Pilgub DKI: Faisal-Biem Simbol Perlawanan terhadap Parpol

PENGAMAT  sosiologi politik dari Universitas Gajah Mada Arie Djito menilai pasangan cagub-cawagub Faisal Basri-Biem Benyamin merupakan simbol perlawanan masyarakat yang kecewa terhadap kinerja partai politik.

“Karena mereka dari independen, mereka berpeluang besar untuk mendobrak pragmatisme dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini,” kata Arie di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu.

Pragmatisme yang dimaksudkan Arie itu misalnya berupa mobilisasi masyarakat dengan cara membagi-bagikan sembako atau uang ketika masa kampanye yang secara umum dilakukan para peserta pada hampir setiap pemilihan umum apapun.

“Tetapi Faisal Basri menggunakan logika. Baginya warga harus dijemput bukan diperintah ke satu tempat tertentu dalam kampanye, melainkan didatangi secara personal,” kata Arie.

Pendekatan kampanye model itu, kata Arie, merupakan bentuk dari humanisme politik, karena sang calon hadir di tengah-tengah warga, bukan seperti kampanye pada umumnya saat ini.

“Sentuhan sapaan dan pendidikan politik kepada warga itu merupakan kapitalisasi simbolik yang tidak dimiliki calon lain,” katanya.

Menurut Arie, hal lain yang menjadi modal Faisal Basri adalah figurnya yang terkenal sebagai tokoh antikorupsi, karena secara langsung dia berhadapan dengan para kandidat usungan partai politik yang membawa beban kebobrokan dari institusi partai politik.

“Kekecewaan warga terhadap institusi partai politik yang menjadi tren belakangan ini harus dikapitalisasi dengan baik oleh Faisal-Biem dan timnya, dengan begitu mereka bisa menembus jantung para pemilih yang umumnya berasal dari kelas menengah itu,” kata Arie.

Dengan mengajak pemilih kelas menengah itu, kata Arie, Faisal-Biem bisa kemudian menggunakan mereka sebagai motor untuk meningkatkan elektabilitas dan partisipasi guna menyentuh masyarakat kelas bawah, selain melanjutkan sosialisasi yang humanis.

“Jakarta akan menyesal kalau pragmatisme dalam perhelatan politik semacam ini dibiarkan menang terus. Selama ini masyarakat kita sering mencaci maki partai lewat berbagai forum dan media, tetapi tidak ada aksinya,” katanya.

Untuk itu, Arie menilai jika kemenangan akan menjadi milik pasangan independen Faisal-Biem, maka prosesnya akan dikutip dalam sejarah sebagai contoh yang mendukung kemajuan demokrasi di Indonesia.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.