Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Tragedi Kerusuhan Mei 1998, Petrus Bima Anugerah, Wiji Thukul dan Mereka yang Hilang (20C)

 wiji thukulKALAU kami mengingat Tragedi Kerusuhan Mei 15 tahun lalu, kami tidak mungkin melepaskan ingatan itu dari rekan-rekan mahasiswa dan aktivis yang hilang.

Menurut Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) Mugiyanto, dalam perbincangan dengan Kompas.com, kasus penculikan aktivis yang terjadi pada tahun 1997-1998 itu tak pernah ada jawabnya. Menurut catatan Ikohi, korban penculikan itu sbb: 1 orang terbunuh, 11 orang disiksa, 12 orang dianiaya, 23 orang dihilangkan secara paksa, 19 orang dirampas kemerdekaan fisiknya secara sewenang-wenang.

Daftar orang hilang

Dari 23 orang yang dihilangkan paksa, 13 orang belum diketahui nasibnya hingga kini. Data ini juga diakui oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Ke-13 orang yang hilang lenyap dan belum kembali sampai sekarang ini adalah Petrus Bima Anugerah, Herman Hendrawan, Suyat, Wiji Thukul, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nasser.

Mugiyanto sendiri tak akan pernah lupa tatkala dirinya bersama dua rekannya, Nezar Patria dan Aan Rusdianto, diculik Tim Mawar Kopassus pada tanggal 12-13 Maret 1998. Mugi, Nezar, dan Aan beruntung. Mereka dilepas, meski mengalami sejumlah penyiksaan.

Adalah mendiang Munir, pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), yang menggagas pertalian keluarga orang-orang hilang ini. Tahun 1998, saat sejumlah aktivis diketahui hilang, Munir bersama sejumlah aktivis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengupayakan proses hukum untuk membebaskan sembilan aktivis, di antaranya Mugiyanto sendiri, Desmond Junaidi Mahesa, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, dan Andi Arief.

Sementara, aktivis lainnya masih dalam pencarian keluarga bersama Kontras. “Dalam proses itu, keluarga korban sering bertemu. Mereka berasal dari beberapa daerah, yaitu Solo, Bangka, Probolinggo, Jepara, dan banyak lagi. Setiap ada advokasi, mereka berkumpul di kantor Kontras. Ya sudah, dari situlah muncul inisiatif dari keluarga para korban ini untuk membentuk semacam paguyuban. Saya tidak bersama mereka ketika mereka secara spontan mendirikan Ikohi,” ungkap Mugiyanto.

wiji-tukul

Di awal berdirinya, yang menjadi ketua adalah Raharjo Utomo, orangtua Petrus Bima Anugerah, salah seorang korban yang hilang sampai hari ini. Paguyuban yang mulanya hanya wadah berkumpul para keluarga untuk berbagi cerita dan saling menguatkan, kini bertransformasi menjadi organisasi yang tak lelah berjuang mencari 13 orang yang belum kembali.

Mugiyanto menyatakan, ia bersama para orangtua korban bertekad menjadi pelaku perjuangan, bukan korban yang pasif. ”Korban harus menjadi pelaku perjuangan, bukan obyek pasif yang berdiri di belakang dan berserah pada lembaga HAM. Tidak seperti itu,” kata Mugiyanto tegas.

 Saya sendiri tidak mengenal mereka yang hilang itu. Hanya sempat ngobrol dengan Pius Lustrilanang ketika ia kami undang ke Senayan pada misa bulan September 1998. Saya hanya sekilas kenalan dengan Petrus Bima Anugerah, yang waktu itu datang ke Wisma Adisoetjipto dan Pastoran Atma Jaya dengan sobat saya Romo Koko MSF, karikaturis Majalah Hidup itu.

Penyair Wiji Thukul

Saya tidak mengira, hari itu adalah hari terakhir saya melihat Bima. Yang saya ingat, beberapa pekan u sebelum meletus Kerusuhan Mei 1998, Koko membawa secarik kertas berisi puisinya Wiji Thukul, seniman Solo yang juga ditangkap dan disiksa.

“Jarene Wiji Thukul, naliko disiksa ndase dijedorke tembok, driji tangane diplintir potelot, manuke disetrum, awake diuyuhi barang!”

 Saya miris mendengar cerita Koko ini.

Sepulang dari Komunitas Utan Kayu, Koko yang memang rajin nyambangi Mas GM itu membawa puisinya Wiji Thukul. Saya lihat, ada 2 puisi Wiji Thukul yang tertulis di keras HVS yang agak lusuh itu:

wiji tukul 2

Peringatan

Jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

 

Kalau rakyat bersembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

 

Bila rakyat berani mengeluh

itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam

 

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

 

Sajak Suara

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

mulut bisa dibungkam

namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

 

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam

aku siapkan untukmu : pemberontakan!

 

Sesungguhnya suara itu bukan perampok

yang merayakan hartamu

ia ingin bicara

mengapa kaukokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu

menuntut keadilan?

 

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

ia yang mengajari aku untuk bertanya

Photo credit: Ilustrasi kenangan akan Wiji Thukul (ist)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.