Pikiran Positif (1)

 Ayat bacaan: Ayub 3:25
=================
“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”

pikiran positif

Bersahabat atau tidakkah dunia ini bagi anda? Tanyakan kepada banyak orang, maka jawaban akan beragam. Ada yang menganggap ya, ada yang kadang-kadang, mungkin, tidak tahu atau akan menjawab sama sekali tidak. Ada banyak pula orang yang akan menyerahkan jawabannya tergantung situasi yang sedang mereka hadapi dari hari ke hari. Kadang bersahabat, kadang bermusuhan. Mereka mengira bahwa baik tidaknya perjalanan hidup ini hanyalah tergantung dari kehidupan yang mereka jalani. Biasanya orang yang berpikir seperti ini akan sangat mudah menyalahkan keadaan atau hal-hal lainnya, seperti orang lain, diri sendiri bahkan Tuhan. Kekecewaan akan timbul, mungkin pula berujung kepada trauma atau kepahitan, dan mereka pun bisa berhenti berjuang. Saya mengenal beberapa orang dengan pola pemikiran seperti ini. Bahkan saya sendiri pun dulu memiliki pandangan yang sama. Tetapi belakangan setelah saya bertobat, saya mulai mempelajari banyak hal mengenai hal ini dari sudut pandang Tuhan seperti yang banyak dicatat dalam Alkitab. Saya akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua itu bukanlah tergantung dari keadaan hari per hari yang kita jalani, tetapi tergantung dari pikiran kita. Apakah pikiran kita selaras dan taat kepada Tuhan atau tidak, itu akan menuju pada salah satu kutub, apakah kita berada di kutub positive thinking yang penuh optimisme atau kita terus berada pada sisi negative thinking yang sarat dengan pesimisme.

Alkitab sebenarnya sudah berulang kali menyatakan ini dalam banyak kesempatan. Lihatlah ayat pembuka kitab Mazmur. Disini Firman Tuhan sudah mengingatkan kita untuk terus mendasarkan hidup kita secara patuh kepada Firman Tuhan. Jika itu dilakukan, maka Alkitab berkata: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3). Kata berhasil tentu kedengarannya sangat indah, bahkan bisa jadi terlalu muluk buat sebagian orang. Jika Tuhan menjanjikan itu, mana buktinya? Bisa jadi itu menjadi respon dari mereka yang merasa hidupnya masih jauh dari janji itu. Kita bisa mempertanyakan hal yang sama apabila kita terus memandang keberhasilan hanya dari sudut yang sangat sempit. Mengukurnya dari pendapatan, status, karir atau ukuran-ukuran lain seperti yang dijadikan acuan oleh dunia. Tetapi ingatlah bahwa keberhasilan sesungguhnya harus kita lihat dari sudut pandang yang jauh lebih besar daripada itu. Saya hari ini masih jauh dari apa yang disebut orang sebagai kaya raya. Berbagai perasaan kecewa terhadap orang-orang yang tidak menghargai jerih payah saya pun saya rasakan, seperti halnya anda mungkin pernah juga merasakannya. Tapi saya menolak untuk patah semangat apalagi kehilangan sukacita. Bagi saya, ketika saya masih sanggup meningkatkan performa saya dalam bekerja, dalam status sebagai kepala rumah tangga, dalam bersosialisasi, ketika saya masih memiliki tenaga, kesehatan dan masih kuat untuk berkarya, ketika peluang-peluang masih sangat banyak di depan mata, dan terlebih ketika saya merasakan kehadiran Tuhan terus meneguhkan dalam setiap langkah, bukankah itu semua merupakan sebuah keberhasilan juga? Pencapaian-pencapaian sesungguhnya tetap ada, tetapi seringkali itu luput dari pandangan kita karena kita hanya menilai keberhasilan secara sempit menurut tolok ukur kita sendiri. Taruhlah penghasilan secara materi belum juga memadai, tetapi perkembangan-perkembangan kecil yang ada dalam usaha kita, bukankah itu pun merupakan keberhasilan? Atau setidaknya kita masih punya kesempatan untuk berjuang, itupun merupakan sesuatu yang seharusnya kita syukuri.

Yusuf bisa menjadi contoh nyata bagaimana pandangan dunia sangat berbeda dari pandangannya yang selaras dengan pandangan Tuhan. Perjalanan hidup Yusuf tidaklah mulus. Berbagai penderitaan harus ia hadapi sebelum ia menggenapi rencana Tuhan baginya. Di mata dunia, tidak satupun hal baik yang ia alami. Ia hampir mati dijebloskan ke sumur, ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri, ia difitnah istri majikannya, ia dipenjara bertahun-tahun. Apa yang bagus dari rangkaian hal itu? Dunia akan mengatakan, tidak ada. Tetapi perhatikan apa kata Alkitab: “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya..” (Kejadian 39:2). Meski berada dalam situasi sulit, keberhasilan demi keberhasilan “kecil” terus ada bersamanya, dan itu karena Tuhan senantiasa menyertainya. Itu bisa tidak terlihat oleh kita ketika kita terlalu sibuk memandang hanya kepada permasalahan dan hanya mengakui keberhasilan menurut apa yang kita pikirkan. Yusuf tidak memandang seperti itu. Kita bisa melihat imannya yang sanggup membuatnya terus berjalan tanpa putus asa meski situasi secara umum tidak kondusif.

Berulang kali di dalam Alkitab kita menjumpai kata-kata seperti: “Jadilah seperti perkataanmu” atau yang senada dengan itu. Lihat contohnya ketika bangsa Mesir terkena tulah katak. Bayangkan seluruh negeri dipenuhi jutaan atau mungkin milyaran ekor katak, terserak dimana-mana akibat kerasnya hati Firaun. Ia pun memanggil Musa untuk memohon kepada Tuhan agar semua katak-katak itu lenyap. Musa sesungguhnya telah memberi kesempatan untuk melenyapkan semuanya saat itu juga. “Kata Musa kepada Firaun: “Silakanlah tuanku katakan kepadaku, bila aku akan berdoa untukmu, untuk pegawaimu dan rakyatmu, supaya katak-katak itu dilenyapkan dari padamu dan dari rumah-rumahmu, dan hanya tinggal di sungai Nil saja.” (ay 9). Tapi apa kata Firaun? “Katanya: “Besok.” (ay 10a). Kita tidak tahu mengapa ia malah memilih untuk menunggu sehari lagi bersama lautan katak itu ketimbang sesegera mungkin melenyapkan semuanya saat diberi kesempatan. Tapi itulah jawabannya. Dan lihatlah reaksi Musa selanjutnya. “Lalu kata Musa: Jadilah seperti katamu itu, supaya tuanku mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti TUHAN, Allah kami.” (ay 10). Jadilah seperti katamu itu, demikianlah yang terjadi. Dalam kesempatan lain kita pun kembali menjumpai kata-kata ini dalam kesempatan yang berbeda. Seorang perwira tinggi Roma yang menjumpai Yesus di Kapernaum datang meminta tolong kepadaNya untuk kesembuhan hambanya yang tengah terbaring di rumah. Ia percaya bahwa meski Yesus tidak menumpangkan tanganNya secara langsung menyentuh sang hamba, hambanya itu akan sembuh jika Tuhan menyatakan itu dari jauh. Dan tepatnya itulah yang terjadi. “Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.” (Matius 8:13)…(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah tentang berpikir positif
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: