Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Tragedi Kerusuhan Mei 1998 dan Belarasa Kecil Wisma Adisoetjipto (20B)

< ![endif]-->

kerusuhan mei 98

KERUSUHAN Mei 98 bisa dipandang sebagai puncak gunung es dari begitu besar masalah yang menumpuk dan melanda bangsa kita. Krisis multi dimensi menerpa Indonesia sejak awal tahun 1997.

Mulanya terjadi krisis moneter (krismon) yang melanda dunia. Di Asia, yang pertama dihantam krismon adalah Thailand. Mata uang bath jatuh terpuruk. Efek domino krisis moneter adalah krisis ekonomi dan krisis perbankan. Di Indonesia, dollar menembus angka 16 ribu. Kita masuk dalam “karantina” IMF.

Kumpulkan sumbangan emas

mBak Tutut, puteri sulung alm. Pak Harto yang ditunjuk  Menteri Sosial, lalu mengadakan macam-macam kegiatan menggalang dana. Tentu saja kegiatan itu dilaksanakan dengan mengatasnamakan penyelamatan negara dari krismon. Semua pimpinan organisasi keagamaan termasuk KWI, dipanggil Mbak Tutut untuk membantu acara pengumpulan dana dalam bentuk emas.

Mungkin saja waktu itu mBak Tutut berfikir, kalau pimpinannya sudah dipegang, umatnya pasti akan ikut. Mengapa emas, karena katanya emas tidak pernah kena krisis.

Romo Julianus Sunarko SJ –sekarang Uskup Diosis Purwokerto– yang waktu itu menjadi Ekonom KWI, dianggap mewakili Gereja Katolik Indonesia pada kegiatan acara “nyumbang” emas itu.

Dengan polosnya, di antara sorotan kamera video dan foto para wartawan, Romo Narko mengatakan begini: “mBak Tutut, seperti para hadirin di sini, umat Gereja kami sangat bermurah hati dan saat ini sedang bekerja keras membantu saudara-saudara kita yang kena dampak krismon ini. Saking sibuknya rekan-rekan kami itu membantu saudara-saudaranya yang menderita, sampai-sampai mereka nggak sempat menitipkan emasnya kepada saya”.

Pidato Romo Narko yang sangat cerdas!

Wisma Adisoetjipto

Apakah pada waktu itu pemerintah jadi bingung dan linglung?

Saya tidak tahu. Yang pasti, kebutuhan sehari-hari makin banyak yang lenyap dari pasaran. Seperti yang dikatakan Romo Narko yang kini menjadi Uskup Purwokerto, pada krismon tahun 1997 itu, umat Katolik kita memang tidak berpangku tangan. Hampir semua paroki, biara, bruderan dan susteran di seluruh KAJ, tiba-tiba menjadi posko bantuan dan posko pengumpulan sembako.

Rumah kami di Wisma Adisoetjipto, Wisma Mahasiswa KAJ di Cipinang Rawamangun Jakarta Timur, juga menjadi posko tanggap darurat krismon 97. Umat dan keluarga yang masih berkecukupan, khususnya rekan-rekan dari Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia (Perduki), tanpa diminta langsung datang ke Wisma Adisoetjipto dan memberikan bantuan.

Bantuan yang paling sering kami mintakan waktu itu adalah susu untuk anak-anak. Harga susu di jaman krismon itu melangit dan tak terbeli. Kasihan anak-anak kita. Selain menjadi posko sembako, rumah kami juga menjadi tempat mahasiswa mangkal. Selain membantu menyebar bantuan sembako, para mahasiswa itu juga mengadakan pelbagai pertemuan. Mereka membahas keadaan yang semakin buruk akibat krisis ekonomi. Tentu saja, mereka juga membicarakan kemungkinan unjuk rasa sebagai ungkapan kemuakan pada tata kelola negara yang sudah semakin memburuk dan membuat semua terpuruk.

Krisis ekokomi tahun 1997 itu juga erat kaitannya dengan krisis politik, termasuk politik “kambing hitam” bagi PRD (Partai Rayat Demokratik) pimpinan Budiman Sujatmiko dan PDIP-nya Megawati. Dalam sebuah Konggres yang direkayasa di Medan, dengan konyolnya pemerintah membentuk PDIP tandingan dan mengharamkan PDIP yang resmi pimpinan Megawati.

Puncaknya, terjadilah peristiwa 27 Juli 1997.

Semenjak peristiwa “penyerangan dan pembantaian” 27 Juli di Markas PDI Perjuangan Jalan Diponegoro itu, rumah kami di Wisma Adisoetjipto sering menerima teror gelap dan dimata-matai. Tiba-tiba saja, ada warung rokok di depan rumah kami. Lucu dan aneh, karena ia satu-satunya warung rokok di pinggir jalan itu. Selain menjadi markas mahasiswa lintas universitas dan lintas agama, kami dimata-matai, mungkin karena menjelang penyerangan itu, saya sempat misa di kantor PDIP.

Saya ingat, yang menjadi dirigen pada misa itu adalah Jacob Nuwawea.

