Pijar Vatikan II: Kapan Ada Kardinal Baru dari Indonesia (24C)

< ![endif]-->

HARI Sabtu, 22 Februari 2014 yang lalu, Paus Fransiskus telah menunjuk 19 Kardinal baru dari 12 negara. Dari 19 Kardinal baru itu, yang berasal dari imam projo ada 15. Yang berasal dari imam ordo, konggregasi atau tarekat ada 4, yaitu dari O.Cist, SDB, OMI, CMF.

Dari 19 Kardinal baru itu, 4 adalah Kardinal untuk Kuria, yang 15 Kardinal biasa.

Pada pelantikan di Basilika Santo Petrus tanggal 22 Februari lalu itu  hanya 18 orang Kardinal baru bisa hadir. Kardinal Capovilla, yang berusia 95 tahun, karena alasan usia dan kesehatan tidak bisa datang ke Vatikan. Mantan assiten dan sekretaris pribadi Paus Yohanes XXIII ini akan menerima “baret merah” di gereja dekat kediamannya di Sotto di Monte, Lombardia, sekitar 30 km dari kota Milano. Dari 19 orang Kardinal baru ini, 16 orang langsung memiliki hak sebagai Kardinal pemilih Paus, 3 orang adalah Kardinal di atas 80 tahun yang tak lagi punya hak memilih.

Dengan tambahan 16 “cardinal electors” baru, berarti sekarang Paus Fransiskus memiliki 122 Kardinal pemilih. Ini berarti, semenjak Paus Paulus VI, Paus Fransiskus mengikuti para Paus pendahulunya, mempertahankan tradisi “quota” jumlah 120 orang untuk para Kardinal yang memiliki hak memilih Paus. Tahun 2014 ini, ada beberapa Kardinal yang akan mencapai usia 80 tahun. Misalnya saja Kardinal Dionigi Tettamanzi, Uskup Agung emeritus Milano, yang berusia 80 tahun pada bulan Maret ini. Selain Tettamanzi, pada bulan April 2017, akan ada 32 Kardinal yang memasuki “usia pensiun memilih” 80 tahun.

Itu artinya, sampai 4 tahun lagi, Paus Fransiskus secara teori masih dimungkinkan untuk memilih minimal 32 Kardinal pemilih yang baru. Siapa tahu salah satunya nanti, datang dari Indonesia.

Kapan dan siapa Kardinal baru untuk Indonesia nanti diumumkan? Hanya Paus Fransiskus yang tahu. Yang pasti, kalau mencermati consistorium pelantikan Kardinal kali ini, ada beberapa hal yang bisa dijadikan catatan, sebelum kita “bermimpi” ingin punya Kardinal baru untuk Indonesia:

Peta keseimbangan Gereja Katolik dunia memang masih menjadi pertimbangan Paus. Tapi seperti kata juru bicara Vatikan Pastur Lombardi SJ, dalam pemilihan Kardinal pun, Paus Fransiskus lebih mengutamakan semangat melayani yang miskin, menderita dan tersisih.

Umat di negara-negara yang miskin dan tertindas membutuhkan kehadiran Gereja yang lebih intensif. Daripada sekedar memiliki Kardinal (baca: wakil Paus pribadi) dari negara-negara mapan dan “tradisional”, nampaknya Paus lebih memilih memiliki rekan di negara-negara miskin dan tertindas. Apakah kelak Indonesia termasuk “negara miskin dan tertindas”?

Misa Penutupan Sidang KWI 2013 di Gereja Pejompongan

Para Uskup Indonesia bersama Kardinal Julius Darmaatmadja SJ berfoto bersama dengan latar belakang altar Gereja Kristus Raja Pejompongan, Jakarta Pusat. Ini terjadi saat Misa Penutupan Sidang KWI 2013, November 2013 (Mathias Hariyadi)

Paus Fransiskus ternyata tidak “wajib” mengikuti tradisi yang selama ini berjalan seperti: negara adidaya harus punya Kardinal baru setiap consistorium; wajib ada Kardinal untuk keuskupan yang menjadi sede cardinalizia; Kardinal seyogyanya “jatah” yang harus diberikan kepada Uskup Ibu Kota Metropolitan atau Keuskupan yang besar. Kasus Amerika Serikat, Jepang, Italia, Haiti dan Filipina pada consistorium kali ini bisa dijadikan pelajaran dalam memahami gaya kepemimpinan Paus Fransiskus, termasuk dalam memilih Kardinal-Kardinalnya.

