Pijar Vatikan II: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Belum Pernah ke Vatikan (25F)

PRESIDEN SBY terpilih menjadi Presiden RI ke-6 dalam dua kali masa jabatan pada Pemilu Presiden tahun 2004 dan 2009. SBY terpilih dengan kemenangan mutlak satu putaran, mengungguli calon presiden lainnya. Ia juga mengungguli Megawati, sang pencetus sistem pemilihan Presiden secara langsung di Indonesia.

Selama dua kali masa jabatannya, SBY tidak pernah mengunjungi Vatikan dan bertemu Paus. Untuk umat Katolik, fakta ini sudah berbicara cukup banyak.

Penghargaan kontroversial untuk SBY

Bulan Mei 2013, Presiden SBY menerima penghargaan negarawan dunia 2013 atau “World Statesman Award. Penghargaan itu diberikan oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antar kepercayaan, yang berbasis di New York. Penghargaan diberikan di sela-sela kunjungan Presiden ke AS pada akhir Mei 2013.

Seperti kita tahu, penghargaan ini mendapat protes keras dari pelbagai kalangan, terutama tokoh-tokoh yang sangat mendukung pluralisme dan hak-hak minoritas di Indonesia. Romo Franz Magnis Suseno SJ, bahkan menyampaikan protes atas rencana pemberian penghargaan kepada SBY ini, dengan menulis surat protes langsung ke ACF. Surat Romo Magnis ini tersebar ke mana-mana dan mendapat dukungan di mana-mana. Surat protes Romo Magnis ini, pada awalnya diposting oleh harian Kompas online di sini.

Dalam sebuah wawancara dengan Harian Kompas, Romo Magnis mengatakan begini: “Presiden mau diberi penghargaan saya tidak ada komentar. Tapi kalau disebut penghargaan karena jasanya memajukan toleransi, saya sangat keberatan. Selama hampir 10 tahun toleransi keagamaan di Indonesia berkurang.”

SBY dan penghargaan di New York

Presiden SBY tampak sumringah usai menerima penghargaan 2013 World Statesman Award dari sebuah lembaga pengkajian kerukunan beragama di New York. Namun, di Indonesia penghargaan itu malah menuai kontroversi. (Ist)

Dalam suratnya, Romo Magnis menulis, penghargaan itu hanya akan membuat malu ACF. Menurut Magnis, selama 8,5 tahun kepemimpinan Presiden Yudhoyono, kaum minoritas Indonesia justru berada dalam situasi tertekan. Presiden bahkan tidak pernah memberikan seruan sepatah kata pun kepada rakyatnya untuk menghormati hak-hak kaum minoritas.

SBY sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya. SBY mengakhiri kepresidenannya dengan kekalahan telak partai pendukungnya Demokrat pada Pileg beberapa pekan lalu. Apakah kekalahan ini juga terjadi karena Presiden SBY memang tidak pro aktif mendukung hak-hak kaum minoritas seperti yang diprotes Romo Magnis sehingga kaum minoritas tidak memilih partai Demokrat?

Mungkin, walau itu cuma salah satu faktor penentu anjloknya perolehan suara Partai Demokrat! Yang pasti, dalam fokus tulisan ini: dalam 2 masa pemerintahannya, SBY tidak pernah datang ke Vatikan ketemu Paus dan tidak memerlukan seorang Paus datang ke Indonesia.

Catatan lama

Jadi, haruskah Presiden Indonesia mendatang baik-baik dengan Paus?

Dari data-data dan catatan pertemuan Presiden Indonesia dengan Paus, sudah sangat jelas: juaranya adalah Presiden Soekarno. Presiden RI pertama ini datang ke Vatikan dan ketemu Paus sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 8 tahun. Ia juga bertemu dengan 3 Paus! Saya rasa rekor ini tidak akan pernah tertandingi oleh Presiden Indonesia siapa pun dan kapan pun.

