Pijar Vatikan II: Kesaksian Nyata Gereja Brasil di Piala Dunia 2014 (26E)

Patung Yesus by AP

IDENTITAS Katolik, yang menjadi ciri utama Brasil dan mayoritas penduduknya, pada event Piala Dunia ini syukurlah tidak cuma tampil dari “kesaksian permainan” dan kesaksian hidup para bintang sepakbola Brasil. Pemain sehebat Pele, Ronaldo, Ronaldinho, Neymar dll meski beragama katolik, tetapi tidak otomatis bisa dijadikan model pemain bola katolik yang ideal.

Banyak yang tahu, seperti penduduk di negara Katolik pada umumnya, kekatolikan para pemain bola umumnya “ya gitu-gitu aja”: cenderung menjadi katolik “napas” (Natalan dan Paskahan saja), katolik “semau gue”. Sudah tidak menjadi rahasia lagi kalau banyak pemain bola yang belum menikah secara katolik walau mereka sudah punya anak seperti Ronaldo dan Balotelli.

Gonta-ganti pasangan atau “kumpul kebo” dirasakan bukan hal yang “haram”. Kalau sudah menyangkut agama, warga Brasil lebih memperhatikan apa yang dibuat dan dikatakan Uskup, Imam, Biarawan-biarawati dan Pastor Paroki mereka. Sebelum Piala Dunia di Brasil dimulai, Gereja Katolik Brasil sudah “masuk lapangan” dengan kesaksian nyata yang mengesankan.

Jauh-jauh hari sebelum Piala Dunia Brasil dibuka pada 12 Juni 2014, Gereja Katolik Brasil sudah “turun ke lapangan”. Mgr. Anuar Battisti, Ketua Komisi Pastoral untuk Pariwisata dan Turisme dari Konferensi Waligereja Brasil, bekerjasama dengan Komisi “Justice and Peace” dan Komisi “Human Mobility”, sangat sibuk mengurus hampir sejuta orang yang akan datang ke Brasil menyaksikan Piala Dunia. Piala Dunia dan orang-orang yang akan berduyun-duyun nonton bola, pasti membawa dampak yang besar bagi Brasil.

Komisi “KWI”-nya Brasil di bawah Mgr.Battisti ini, diback-up langsung oleh 12 Keuskupan Agung di seluruh Brasil. Seperti kita tahu, “mega event” pertandingan-pertandingan Piala Dunia, dilaksanakan di pelbagai kota di Brasil, tidak hanya di Sao Paolo atau Rio de Janeiro saja.

Setiap Keuskupan di Brasil, mengerahkan lembaga dan organisasi mereka seperti lembaga “Popolo delle strade” (rakyat jalanan) dan “Donna marginalizzata” (perempuan terpinggirkan). Dalam wawancara dengan O Globo, TV dan media terbesar Brasil, Mgr.Battisti yang juga menjadi Uskup kota Maringá dari Propinsi Paranà, mengatakan dengan tegas: “Gereja Brasil tak bisa tutup mata dan berdiam diri dengan event sebesar Piala Dunia ini. Begitu banyak orang akan digusur dan terpinggirkan dengan pembangunan stadion-stadion baru atau renovasi stadion lama.

Negara menggelontorkan uang begitu banyak untuk mega proyek yang rawan penyelewengan. Gereja juga berfihak pada mereka yang memprotes penyelenggaraan Piala Dunia, yang dinilai tidak memperhatikan keadilan anggaran. Risiko meningkatnya pelacuran dan seks komersial di kalangan orang muda bahkan anak-anak juga menjadi realita yang sangat nyata dihadapi Brasil.

Dan jangan lupa, tambah Mgr.Battisti, sebagian besar mereka yang terlibat pada penyelenggaraan Piala Dunia dan dampaknya yang tadi saya sebut, adalah putera-puteri Gereja Katolik.”