Masih dalam rangka “keseimbangan”, kali ini jatah Kardinal untuk Asia cuma dua: Filipina dan Korea Selatan. Dari jumlah umat, yang masuk dalam tiga besar umat Katolik terbanyak di Asia adalah : Filipina, Vietnam dan Korea. India dan Indonesia memang diperhitungkan Vatikan. Tetapi saya rasa, kita biasanya diperhitungkan dalam kategori : “kualitas”, bukan “kuantitas”. Setelah Filipina dan Korea, umat Katolik di Vietnam, India dan Indonesia boleh berharap punya “jatah” Kardinal pada consistorium berikutnya.

Jepang secara khusus sebenarnya “lebih dekat” dengan Paus Fransiskus. Sebagai Jesuit, Bergoglio pernah berkarya di Jepang. Dari semua negara Asia, Bergoglio lebih mengenal Jepang. Jelas faktor “kedekatan emosional” tidak menjadi pertimbangan Paus Fransiskus dalam memilih Kardinal-Kardinalnya. Jadi jangan berharap, Paus Jesuit ini pasti akan memilih Uskup atau Imam Jesuit untuk mengganti Kardinal Jesuit Indonesia yang sekarang sudah pensiun. Tentang Indonesia, mungkin ia hanya “mengenal” dari jalur Jesuitnya. Tetapi pasti beliau juga mendapat banyak masukan tentang peranan Indonesia sebagai kekuatan politik dan ekonomi dunia di masa mendatang. Dengan segala kekurangannya, Gereja Indonesia juga dinilai menjadi model gereja yang baik dan memiliki semangat dialog, khususnya dengan Islam. Kalau pertimbangan-pertimbangan ini kelak masuk ke Paus Fransiskus, kita boleh berharap Indonesia akan mendapat jatah Kardinal baru.

Yesus tidak mengajar filsafat atau ideology, tapi jalan. Begitu juga Kardinal!

Untuk Indonesia, tahun 2014 ini adalah tahun politik. Setiap waktu kita gencar dibombardir berita sekitar Pemilu. Suka atau tidak suka, hari-hari kita akan dipenuhi liputan, ulasan, survey, tayangan, dan apa-apa saja yang berhubungan dengan Pemilu, baik Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden.

Sadar atau tidak, jangan-jangan cara kita memandang pemilihan Kardinal, bahkan pemilihan Paus, sama seperti cara kita memandang Pemilu 2014. Jangan-jangan, kedudukan atau kursi yang lagi heboh diperebutkan para caleg dan para capres kita, mempengaruhi pula pemahaman kita tentang “kursi Kardinal” yang oleh para Vaticanisti selalu dijadikan topik ulasan “politik”. Ulasan-ulasan mereka itu mungkin mengasyikkan, apalagi kalau ada insinuasi-insinuasi  pada topik hot seperti Vatileaks. Tetapi kita tahu, kebenaran tidak pernah bisa tuntas diliput oleh tulisan, tayangan atau berita sebagus apapun.

Pemilihan para Kardinal dalam gereja Katolik, bukan seperti Pemilu Legislatif di negeri kita. Gereja memang bukan negara.

Paus sendiri pada consistorium kali ini, pada beberapa kesempatan misa hari Sabtu, hari Minggu dan Angelus Minggu siang, kembali menegaskan panggilan dan tugas utama para Kardinal.

Misalnya saja :

 “Gesù camminava davanti a loro…» (Mc 10,32). Anche in questo momento Gesù cammina davanti a noi. Lui è sempre davanti a noi. Lui ci precede e ci apre la via. E questa è la nostra fiducia e la nostra gioia: essere suoi discepoli, stare con Lui, camminare dietro a Lui, seguirlo !”  (Yesus berjalan mendahului mereka (Mk 10:32). Juga pada kesempatan (consistorium) ini, Yesus berjalan mendahului kita. Ia selalu di depan kita. Ia memimpin kita dan membuka jalan bagi kita. Inilah kepercayaan dan kegembiraan kita : menjadi murid-muridNya, tinggal bersama Dia, berjalan di belakangNya dan mengikuti Dia!

