“Pompeii”, Mati Terhormat Para Budak

GUNUNG Visuvius di pinggiran perairan Teluk Napoli, Italia, sudah barang tentu menjadi mimpi sangat buruk bagi sejarah bangsa Romawi. Ketika gunung berapi di Napoli ini menyalak dari tidurnya tahun 79 Masehi, tak ayal dua kota yang ada di bawahnya yakni Pompeii dan Herculaneum ‘tergenang’ lahar dan akhirnya terkubur di dalamnya.

Film dengan judul gagah Pompeii hanya mengambil kisah meletusnya gunung berapi ini sebagai latar belakang kisah asmara antara seorang budak berdarah Celtic dari Inggris  bernama Milo  (Kit Harington) dengan seorang putri bangsawan bernama Princess Cassia (Emily Browning). Pada sisi lain ada budak kulit hitam bernama Atticus (Adewale Akinnuoye-Agbaje) yang ingin merayakan kebebasannya sebagai budak di ajang duel maut antar gladiator di amphitheatrum Pompeii.

Hidup merdeka

Persahabatan antara Atticus dan Milo dipertemukan oleh satu kepentingan yang sama: hidup merdeka sebagai manusia. Hanya saja, motif ‘merdeka’ mereka sedikit berbeda: Milo ingin ‘merdeka’ setelah berhasil melenyapkan Senator Corvus dari Imperium Romanum yang tamak dan ambisius. Ia ingin membunuh mati Corvus  lantaran dendam pribadi,  setelah keluarganya di Inggris dibantai pasukan Romawi. Sementara, Atticus ingin ‘merdeka’ lazimnya orang pada umumnya bahwa perbedaan warna kulit bukan menjadi alasan untuk memperlakukan orang secara berbeda.

Namun, hukum Romawi yang waktu itu dikenal ‘rigid’, tenyata juga ‘bengkok’ di tangan seorang politikus busuk yakni Senator Corvus (Kiefer Sutherland).

Pompeii-movie-amazing-screen-shots-Kit-Harringtons-new-movie-free-download-lovely-high-resolution-wallpapers-hollywood-movie-pompeii

Bangunan sebuah amphitheatrum (modern) dimana dulu para gladiator menjadi manusia aduan di tangan para centeng dan politisi busuk –termasuk Kaisar– di Imperium Romanum (Ilustrasi/Ist)

Peradaban Romawi yang hebat sejatinya juga kotor oleh darah para gladiator yang menjadi ‘mangsa’ kebengisan para politisi busuk dan amoral dari Roma. Mereka menjadikan manusia sebagai umpan singa atau menjadi objek bulan-bulanan tentara Roma. Yang tak kalah bengisnya, tentu saja, mereka sengaja dikasting dalam sebuah duel mati sebagai manusia-manusia aduan di lapangan amphitheatrum.

Gladiator adalah manusia gagah dengan postur fisik prima dan menarik birahi kaum perempuan. Namun, sejatinya para gladiator adalah manusia tak terhormat di mata para politisi Romawi, karena orang-orang non Romawi ini pada dasarnya hanyalah budak.

Amphitheatrum Romawi

pompeii_2014_movie-wide

Ciuman pertama dan terakhir antara budak Milo dan Putri Cassia dari Pompeii, sebelum akhirnya mereka berdua dilumat habis oleh banjir lahar panas tumpahan dari Gunung Visuvius yang meletus dahsyat tahun 79 hingga mengubur habis kota Pompeii dan Herculeanum di Napoli, Italia (Ilustrasi/Ist)

Hidup-mati seorang budak ada di tangan majikan. Di panggung amphitheatrum, hidup-mati para budak gladiator ada di ujung pedang. Menang duel berarti hidupnya diperpanjang lebih  lama. Bagi Atticus yang sudah memenangkan banyak pertandingan, duel terakhir akan menentukan sisa hidupnya: mati atau bebas sebagai orang merdeka.

Tapi –seperti kata orang bahwa  hukum pun bisa ‘bengkok’ tergantung duit dan kekuasaan—maka Atticus pun harus menelan frustrasi, ketika ternyata sekalipun menang, dia tetap dibelenggu dalam kekuasaan majikan dan kaum polisi busuk Romawi.

Drama percintaan budak Milo dengan Cassia dibalut benang merah yakni marahnya Gunung Visuvius hingga menenggelamkan kota Pompeii dan kisah bagaimana para budak gladiator merenggang nyawa di panggung amphitheatrum

Mati secara terhormat bagi Atticus adalah memenangkan duel maut melawan perwira Romawi bernama Proculus (Sasha Roiz) di panggung amphitheatrum yang telah koyak oleh gempa vulkanik Gunung Visuvius. Sementara, mati terhormat bagi Milo dan Cassia adalah membiarkan mereka asyik berciuman sebelum akhirnya dilumat habis oleh gempuran lahar Visuvius.

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.