Pijar Vatikan II: Lautan Manusia di Setiap Misa Paus (21C)

< ![endif]-->


SESUDAH dari Jakarta, pada hari Selasa 10 Oktober 1989, Paus mempersembahkan misa di Lapangan Dirgantara Adisucipto Yogyakarta. Hari berikutnya Rabu 11 Oktober 1989, Paus JP2 memimpin misa besar di Stadion Da Cunha, Maumere, Flores.  Kemudian pada hari Kamis 12 Oktober 1989, Paus mendarat di Dili, Timor Timur, dan mempersembahkan misa di alun-alun “Tasi- Tolu” Dili. Terakhir, sehari sebelum terbang ke Mauritius, Paus mempersembahkan misa di lapangan pacuan kuda Tuntungan, perbatasan Medan dan Deli Serdang pada hari Jum’at 13 Oktober 1989.

 

Tidak kalah dengan 120 ribu umat yang hadir di Stadion Utama Senayan Jakarta, umat yang hadir pada setiap misa dengan Paus JP2 jumlahnya juga sangat luar biasa. Di Yogyakarta, sekitar 160 ribu umat Katolik memenuhi Lapangan Dirgantara. Sementara di Maumere, lebih dari 100 ribu orang memadati lapangan sepak bola Samador. Misa terakhir Paus di Indonesia yang diadakan di Tuntungan Medan, dihadiri oleh lebih 100 ribu umat.

 

Berkah melimpah kedatangan Sri Paus

 

Kedatangan Paus di Indonesia meninggalkan kesan yang amat dalam. Tukang becak di Stasiun Balapan Solo dan di Stasiun Tugu Yogya, panen raya. Tiga hari menjelang dan sesudah kedatangan Paus di Yogya, mereka kewalahan mengangkut para penumpang. Pak Triman, seorang tukang becak yang mangkal di Stasiun Balapan, menurut cerita koran Suara Merdeka, dengan riangnya nyelethuk : “Kangjeng Sri Paus, kaaturan asring tindak mriki, supados kula saged ngalap berkah kados ngaten menika !

 

Paus Yohannes Paulus II dan para suster salaman

Cerita mengharukan juga datang dari Flores. Seminggu sebelum hari-H, ratusan warga Flores dari lima kabupaten (Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur) sudah bergerak ke Maumere. Perlu diketahui, jalan raya di sepanjang Flores (Trans-Flores), pada tahun 1989 itu sangat buruk dan sempit. Jarak Larantuka (Flores Timur) ke Maumere yang ‘hanya’ 136 kilometer makan waktu delapan hingga sembilan jam. Jika mogok di jalan, bisa lebih lama lagi.

 

Tapi, begitulah, pekan pertama Oktober 1989 itu warga Flores rela membolos atau tidak bekerja agar bisa mengikuti Misa Agung dengan Paus di Maumere. Di Yogya dan Tuntungan Medan, team P3K yang terdiri dari para dokter dan perawat, kewalahan merawat orang-orang yang pingsan dan kelelahan.

 

Di lapangan Adisucipto yang begitu panas, misa dimulai pukul 3 sore.

 

Pukul 8 pagi, lapangan sudah penuh sesak. Panas, lapar dan haus, tidak menghalangi semangat  umat ikut misa dengan Paus. Tetangga kami Pak Nardjo, yang datang di Lapangan Adisucipto sejak pukul  6 pagi, selesai misa bilang : “Saiki mati ora apa-apa. Wis lega, weruh Kanjeng Santo Bapa!”. Sekarang pun meninggal siap dan oke. Yang penting sudah melihat Paus!

 

Berkah melimpah juga dirasakan oleh umat Keuskupan Purwokerto. Sesudah selesai misa di Lapangan Dirgantara Adisucipto Yogyakarta, Paus didaulat untuk memberkati patung Bunda Maria besar yang akan diletakkan di tempat peziarahan Bunda Maria di Kaliori. Keuskupan Purwokerto memang sudah lama merindukan tempat ziarah Bunda Maria seperti Sendangsono.

 

Dengan senang hati, Paus JP2 memberkati patung Bunda Maria berwarna putih itu. Sahabat saya Romo Sigit Pramudji dari Keuskupan Purwokerto selalu menceritakan pemberkatan patung Bunda Maria Kaliori ini dengan bangga.

 

Menurut Sigit, patung Bunda Maria Kaliori ini adalah satu-satunya patung Bunda Maria yang diberkati langsung oleh Paus JP2 di Indonesia. “Habis diberkati Paus, patung itu kami naikkan pickup bak terbuka. Kami kawal dengan puluhan mobil dan sepeda motor sampai Purwokerto,” kata Sigit bersemangat.

 

Berbahagialah umat Keuskupan Purwokerto, yang masih menyimpan kenangan berkah melimpah kehadiran Paus JP2 24 tahun lalu.

 

Tarian dan kentalnya nuansa inkulturasi

 

Tahun 1989 itu, Paus JP2 masih nampak muda dan segar. Jiwa seninya juga masih nampak menonjol. Masa mudanya ketika di Seminari menjadi pemain teater, membuat beliau sangat menikmati tarian dan musik tradisional yang mengiringi setiap misa di Indonesia. Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia pin

 

Di Yogya, saya melihat Paus sampai “ditegor” Mgr. Marini, maestro liturgi kepausan yang mendampinginya. Paus JP2 nampak sangat terpesona dengan tarian persembahan yang dibawakan secara rancak, luwes dan menawan oleh sekitar 60 muda-mudi dengan memakai pakaian tradisional Jawa yang dimodifikasi modern. Tarian yang berdurasi sekitar 15 menit itu sangat dinikmati Paus. Sesudah menerima persembahan, Paus tidak segera menuju ke altar memulai liturgi ekaristi. Ia duduk dengan santai di depan altar, menyaksikan tarian yang mengiringi nyanyian persembahan:  “Sembahan Sudra”.

 

Terpaksalah Mgr. Marini mengingatkan beliau untuk meneruskan misa.

 

Seperti di Yogya, misa di Flores dan Medan pun sangat kental dengan nuansa inkulturasi. Umat dari lima kabupaten di Flores seakan-akan berlomba untuk menampilkan tari-tarian dan musik tradisional untuk Sri Paus. Sejak dari Roma, Paus memang mempersiapkan misa dan sambutannya dalam bahasa Inggris yang kemudian diberi selipan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Batak.

Paus Yohannes Paulus II di Indonesia di Atma Jaya

 

Pada misa di lapangan Tuntungan Medan, Sri Paus menerima ulos. Pada akhir kotbahnya, umat meledak dalam tawa gembira dan tepuk tangan membahana, ketika Paus JP2 mengucapkan salam khas Sumatera Utara “Horas, Mejuah-juah, Jahowu!“.  Di Dili, selain bahasa Inggris, Paus juga memberikan pengantar misa dan kotbahnya dalam bahasa Tetun.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.