Perjamuan terakhir di Markas PDI Jl. Diponegoro

Pada homili di misa itu, saya mengutip kata-kata Mgr.Leo Soekoto: “Kepada yang baik dan benar kita harus taat. Kepada yang kurang baik dan kurang benar, ya kita jangan terlalu taat”.

Sekitar 100 orang warga PDI dan simpatisannya yang ikut misa malam itu, spontan bertepuk tangan mendengar kutipan yang mereka anggap mengena.

Misa berakhir sekitar jam 10 malam. Beberapa jam kemudian, markas PDIP itu diserang. Beberapa orang yang ikut misa, konon ada yang ikut tewas. Untuk mereka, misa malam itu benar-benar menjadi “malam perjamuan terakhir”.

Dua hari sesudah penyerangan, saya tiba-tiba dicari orang yang mengaku dari kepolisian. Mereka membawa sekarung clurit, pisau dan parang. Saya diminta menyimpan benda-benda itu. Saya melihat ada beberapa celurit dan parang  yang masih berbau anyir, karena tertempel darah yang sudah mengering. Katanya itu titipan dari rekan-rekan PDIP yang pada lari. Kalau sekarung senjata itu saya terima, mungkin saya akan langsung diciduk karena dituduh menyembunyikan buron dan senjatanya.

Bahwa tempat-tempat berkumpul diawasi oleh intel (sebutan kami: Pentium), waktu itu adalah hal yang sangat biasa. Zaman itu, mahasiswa identik dengan kelompok yang dianggap anti pemerintah. Jadi harus diawasi.

Dari Sandyawan dan Romo Koko MSF, belakangan kami tahu bahwa “Team Mawar Kopassus” sedang gencar menculik aktivis-aktivis mahasiswa. Di bilangan Jakarta Timur, selain Wisma Mahasiswa Adi Soetjipto tempat kami tinggal, komunitas Utan Kayu tempatnya Mas GM (Gunawan Muhammad), juga diincar intel.

Seru juga waktu itu kami menemani Sandyawan main kucing-kucingan dalam kasus diburunya Budiman Sujatmiko. Seru juga mengikuti sidang-sidangnya Sandyawan karena dituduh menyembunyikan Budiman Sujatmiko di rumah kakak Sandyawan di Bekasi.

Apa pun yang kami buat, sebenarnya tidak penting untuk dikisahkan. Yang jauh lebih penting untuk diingat, adalah kenyataan bahwa tragedi Mei 98 telah memperkuat “ikatan batin” kami. Tiba-tiba kami menyadari betapa luasnya pertemanan kami dan betapa dahsyatnya solidaritas dan persatuan di antara kami.

Kegiatan berbelarasa – yang menjadi tema APP tahun ini – pernah terjalin begitu erat di antara kami: imam, umat, awam, biarawan-biarawati, aktivis, tokoh, rakyat biasa, mahasiswa, pelajar, bapak-ibu keluarga, kaya-miskin, tua-muda. Semua merasa satu. Semua merasa dipersatukan dalam belarasa yang sama terhadap korban. Dan korban yang “berjatuhan” karena krismon, karena penyerangan 27 Juli dan karena Tragedi Kerusuhan Mei 98,  sungguh luar biasa banyaknya. Kami rasanya kehabisan waktu, kehabisan daya, dan kehabisan pikiran untuk mengurusnya.

 

Tanpa sekat

Karena kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan itu, para imam yang biasanya asyik dengan dirinya sendiri atau kegiatan ordonya, tiba-tiba menjadi satu. Meja makan Wisma Adisoetjipto itu menjadi saksi persahabatan imam lintas ordo. Di meja itu, sambil makan peyek kiriman Bu Mangku –ibunya Krismanto dari Mertoyudan– atau menyantap tempe mendoan bikinan Mas Parno penjaga rumah, kami ngobrol seru sampai lewat tengah malam.

Muji Sutrisno dan Sandyawan yang Jesuit, saya dan almarhum Romo Krismanto yang imam diosesan, Koko dan Purnomo yang MSF, sedikit pun tidak merasakan kotak-kotak dan sekat-sekat.

Karena Krismon dan Tragedi Mei 1998 itu juga, kami mengenal Komjen Gories Mere yang waktu itu masih jadi Kapolres Jakarta Timur dan pangkatnya masih letnan kolonel. Karena Peristiwa Mei 98, kami juga lalu kenal Hercules,  tokoh yang kini ngetop itu, yang kalau ketemu pastur selalu mencium tangan sambil berseru: Padre!

Tidak ada pembedaan ordo, konggregasi, golongan, suku, agama. Tidak ada perbedaan kaya dan miskin, jenderal dan orang jalanan. Semua satu: keluarga besar lintas kelompok.

Topik: “ibadah di depan altar yang harus dibawa ke pasar” yang sering kami diskusikan, tiba-tiba terasa populer dan relevan. Rumah kami di Cipinang itu, sungguh kami rasakan sebagai rumah keluarga lintas kelompok yang erat bersaudara, karena erat berbela rasa. (Bersambung)

Photo credit: Suasana Kerusuhan Mei 1998 (ist)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.