“Gesù non è venuto ad insegnare una filosofia, ma una “via” da percorrere con Lui”  (Yesus tidak datang untuk mengajar filsafat (atau ideologi) tetapi jalan bersama Dia).

“E quando si pensa in modo mondano, qual è la conseguenza?  Dice il Vangelo: «Gli altri dieci si sdegnarono con Giacomo e Giovanni» (Mc 10 v. 41). Si sdegnarono. Se prevale la mentalità del mondo, subentrano le rivalità, le invidie, le fazioni !” (Ketika yang dipikirkan adalah hal-hal dunia, apa konsekwensinya ? Kata Injil : “mendengar itu kesepuluh murid yang lain marah kepada Yakobus dan Yohanes” (Mk 10:41). Hubungan para murid jadi terganggu. Ketika mentalitas dunia merasuki para murid, yang terjadi adalah persaingan, dengki, perpecahan)

“Insomma, «evitiamo tutti e aiutiamoci a vicenda ad evitare abitudini e comportamenti di corte: intrighi, chiacchiere, cordate, favoritismi”. (Karena itu, tolonglah kami dan hindarilah segala hal dan kebiasaan yang tercela seperti intrik, gossip, gemar bergunjing, kongkalikong dsb).

Kepada para Kardinalnya, Paus Fransiskus tidak hanya berkotbah dan berpesan. Ia menjalankan dan menghayati betul apa itu mengikuti Yesus, apa itu menghayati panggilan sebagai muridNya, apa itu melayani, apa itu menjalankan perintah-perintahNya. Dunia mengakui itu!

Tidak mengherankan kalau tahun lalu, Paus Fransiskus terpilih oleh majalah Time sebagai “Person of the year”. Kesederhanaan penampilan dan gayanya, juga mendapat penghargaan dari majalah gaya hidup Esquire. Paus mendapat penghargaan “Best Dressed Man of 2013” oleh majalah Esquire itu.

Majalah pop Rolling Stone, baru-baru ini juga menurunkan artikel khusus tentang Paus Fransiskus, yang amat menghargai hidup dan pelayanan pemimpin gereja kita ini. Majalah dan Koran ekonomi yang berwibawa The Financial Times, juga tidak melewatkan fenomena Paus Fransiskus yang luar biasa ini. “No other world leader can match Francis’ honesty and sincerity”, kata The Financial Times.

KWI 14 November 2013 in Chris the King Parish Church of Pejompongan Central Jakarta email

Para Uskup Indonesia, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi. (Mathias Hariyadi)

Kata majalah ini selanjutnya:“No one over the past year has captured people’s attention the world round like Francis has. In the nine months he has been Pope, he “has initiated a remarkable overhaul in the direction and management of the papacy,” The Financial Times writes in an editorial dedicated to “the remarkable figure of Pope Francis”, “the leader of the Catholic Church is challenging the status quo.”

“It is too early to judge whether he will end up assuaging widespread public anger over sexual abuse in the priesthood; or whether he will meet the concerns of Catholics worried by the Vatican’s rigid moral orthodoxy,” the newspaper comments. “Yet there are three ways in which he has been a figure of immense appeal this year to Catholics and non-Catholics alike”: “First, there is his personal modesty,” then there is the fact that “he has radically changed the tone and language” in which the “questions of sex and marriage” are discussed. “Third, he has introduced a string of management reforms in the Holy See that allow him to implement change” many have been waiting and hoping for.

But beyond the “great tests” that await the Catholic Church, what is striking about Francis is “how rapidly he has become an authentic figurehead for those who are concerned by what he calls “the idol called money” and the way “we have fallen into globalised indifference in this globalised world. Many on the right of politics will disagree with his critique of “unbridled capitalism.” “But,” The Financial Times concludes, “he conveys his concerns and anxieties with a sincerity and authenticity that no world leader can match.”

Selamat menunggu Kardinal baru untuk Indonesia, yang (semoga) kompatibel dengan pelayanan dan cara hidup Paus Fransiskus kita yang fenomenal ini.

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.