Pijar Vatikan II: RIP, Satu Generasi Hilang (22A)

< ![endif]-->

BEBERAPA waktu yang lalu, kakak kandung perempuan ayah saya Ny.Wasilah Martosudiro meninggal dunia di RS Sarjito Yogyakarta. Budhé meninggal pada usia 92 tahun. Sampai meninggalnya, beliau bicara dan pikirannya masih jernih. Jantung, hati, ginjalnya sebenarnya masih oke.

Beliau meninggal di ruang ICU karena kanker usus. Kata sepupu saya yang jadi dokter di RS Sarjito : ini penyakit bawaan dinasti keluarga simbah. mBah Putri dan anaknya Budhé Marto, juga meninggal karena kanker usus. Mungkin karena ini juga, 2 dari 3 dokter cucu dan cicitnya simbah, termotivasi mengambil spesialis penyakit dalam dan usus.

Walau kami merelakan karena Tuhan sudah memberi umur begitu panjang pada Budhé, kami sebenarnya sangat kehilangan.

Kakek nenek saya dikaruniai 8 anak: 4 laki-laki 4 perempuan. Budhé Marto anak tertua. Bapak saya anak kedua.

Dari 8 anak itu, 3 jadi Katolik, yang lain tetap Islam. Bapak Katolik, Budhe Marto Islam.

Semuanya menjalankan agamanya dengan taat.

Tante saya yang paling kecil, lulusan madrasah dan menjadi guru agama Islam sampai pensiun. mBah Kakung, menyekolahkan anak-anaknya ke “Sekolah Belanda” di Muntilan. Zaman itu, hanya di Muntilan itu ada sekolah yang dianggap baik. Budhe disekolahkan di Sekolah Kepandaian Putri. Budhe sekelas dengan Ambar Soelaksmi (Suster Jacobi), kakak perempuan Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja.

Sementara Bapak disekolahkan ke “Normaalschool” lalu “Kweekschool” yang sekarang jadi SMU Van Lith itu.  Bapak sekelas dengan Liberti Manik pencipta lagu “Satoe Noesa Satoe Bangsa” itu dan sekelas di atas Pak Frans Seda.

Meskipun Budhe pemeluk agama Islam yang taat dan sudah naik haji, beliau tidak pernah pakai jilbab. Paling pakai kerudung kalau ada acara tertentu. Waktu kecil, saya sering melihat Budhe membaca Kitab Kuning tulisan Arab. Meski rajin sholat 5 waktu, kalau berdoa Budhe selalu memakai bahasa Jawa halus. Saya belum pernah mendengar, Budhe ngutip ayat bahasa Arab. Setiap Natal tiba, minimal selama sepekan lamanya Budhe pasti menginap di rumah kami.

Gereja Muntilan romo dan siswanya

Gereja Muntilan tembok atas depan

Kalau kami pasang lilin dan berdoa di depan gua Natal, Budhe ikut berdoa. Malah beberapa kali beliau menyanyikan lagu Natal dalam bahasa Belanda. Bapak Cuma “bergumam” mengikutinya. Doa Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan dalam bahasa Belanda juga masih fasih diucapkan oleh Budhe. Tidak ada satu kata pun yang terlupa.

Meskipun Islam, pendidikan Katolik yang diterima Budhe, setidaknya dalam berdoa Bapa Kami dan Salam Maria, masih tertanam dalam. Kalau saya atau adik saya mempersembahkan misa di rumah, entah dalam misa 40 atau 50 tahun perkawinan Bapak Ibu, misa perkawinan adik-adik saya, misa arwah saudara dsb, Budhe selalu datang sejak awal dan duduk di depan sendiri. Para tamu sudah tidak heran menyaksikan wanita berkudung di depan altar, karena itu pasti kakak ayah kandung saya.

Budhe masih ingat ketika salaman dan ngobrol dengan Mgr. Soegija sehabis beliau merayakan misa di Gereja Muntilan. Budhe juga masih suka cerita, bagaimana Suster-Suster dan Romo-Romo Belanda dulu sangat disiplin dan sungguh-sungguh dalam mengajari anak-anak “priboemi” untuk maju.

Waktu zaman “Clash”, rumah kakek kami dibakar habis oleh tentara Belanda karena dikira menjadi tempat persembunyian gerilyawan. Budhe dan Bapak ikut mengungsi. Mereka jadi punya kenangan buruk dengan tentara-tentara Belanda itu. Para Suster dan Romo-Romo Belanda yang baik-baik itu, berhasil membalikkan trauma itu, bahwa tidak semua orang Belanda itu jahat. Rumah kakek dulu sering dikunjungi Romo Spekle SJ, Romo Paroki Boro zaman itu. Romo Spekle sering memberi pelajaran agama Katolik di rumah kakek.

Saya masih ingat, pada Pemilu tahun 1971 ketika masih ada Partai Katolik, Budhe nimbrung obrolan santai kakek, ayah  saya dan adik-adiknya. Bapak bilang mau nyoblos Partai Tesbeh.

mBah Kakung sebagai Lurah “keukeuh” nyoblos Banteng. Sementara Budhe tetep nyoblos Bola Dunia (NU).

Katanya : “Nadyan banteng dikalungi  tesbeh, ning kabeh kuwi rak diayomi donya” (maksudnya bola dunia lambang NU itu). Setelah mBah Kakung dan mBah Putri nggak ada, praktis semua urusan yang bersangkutan dengan keluarga besar kakek, ya komandannya Budhe itu. Semua saudara dan penduduk desa, mengakui dan menerima dengan sangat baik peran non formal Budhe sebagai “Ketua Besar” keluarga kami.

Urusan dan masalah apa pun diselesaikan dengan baik dan penuh damai. Meski orang-orang desa memanggil Budhe sebagai nDara Putri, tetapi mereka tahu Budhe bukan putri kraton yang duduk manis tinggal apa-apa dhawuh. Sejak kecil, sebagai orang desa, Budhe juga sudah biasa menanam padi, ani-ani dan ngiles: menginjak-injak batang padi.

Pada Lebaran nanti, keluarga besar kami mengadakan Syawalan bersama. Tradisi kumpul trah ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1970-an. Tiap tahun, anggota keluarga besar semakin bertambah. Tahun lalu, lebih 500 orang datang di acara Syawalan trah ini.

Kami sampai capek salaman dan memaksa diri tersenyum. Dengan tidak adanya Budhe, tiba-tiba saya sadar tidak ada lagi sosok pemersatu keluarga sehebat dan sekarisma Budhe. Saya jadi bertanya, apa yang membuat seseorang seperti Budhe menjadi “orang besar”?

Senioritas, mungkin iya. Budhe anak pertama kakek saya. Tetapi kok saya makin yakin, kebesaran seseorang itu ditentukan oleh kualitas hidup dan pribadinya. Keyakinan Jawa: “agama ageming aji” bagi kami yang mengenal Budhe, benar-benar terhayati. Antara “isi” dan “bungkus” cocok, asli, khas, unik, tulus dan cerdas ! Karena memang baik dan bermutu, maka kata-kata dan tindakan orang besar itu jadi: “enak ditonton dan perlu”. (Bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.