Yang juga menggembirakan, walau masa pemerintahannya singkat, Gus Dur dan Megawati mempunyai “hati dan perhatian khusus” kepada Paus Yohanes Paulus II sehingga mereka datang ke Vatikan. Keduanya juga mendahulukan kunjungannya kepada Paus sebelum mengadakan kunjungan kerja ke pemimpin Italia, ke markas FAO atau ke negara lain. Memang, kalau sudah menyangkut “hati”, orang Jakarta bilang: “Kita jadi susah ngomong”.

Pres. Soekarno, Mgr. Soegijapranata dan Megawati Bahwa Presiden Soekarno sungguh “punya hati” dengan Mgr.Soegijopranoto dan sangat dekat dengan Gereja Katolik, kita bisa mengecek kepada kisah-kisah yang direkam dalam banyak buku biografi dan pelbagai dokumentasi.

Misalnya saja, dalam buku “Biografi Romo Kanjeng Soegijo dikisahkan bahwa pada akhir November 1946, Soekarno-Hatta memindahkan pusat pemerintahan barunya dari Jakarta ke Yogyakarta. Sebagai ungkapan sikap nasionalisme dan dukungan terhadap pemerintahan Dwitunggal Soekarno-Hatta, sejak 15 Februari 1947 Romo Kanjeng juga memindahkan kantor Vikariat Apostoliknya dari Gereja Katedral Semarang ke Gereja Bintaran.

Mgr_Soegijapranata dan Presiden Sukarno

Presiden Soekarno bersama para tokoh penting Gereja Katolik Indonesia saat itu: Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dari Vikariat Apostolik Semarang, Uskup Jakarta Mgr. Willekens SJ, pendiri Partai Katolik Ignatius Joseph Kasimo yang juga pahlawan nasional. (Ist)

Di kompleks Gereja Bintaran yang terletak di tepi timur Kali Code, Romo Kanjeng pernah menyembunyikan dan memberi tempat mengungsi Ibu Negara Fatmawat, dari kejaran serdadu Belanda. Kala itu, Soekarno lagi diasingkan ke Pulau Bangka. Menurut biografi itu, Mgr.Soegijo memberikan tumpangan karena Fatmawati baru saja melahirkan. Bayi yang lahir pada tanggal 23 Januari 1947 di Kampung Ledok Ratmakan, tepi barat Kali Code itu, dinamai Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri yang akan dikenal sebagai Megawati Soekarno Putri.

Zaman susah di tengah berkecamuknya situasi perang, rupanya mendekatkan hubungan Romo Kanjeng dengan keluarga Presiden Pertama Republik Indonesia. Bung Karno pernah menghadiahi Romo Kanjeng sebuah repro lukisan “Heilige Maagd” atau Maria Bunda Allah, karya perupa Italia terkenal.

Dalam surat pengantar yang dibuat di Yogyakarta tertanggal 10 Agustus 1948, Bung Karno menulis: “… Sekarang saya bergembira hati dapat menghadiahkan lukisan itu kepada Yang Mulia, sebagai tanda penghargaan saya kepada golongan Roma Katolik di Indonesia. Moga-moga golongan Roma Katolik tetap sejahtera dalam Republik.”

Kedekatan Soekarno dengan umat Katolik atau Kristen, juga dikonfirmasi oleh Iwan Satyanegara Kamah. Tentang hal ini, Iwan menulis pada Citizen Journalism dengan judul yang agak provokatif “Soekarno Loves Jesus Christ”.

Ibu Negara Fatmawati terlihat melayat saat berlangsung pemakaman Mgr. Soegijapranata SJ di Taman Makam Pahlawan di Semarang

Ibu Negara Fatmawati terlihat melayat saat berlangsung pemakaman Mgr. Soegijapranata SJ di Taman Makam Pahlawan di Semarang. (Ist)

Pada tulisan itu, Iwan mengatakan: “bagi Soekarno, umat Katolik dan kristiani umumnya, bukan hal yang asing baginya. Jauh sebelum dia menjadi pemimpin, persinggungan dengan orang-orang Katolik sudah terjadi. Ketika dipenjara di Sukamiskin, Bandung, dia banyak membaca tulisan-tulisan (Romo) Van Lith, seorang tokoh Katolik yang meletakkan dasar ajaran katolik di tanah Jawa. Van Lith punya dua murid kesayangan, yang juga menjadi lebih dari sahabat bagi Soekarno, yaitu Mgr. Soegijapranata dan IJKasimo”.