Selama Piala Dunia, para biarawan dan biarawati, pengelola sekolah, Panti Asuhan dan rumah sakit, juga tak ketinggalan “turun lapangan”. Mereka giat bekerjasama dengan umat paroki dalam mempromosikan nilai-nilai katolik yaitu cinta kasih, kedamaian, persaudaraan sejati bagi mereka yang datang ke Brasil. Tak terhitung muda-mudi katolik yang di masa liburan sekolah ini menjadi relawan Piala Dunia. Begitu banyak paroki dan sekolah katolik bahkan keluarga-keluarga yang menyediakan lahan camping dan penginapan murah bagi para pendatang. Ini sangat membantu, karena setiap ada perhelatan besar seperti Piala Dunia ini, harga hotel dan penginapan melambung tinggi.

Karnaval

Gereja Brasil sangat menyadari, orang-orang yang datang pada Piala Dunia tidak “sebaik” orang-orang yang datang pada “Youth Day”, hari kaum muda se-dunia bersama Paus. Begitu banyak, bisnis “dugem” (dunia gemerlapan) marak pada Piala Dunia ini. Banyak orang ingin mengeduk untung dalam bisnis “kenikmatan”. Piala Dunia, diselenggarakan di negeri eksotik, yang akrab dengan pesta dan kenikmatan, maka lengkaplah surga dunia itu.

Brasil pun identik dengan karnaval, acara yang sangat dekat dengan dunia “kedagingan”. Kita tahu, karnaval berasal dari kata “carnivor”, yang arti harafiahnya adalah daging. Dan memang puncak karnaval Brasil selalu diselenggarakan pada hari Selasa, sehari sebelum hari Rabu Abu. Hari Selasa itu adalah hari terakhir orang Katolik makan daging, karena mulai Rabu Abu, orang Katolik pantang daging. Jadi sebelum pantang, puas-puaslah makan daging, atau dalam semangat karnaval: puas-puaslah menikmati kedagingan.

Karenanya itu pulalah maka di tempat lain, seperti di New Orleans, karnaval yang menjolkan “kedagingan” di hari Selasa itu disebut “Mardi Gras” – Selasa penuh lemak daging. Di Brasil, daging memang begitu mudah diidentikkan dengan kenikmatan daging.

Gerakan Thalita Kum

Tentu saja masalah “kedagingan” ini, tidak cuma terjadi pada Piala Dunia. Memanfaatkan momentum Piala Dunia, sekitar 250 biarawan biarawati dari pelbagai Ordo dan Konggregasi yang bekerja di Brasil, mendirikan gerakan “Tàlitha Kum”. Nama gerakan ini diambil dari ungkapan dalam bahasa Aram, yang dipakai Yesus ketika membangkitkan anak perempuan Yairus. “Hai anakku, Aku berkata kepadamu bangunlah !” (Mk 5:41).

Misi utama kelompok “Tàlitha Kum” ini adalah mengurus persoalan perbudakan modern terutama yang bentuknya adalah perdagangan manusia, pemaksaan pekerja anak-anak, dan prostitusi termasuk pedofili. Penjualan wanita dan anak-anak untuk dijadikan pekerja seks atau budak seks, menjadi masalah besar dan merupakan salah satu keprihatinan utama Gereja Katolik Brasil. Gerakan kelompok ini, didukung oleh ratusan awam dari pelbagai kalangan seperti pekerja sosial, dokter, perawat, pebisnis, ahli hukum bahkan tentara dan polisi. Para pekerja hotel, rumah makan, para pegawai sektor transportasi, yang “panen raya” selama Piala Dunia, juga tak ketinggalan mendukung gerakan “Tàlitha Kum” ini. Untuk mereka, martabat pribadi manusia lebih perlu diperjuangkan daripada gelar juara dunia sepakbola.

Gerakan “Tàlitha Kum” yang digagas para biarawan dan biarawati yang berkarya di Brasil ini, mendapat dukungan penuh Paus Fransiskus. Pada pelbagai kesempatan, termasuk ketika Paus merayakan Hari Orang Muda se-dunia di Rio de Janeiro baru-baru ini, Paus Fransiskus berkali-kali mengingatkan bahwa perdagangan manusia, pekerja anak-anak dan pelacuran anak, adalah tindakan kriminal yang sangat kejam, yang melukai manusia jaman ini.

