Pijar Vatikan II: RIP, Satu Generasi Hilang (22B)

< ![endif]-->

SAYANG, generasi “remaja sekitar Soempah Pemoeda” itu sudah berguguran. Budhe adalah anak generasinya. Anak generasi sezaman dengan IJ Kasimo, Soegija, Soekoto, Frans Seda. Sedikit di atas angkatan Gus Dur dan Romo Mangun.

Tiba-tiba, berbarengan dengan meninggalnya Budhe, selain kangen Budhe, saya jadi kangen pada Gus Dur, Romo Mangun dan Mgr. Leo Soekoto SJ.

Saya beruntung, pernah cukup intensif bertemu, runtang-runtung dan menimba ilmu hidup dari ketiganya. Gaya ketiga tokoh besar ini, dalam satu dan lain cara, muncul juga pada Budhe Marto. Apakah karena di zamannya, mereka mendapat “pendidikan kemanusiaan tertentu” yang bermutu sehingga mereka juga bermutu?

Saya tidak tahu.

Yang pasti, generasi Budhe dan generasi yang telah melahirkan orang-orang hebat itu, cepat atau lambat akan segera berlalu. Saksi hidup sejarah generasi ini tinggal beberapa saja. Bisa dihitung dengan jari. Generasi ini akan segera pergi dan akan tinggal kenangan. Beberapa jadi mithos. Beberapa difilmkan, dibuatkan buku dan dibuatkan patung.

Sementara kita yang masih hidup sekarang ini, tinggal menyaksikan dan merasakan generasi yang sekarang ini adalah generasi yang tak lagi luwes, tak lagi enak diajak gaul, tidak mudah menemukan ketulusannya.

Dan nyatanya: tak terlalu tinggi menjunjung kebenaran, kejujuran dan kebaikan.

Sumpah Pemuda Kongres Pemuda

Sudah agak lama, Bapak-Ibu kami di rumah Muntilan, pada hari Natal, tidak lagi dikunjungi tamu  yang beragama lain. Tiba-tiba dalam paguyuban trah keluarga kami, terasa ada “kotak-kotak”: mereka yang berbusana Muslim dan mereka yang tidak.

Tiba-tiba kami merasa ada yang hilang, ketika pada resepsi perkawinan, ada saudari kami yang tidak mau disalami karena mereka tahu kami ini orang Kristen.

Minggu lalu, di Bandung, saya melihat spanduk besar-besar acara Buka Bersama dengan anak yatim khusus untuk para “Hijabers”. Makin lama, karena hanya ada acara khusus untuk kelompok ini, kelompok itu, suasana “kotak-kotak” yang pernah ditengarai Romo Mangun sebagai gaya “divide et  impera” zaman kolonial itu, akan semakin marak berlangsung.

Sosok generasi 20-an, generasinya Budhe Marto, Soekoto, Kasimo, Frans Seda, Soekarno dsb. yang memroduksi orang-orang yang pluralis, pikiran dan hidupnya lintas kelompok bahkan mengedepankan nasionalisme, dan memberi keteduhan, kini tinggal kenangan. Tiba-tiba kita jadi “gagap” kalau ada ada info pendirian gereja ditentang.

SARA

Kita jadi nggak ngerti, kok gampang sekali sekarang ini SARA dijadikan jualan Pilkada.

Kita tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa ketika Perda bernuansa syariat makin bertebaran di banyak kabupaten. Padahal bersama angkatan Seminari Mertoyudan kami 73-74 seperti Agus Tridiatno, Purwatma, Bambang Relianto, Joko Trimartanto, Hari Susanto, Lasdi, Wahyu Endrawan dsb, kami pernah gampang sekali diajak “ngamen” di Misa Kampus, dan bergaul dengan kelompok lintas agama di luar seminari.

Di acara Syawalan trah kakek saya yang tadi saya sebut, saya pernah mengajak Riyo Mursanto – Provinsial SJ kita sekarang, Joko Tri, Sugeng Wiyono dll untuk “ngamen” menyanyi lagu “Besame Mucho” dan lagunya Bimbo: “Rindu Kami Padamu ya Rosul”.

Jangan-jangan “level gaul” kita memang masih di tataran “bungkus” seremonial, belum menyentuh tataran yang paling mendalam. Jangan-jangan, ketulusan Budhe saya berkiprah begitu enak dengan siapa pun, cuma menjadi contoh yang enak ditonton tetapi sulit kami laksanakan.

