi bisa melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Silaunya popularitas bisa mengalihkan fokus kita terhadap rencana Tuhan yang indah pada diri kita, menggantikan sesuatu yang kekal demi kepentingan sesaat. Apa untungnya kita populer hanya sebentar tetapi harus kehilangan anugerah keselamatan yang sudah diberikan lewat Kristus?

Firman Tuhan menyampaikan bahwa apa yang dituntut dari kita adalah terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itu yang diinginkan bagi kita, bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya sementara saja sifatnya.

Selanjutnya, Alkitab juga mengajarkan bahwa semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil dan Allah sendirilah yang harus semakin besar. Contoh yang baik ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis. Ia bisa saja membanggakan diri sebagai sosok yang membaptis Yesus, tetapi lihatlah apa katanya. “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya…Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:28,30). Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia.

Jika memang kita harus dianggap aneh oleh dunia atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan, biarkan saja. Itu jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi sebagai anak terang. Yesus bahkan telah mengingatkan “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Mengapa demikian? “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25). Dan ini berlaku untuk sesuatu yang kekal. An everlasting, eternal life, no sorrow anymore with God in heaven. Itu yang dijanjikan oleh Kristus, dan untuk itulah Dia datang ke dunia. Dan itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Tepat seperti apa yang dikatakan Yesus selanjutnya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (ay 26). Apalah artinya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah?

Semakin jauh kita bertumbuh, semakin banyak pula kita akan berhadapan dengan pilihan demi pilihan. Melakukan sesuatu yang benar tapi beresiko dibenci atau disisihkan banyak orang, atau sebaliknya melakukan hal yang salah tapi akan dipuja-puja orang lain. Semua tergantung kita. Tidak mudah memang untuk tampil benar di dunia yang jahat. Tidak mudah untuk tampil lurus di lingkungan yang bengkok. Tapi itulah yang menjadi panggilan kita. Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita dianggap bodoh, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai dan menerima keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar. Tidak salah untuk menjadi orang sukses, Tuhan sendiri menginginkan kita untuk itu. Tapi jangan sampai kita mengejar-ngejar ketenaran lalu mengesampingkan atau malah menggadaikan Tuhan dan kebenaran firmanNya. Fokus kita harus terus terarah kepada jalan yang benar dan tidak membuka kompromi kepada hal-hal yang salah dengan iming-iming apapun. Setiap peningkatan hendaknya dipakai untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk diri sendiri. Alangkah indahnya kalau kita bisa dikenal sebagai orang sukses yang benar-benar melakukan firman.

Popularitas bukan hal terpenting, tapi menjadi orang benar, itulah yang penting

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.