Ketika dia dibuang ke Ende, Flores, Soekarno banyak memuji cara kerja dan sistem manajemen orang-orang Katolik di pulau itu, yang memang menjadi mayoritas. Ia kadang mengkritik keras cara berpikir orang-orang Islam masa itu, yang terlalu mengurusi aksesoris daripada esensi ajaran Islam, yang makin menjauhkan umat Islam dari modernitas. “Ambil apinya dari Islam, bukan abunya”, katanya mengkritik.

Soekarno saat itu menggagumi buku ‘Spirit of Islam’ karya Syed Amir dari London, yang isinya ingin membangunkan umat Islam dari tidur panjang.

Pada jaman kemerdekaan, keluarga Soekarno ternyata bersahabat baik dengan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, murid Romo van Lith SJ, tokoh yang dikaguminya. Sewaktu Belanda menyerang Ibukota Negara di Jogjakarta, 18 Desember 1948, istrinya dan anaknya Megawati yang baru lahir, disembunyikan oleh Mgr. Soegijapranata SJ di rumahnya di tepi barat Kali Code.

Ketika Mgr. Albertus Soegijapranata wafat di Belanda di tengah kesibukannya mengikuti Konsili Vatikan II, President Soekarno menjadikannya pahlawan nasional dan mengirim pesawat khusus untuk menjemput jenazahnya di Belanda. Istrinya Fatmawati meratapi kepergian Romo Kanjeng Soegijo, Uskup pribumi pertama itu dengan tangisan tiada henti.

“Kemesraan” hubungan Gereja Katolik Indonesia dan Presiden Indonesia di zaman Soekarno, sudah lewat setengah abad lebih.

President Soekarno dan Mgr. Soegijapranata dalam sebuah acara di Yogyakarta tahun 1950 (Courtesy of Harian Kedaulatan Rakyat)

President Soekarno dan Mgr. Soegijapranata dalam sebuah acara di Yogyakarta tahun 1950. (Courtesy of Harian Kedaulatan Rakyat)

Apakah Presiden mendatang akan juga baik (tidak usah mesra) dengan Paus dan Gereja Katolik di Indonesia seperti harapan teman saya itu Wait and see! Kita tidak usah berharap berlebihan.

Oleh seorang presiden atau bahkan oleh negara sekalipun, kehadiran kita “tidak dianggap” “yo ora opo-opo”. Istilah orang Surabaya “gak pathèken”.

Urusan Gereja dan negara dalam hal penting sama, yaitu manusia; tetapi dalam hal pokok berbeda: urusan akherat, bukan dunia.

Kita ingat saja yang dikatakan para Bapak Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Gaudium et Spes artikel 41:

“Manusia zaman sekarang sedang berusaha mengembangkan kepribadiannya secara lebih penuh dan semakin mengenal serta mau menegakkan hak-haknya. Adapun kepada Gereja dipercayakan untuk menyiarkan misteri Allah, yang merupakan tujuan terakhir manusia. Maka Gereja sekaligus menyingkapkan kepada manusia makna keberadaannya sendiri, dengan kata lain, kebenaran yang paling mendalam tentang manusia. Sesungguhnya Gereja menyadari, bahwa hanya Allah yang diabdinyalah, yang dapat memenuhi keinginan-keinginan hati manusia yang terdalam, dan tidak akan pernah mencapai kepuasan sepenuhnya dengan apa saja yang disajikan oleh dunia.”

Photo credit: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menerima penghargaan 2013 World Statesman Award di New York, namun malah menuai kontroversi di Tanahair karena SBY dituding tidak melindungi kelompok agama minoritas dari berbagai aksi kekerasan atas nama agama. (Courtesy of Antara News)

Tautan: 

Tautan berita:

  • http://politik.kompasiana.com/2013/05/16/-surat-romo-magnis-untuk-si-pemberi-award-sby-560871.html
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.