Suasana “persaudaraan sejati” yang adem dan menyenangkan tiba-tiba sangat kami rindukan. Saya tidak tahu, apakah sekarang ini sebagian dari kita juga masih punya kerinduan yang sama. Mungkin sepeninggal Budhe, suasana menyenangkan tanpa sekat itu, akan tinggal kerinduan. Akan menjadi harapan mewah. 

Sumpah Pemuda

Maklum saya lahir dan dibesarkan di kampung Balemulyo dekat Gereja Muntilan, yang 70% atau bahkan 80% penduduknya Katolik. Kalau tidak ada sosok Budhe Marto dalam keluarga kami, mungkin saya akan jadi orang Katolik yang sangat tekun beribadat dan menerima sakramen-sakramen gereja, tetapi terkungkung bagai “katak dalam tempurung”.

Macam orang Katolik di Italia saja.

Syukurlah  di antara teman-teman, yang seperti saya ini tidak banyak. Lebih banyak teman-teman kita yang hidup di lingkungan yang mayoritas tidak Katolik. Bahkan mungkin ada yang menikah dengan yang bukan Katolik. Anaknya ada yang pacaran atau sudah menikah dengan yang tidak Katolik. Dengan demikian, rekan-rekan kita itu beruntung dikaruniai kesempatan intensif menghayati perbedaan itu sebagai “rahmat”, sebagai kesempatan “menebar kasih”.

Istilah “menebar kasih” bahkan saya dapatkan dari seorang teman SMA Seminari kami yang sekarang ini menjadi seorang ustadz. Rekan kami yang menjadi Ustadz ini kapan itu mengirim sms: “Walaupun kita beda, tetapi kita tetap bersaudara yang selalu menebar kasih”.

Betul pak Ustadz: “menebar kasih itu kuncinya!

Teman-teman, sumangga sekedar “nguda rasa” ini disambung (kalau dirasa perlu dan berguna). Budhe saya yang luar biasa ini sudah dipanggil Tuhan. Dik Rini, adik saya yang rajin menengok Budhe ke rumah sakit dan menunggui saat meninggalnya, bilang begini: “Budhe sudah siap lahir-batin sowan Gusti.

Sampai meninggalnya, kesadarannya masih bagus. Kepada siapa pun yang datang, Budhe njaluk ngapura, minta maaf.

Budhe bilang: “Aku wis dipethuk wong loro bagus ngagem sarwo putih. Aku diambungi. Aku manut”! (Saya sudah dijemput 2 pria tampan dengan pakaian serba putih. Saya diciumi. Saya ikut saja). Dan sesudah meninggal, jenasah Budhe nampak sangat bagus.

Pules seperti orang tidur nyenyak.

Kami semua yakin, Budhe akan mendapat tempat yang baik di sisiNya. Amal ibadahnya sudah banyak. Di mata kami, beliau orang yang baik, benar dan hebat. Bagi kami, tidak kalah dengan Kasimo atau Soegijo, Budhe adalah orang besar.

Selama 65 tahun lebih, Budhe menjanda dan menjadi menjadi single parent. Budhe tetap setia dan tidak menikah lagi. Contoh kesetiaannya sangat inspiratif bagi kami yang membangun keluarga. Budhe adalah salah satu produk generasinya.

Generasi yang sebentar lagi akan hilang. Apakah generasi kita, generasi kita ini, akan bisa menghasilkan pribadi-pribadi bermutu yang bisa memancarkan kualitas hidup dan kualitas kepribadian seperti generasi Budhe saya dan generasinya Mgr. Leo Soekoto itu?

Generasi Soekarno, Kasimo, Soegijo, Soekoto, Frans Seda dan Budhe itu lahir ketika Konsili Vatikan II belum dilaksanakan. Tetapi mereka terdidik dalam semangat “kebangkitan” Konsili Vatikan II, ketika gereja yang “sumpek” ini 50 tahun lalu membuka lebar-lebar pintunya agar “angin segar masuk”.

Saya yakin, generasi yang hebat lahir dari pendidikan (formatio) yang hebat. Generasi yang hebat juga lahir sebagai anak zaman yang memang tahu berjuang demi “bonum commune”, kesejahteraan umum, bukan kepentingan kotak-kotak agama dan kelompoknya.

Akankah generasi emas “Soempah Pemoeda” yang membuat negara ini merdeka akan lahir lagi ? Akankah generasi 2028, 2045 dan 2066 yang dicita-citakan Romo Mangun sebagai generasi harapan bangsa, akan terwujud?

Mari kita bertanya kepada rumput yang bergoyang. (Selesai)

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.