Kata Paus, ini juga sangat mencederai gereja sebagai Tubuh Kristus. Gerakan Tàlitha Kum mencatat, setiap kali diadakan event besar seperti Piala Dunia, maka yang namanya turis seks, invasi para pekerja seksual dari segala jenis (termasuk permintaan pelacur anak-anak), meningkat dengan pesat. Tragisnya, anak-anak, remaja dan para wanita yang diperdagangkan ini, selalu saja bisa didapat dari wilayah-wilayah yang miskin dan berpendidikan rendah. Itulah wajah “favelas” (wilayah kumuh miskin) di Brasil. Kemiskinan, ketidakberdayaan, kejahatan jalanan dan prostitusi menjadi realitas yang nyata, kompleks dan sungguh mengenaskan. Ini yang membuat generasi muda “mati”. Gereja Brasil tak kenal lelah mengulurkan tangan dan seperti sabda Yesus kepada anak muda yang mati : “Tàlitha Kum !” Bangkitlah.

Menurut Kardinal Brasil Joao Braz de Aviz, yang saat ini menjadi Praefek Konggregasi Hidup Bakti di Kuria Vatikan, gerakan semacam “Tàlitha Kum” ini sudah menjadi gerakan internasional Ordo dan Kongregasi di manapun mereka berkarya. “Selama di sekitar kita ada penindasan, perbudakan, penghinaan pada martabat manusia, kemiskinan, dan segala perbudakan modern terhadap anak-anak, remaja, wanita, di situ gereja harus hadir”, ujar Kardinal de Aviz. Gerakan anti perbudaan dan penjualan manusia ini sejak tahun 2009 sudah menjadi gerakan internasional di kalangan para biarawan-biarawati.

Persatuan Para Superior Jendral (UISG) dan Organisasi Internasional untuk para migran (OIM) termasuk 2 lembaga penting yang mendukung gerakan ini. Antoinette C.Hurtado, Duta Besar Amerika Serikat untuk Tahta Suci di Roma, termasuk fihak yang ikut membeayai gerakan anti perdagangan manusia dan pekerja anak-anak tsb. Dalam usianya yang kelima, gerakan ini sudah memiliki 24 jejaring dalam pelbagai bentuk yang menyebar di 79 negara, didukung oleh lebih 800 Ordo dan 240 Konggregasi Katolik.

Selain masalah perdagangan manusia, pekerja cilik dan prostitusi, yang juga menjadi perhatian Konferensi Para Uskup Brasil adalah masalah anggaran. Menjelang dibukanya Piala Dunia, Konferensi Uskup Brasil mengeluarkan “kartu merah” kepada Pemerintah Brasil. “Kartu merah” itu brosur berwarna merah yang bentuknya seperti kartu merah yang dikantongi wasit pada pertandingan sepakbola. Pada brosur “kartu merah” ini, gereja Brasil mengkritik dengan tajam Pemerintah Brasil, yang pada Piala Dunia ini mendapat anggaran raksana jutaan dollar untuk membangun stadion, tetapi gagal meningkatkan pelayanan publik. Gereja menyatakan sikap ingin berpartisipasi aktif dalam debat publik kalau menyangkut pelayanan kesehatan, pendidikan, sanitasi dasar, transportasi dan keamanan.

Pada brosur “kartu merah” itu para Uskup Brasil juga mengkritik Pemerintah yang demi sebuah Piala Dunia, sering lalu seenaknya menggusur orang-orang yang tinggal di dekat stadion. Pembangunan yang sering mengabaikan lingkungan dan berfihak pada kepentingan perusahaan-perusahaan besar, juga dikecam oleh para Uskup. Diingatkan bahwa ukuran sukses Piala Dunia bukan pada berapa banyak uang didapat, bukan pada kontribusi bagi perekonomian setempat serta bukan pada keuntungan yang didapat para sponsor. Ukurannya adalah : “A victory for all will only be possible if some fundamental demands are met.”, kata para Uskup Brasil.

Dan tentu saja, pada brosur itu para Uskup Brasil juga menyoroti wisata seks, peningkatan prostitusi anak, yang akrab dengan “dugem” selama pesta Piala Dunia berlangsung.

Photo credit: Patung Yesus Sang Penebus di Brassil  (Ilustrasi/Associated Press)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.