Pontianak Pekat Berasap, Serasa Hidup di Negeri Atas Awan

< ![endif]-->

MANAKALA Ibukota Provinsi Kalimantan Barat tengah didera kabut asap tebal seperti hari-hari ini, maka Pontianak tak ubahnya kota di sebuah Negeri Atas Awan. Jalanan serba gelap gulita. Motor dan mobil diharuskan menyalakan lampu walau berjalan di siang hari buta. Jarak pandang sedemikian pendek.

Itu baru di jalanan. Di atas jalanan, ada bidang maha luas namanya langit. Maka yang terlihat ya sama: pekatnya kabut asap. Jarak pandang ke atas hanya bisa terlihat dalam radius beberapa meter saja.

Berdiri menyusuri Pelabuhan Niaga Pontianak di seberang Sungai Kapuas, suasana kabut asap ya sami mawon alias sama saja. Jarak pandang di atas sungai besar yang membelah Pontianak ini sangat pendek. Indahnya Sungai Kapuas –terutama menyaksikan lalu-lalang kapal berbagai ukuran—menjadi hilang mendadak.

Permukiman penduduk di seberang Sungai Kapuas, jalur lintas air menuju Siantan dengan ferry juga tidak bisa dijangkau oleh pandangan mata.

Pontianak berasap katedral

Sedih sekaligus memprihatinkan. Pontianak sungguh bagaikan Negeri di Atas Awan.

Sebulan tiada hujan

Sudah sebulan lebih ini, seluruh kota  Pontianak tidak pernah merasakan berkat alam bernama hujan. Berbeda dengan kawasan Pulau Jawa dan Jakarta yang pekan-pekan terakhir ini dihujami bencana air secara berlebihan hingga menyebankan banjir bandang dimana-mana, maka Pontianak mengalami situasi kebalikannya: kering kerontang.

Panas terik menyergap tubuh sepanjang hari, terutama kalau berjalan di luar ruangan atau rumah. Tanpa kacamata hitam, mata menjadi perih terasa. Tanpa saputangan atau masker di mulut dan hidung, maka menjadi sesak nafas.

Konon, seperti yang sudah-sudah terjadi, banyaknya kepungan asap pekat ini terjadi karena pembakaran lahan hutan gambut untuk kepentingan pembukaan lahan perkebunan baru. Entah disengaja atau tidak, tindakan itu benar-benar membuat hidup orang banyak menjadi susah dan tidak sehat.

Saya belum mendengar ada tindakan penegakan hukum dari pemerintah dan aparat penegak hukum lainnya atas aksi main bakar demi pembukaan lahan perkebunan baru ini.

Sebagai orang asli Pontianak, tentu diketahui oleh hampir kebanyakan ‘putra-putri daerah’ bahwa membakar lahan gambut itu tidak gampang memadamkannya. Di atas tanah bisa jadi sudah tidak ada api; tapi di bawah ‘sana’masih ada sekam yang membara.Pontianak berasap 3

Negeri di Atas Awan

Pagi dan malam hari adalah waktu-waktu gawat di Pontianak.

Serbuan kabut asap nan pekat menyerbu ke setiap sudut ruangan publik maupun privat. Jalanan menjadi gelap, ruang terbuka di rumah juga dibuat pekat oleh asap. Kamar tidur menjadi bau apek, kalau masih memakai sistem pendingin dengan exhaust.

Kemana-mana menjadi susah dan tidak nyaman. Akhirnya Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pendidikan pun sampai mengeluarkan instruksi libur secara mendadak.

Baru beberapa hari setelah Imlek, sekolah sudah harus libur lagi hanya karena didera kabut asap nan pekat.

Sungguh, Pontianak pada hari-hari ini seperti Negeri di Atas Awan.

Makanan dan minuman baik di rumah dan di dalam gedung sudah terkontaminasi dengan asap. Jarak pandang naik motor di jalanan hanya bisa terjangkau 5 meter saja. Saya tak tahu, apakah ada penundaan jadwal landing dan airborne bagi pesawat yang bolak-balik terbang ke dan dari Pontianak.

ISPA

Sesak napas dan tenggorokan yang kering –ciri-ciri penyakit saluran pernafasan (ISPA)—mulai mendera warga Pontianak, terutama anak-anak. Juga banyak orang dilanda disentri karena makanan sudah ‘teracuni’ asap.

Kewajiban memakai masker sudah beredar dimana-mana, terutama setiap kali melakukan kegiatan di luar rumah. PMI Kota Pontianak sudah melakukan pembagian masker gratis di daerah Kubu Raya. Pontianak berasap jembatan tol by Susana

Anak-anak TK dan SD sudah diliburkan oleh Dinas Pendidikan Kota Pontianak sejak hari Kamis tanggal  6 Februari  hingga Sabtu besok 8 Februari 2014. 

Anak-anak SMP dan SMA baru diliburkan mulai  Jumat hari ini tanggal 7 Februari sampai Sabtu besok.

Pertanyaan saya, apa yang akan terjadi lagi bilamana  kabut asap ini masih tetap melanda? Sampai kapan anak-anak harus libur?Pontianak berasap pengumuman libur sekolah

Sejauh saya dengar dari radio dan baca dari media massa, pekatnya kabut asap telah menjadikan otoritas Bandara Supadio Pontianak membuat keputusan di lapangan: maskapai penerbangan melakukan penjadwalan ulang penerbangannya. Sudah beberapa hari, penerbangan pagi dari Bandara Supadio terpaksa mengalami delay hingga siang hari; bahkan ada yang dibatalkan.

Di Pelabuhan Pontianak, kapal-kapal dilarang berlayar.

Pontianak di hari-hari penuh asap seperti ini sungguh seperti kota Negeri di Atas Awan.

Wajah-wajah murung warga Pontianak terlihat ada dimana-mana.

Nah, harapannya hanya satu: segeralah bertindak pemerintah kota Pontianak dan jajarannya untuk menghentikan bencana kabut asap ini.

Photo credit: Suasana Pontianak di kala didera kabut asap tebal sepanjang awal Februari 2014 (Susana Selamat, Ie Sok, Eko Tan,  Anggreani)

 

 

.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.