Polisi Tidur

Ayat bacaan: Filipi 2:3
================
“…tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”

kepentingan orang banyak, kepentingan yang lebih besar

Tinggal di pinggiran kota yang dekat dengan perkampungan bagi saya pribadi lebih menyenangkan ketimbang di tengah kota. Suasananya lebih hangat, orang-orangnya lebih cenderung lebih bersahabat dan udaranya pun relatif lebih segar. Bagi saya yang hidup dengan menulis, suasana dan kenyamanan tempat tinggal sangatlah berpengaruh besar terhadap pekerjaan saya. Di sisi lain, daerah perbukitan membuat mobil cepat rusak karena terus dipaksa naik turun bukit dengan kondisi jalan yang jelek. Apalagi banyaknya “polisi tidur” yang terasa sangat menjengkelkan, terutama yang lebih dari satu, berdekatan dan tinggi pula. Kaki-kaki mobil dan ban selalu menjadi korban karenanya. Mengapa harus ada “polisi tidur” yang menjengkelkan ini? Jelas, karena ada banyak mobil yang mengebut meski mereka sudah memasuki daerah perkampungan. Mereka tidak memikirkan anak-anak yang berkeliaran bebas di pinggir jalan, sehingga resiko kecelakaan sangatlah tinggi apabila jalan dibuat lancar tanpa sesuatu yang bisa memaksa pengemudi untuk melambatkan laju kendaraannya. Seandainya tidak ada yang ngebut, tentu tidak perlu ada “polisi tidur”. Untuk kepentingan yang lebih besar yaitu keselamatan nyawa orang lain, saya harus rela mengalah dan “menikmati” jalan yang sangat tidak bersahabat terhadap kondisi mobil ini.

Dari “polisi tidur” ini kita bisa belajar untuk melatih diri kita agar mau mengutamakan kepentingan orang lain atau kepentingan yang lebih besar ketimbang kepentingan diri kita sendiri. Daud adalah seorang raja yang bijaksana yang berpikir seperti itu. Kalau kita lihat hari ini dimana orang-orang yang berkuasa hanya mau mementingkan diri sendiri atau kelompoknya saja, bahkan tega mengorbankan orang lain demi jabatan mereka, Daud sama sekali jauh dari itu. Kita bisa melihat ketika Daud memutuskan untuk pergi meninggalkan Yerusalem karena dia dibenci dan akan dibunuh oleh Saul. Kalau Daud mau, dia tentu bisa tetap di Yerusalem karena pengikutnya pun tidaklah sedikit. Daud bisa saja terus bertahan dan melawan Saul. Tetapi demi kepentingan yang besar, untuk menghindari korban yang jatuh akibat perang saudara, Daud memutuskan mengalah dan pergi keluar dari Yerusalem. Belakangan ketika anaknya Absalom makar dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja. Absalom berhasil mempengaruhi banyak orang untuk menyeberang kepadanya, tetapi Daud pun masih punya banyak pengikut. Apabila Daud tetap disana, perang saudara pun tidak akan bisa dihindari. Berapa banyak korban yang akan jatuh dari kedua pihak, yang notabene sama-sama rakyat Yerusalem sendiri? Daud tidak menginginkan itu. Maka ia pun mengalah dengan pergi keluar demi kepentingan rakyat dan bangsa yang ia kasihi. Daud tidak mengutamakan kepentingannya sendiri, tetapi ia lebih mendahulukan kepentingan yang lebih besar, kepentingan orang lain. Untuk itu Daud harus mengorbankan tahtanya, harta, harga diri dan kenyamanannya, tetapi itu ia lakukan karena ada kepentingan yang jauh lebih besar ketimbang dirinya sendiri.

Yesus berkata: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Sesungguhnya ini sangatlah benar. Kedagingan akan selalu menginginkan kenikmatan dan kenyamanannya. Dari sanalah kita bisa melakukan banyak kejahatan, seperti yang dijabarkan Paulus dalam surat Galatia. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” (Galatia 5:19-21a). Lihatlah rupa-rupa kejahatan yang bisa timbul sebagai dampak dari tunduknya kita kepada keinginan daging. Sementara dalam ayat berikutnya Paulus menunjukkan buah Roh akan menghasilkan hal-hal sebaliknya (ay 22-23). Bukan salah jika kita ingin yang terbaik bagi diri kita, tetapi kita harus siap mengorbankan itu semua apabila ada kepentingan lain yang jauh lebih besar. Firman Tuhan mengingatkan hal itu dalam banyak kesempatan. Kita diminta agar kita sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. (Filipi 2:3). Ayat selanjutnya lalu berkata: “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (ay 4). Paulus menghadapi banyak situasi sulit dan resiko dalam pelayanannya. Jika ia mementingkan dirinya sendiri, tentu akan lebih nyaman jika ia tidak perlu repot-repot mengerjakan pelayanan. Tetapi ia memberikan segalanya bahkan nyawanya sendiri demi kepentingan yang lebih besar, yaitu demi keselamatan orang banyak. “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. (1 Korintus 10:33). Paulus juga mengajarkan agar kita mempergunakan karunia Roh Kudus yang berbeda-beda pada masing-masing orang demi kepentingan bersama dan bukan demi kebanggaan atau popularitas diri sendiri. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1 Korintus 12:7).

Baik dalam kehidupan kita, pekerjaan, keluarga, pertemanan atau pelayanan, kita harus bisa meneladani Daud, Paulus dan lain-lain bahkan Yesus sendiri untuk mengutamakan kepentingan yang lebih besar ketimbang untuk diri sendiri. Sebuah sikap kerendahan hati yang mendahulukan kepentingan orang banyak dan mematikan ego dalam diri kita akan menjadi sebuah kesaksian tersendiri yang indah akan Kristus. Mungkin itu akan membuat kita menjadi tidak nyaman, mungkin merepotkan, menjengkelkan bahkan merugikan, tetapi untuk sebuah kepentingan yang lebih besar, demi kepentingan orang banyak, mengapa tidak? Akan ada banyak “polisi tidur” yang menyusahkan, janganlah bersungut-sungut tetapi tetaplah jalani itu dengan sukacita karena itu artinya kita memiliki kasih dalam diri kita yang mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentigan diri sendiri.

Mendahulukan kepentingan orang lain adalah sebuah keharusan bagi anak-anak Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: