Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Maradona, Messi, dan Paus! Tuhan Itu Bernama Argentina (18B)

< ![endif]-->

paus dan bola 2

BAGAIMANA ceritanya hingga Kardinal Jorge Mario Bergoglio bisa terpilih?

 

Sampai  hari Selasa 19 Maret ini, ada sekitar 6.000 jurnalis dunia yang  masih berkumpul di Vatikan. Mereka meliput upacara pelantikan Paus Fransiskus pada Pesta Santo Yusuf yang jatuh pada hari  Senin lalu.

 

Di antara para jurnalis, terutama para Vaticanisti, yang menjadi obrolan menarik tidak lagi Paus Fransiskus dan peliputan upacara pelantikannya. Paus Fransiskus, profilnya, keunikannya dan visinya, sudah cukup diberitakan. Dalam kasak-kusuk sebelum para jurnalis itu pulang, mereka masih penasaran bagaimana Bergoglio bisa terpilih mengalahkan Scola, bagaimana mungkin Bergoglio menang cepat dalam 5 putaran, berapa suara yang ia dapat, dari mana dukungan itu dan mengapa Scola “dikianati” para Kardinal Itali.

 

Menurut harian Italia La Repubblica, yang memiliki sumber-sumber bagus di Vatikan, Kardinal Washington dan  Kardinal Perancis Vingt-Trois, mempunyai peran kunci memenangkan Bergorglio. Sementara menurut Giacomo Galeazzi dari La Stampa, para Kardinal Itali memang sudah terpecah sejak pemungutan suara pertama.

Kardinal Scola, yang unggul pada putaran pertama dari Bergoglio, kalah telak pada 4 putaran berikutnya. Semua Kardinal Itali terutama yang dari Curia, rame-rame meninggalkan Scola.

 

John Allen dari National Catholic Reporter berhasil mengorek keterangan kalau Bergoglio “memecahkan rekor dunia” konclaf sepanjang masa, karena mendapatkan dukungan lebih dari 100 suara.

 

Mengapa para Kardinal Itali yang menjadi mayoritas dalam koncla akhirnya mendukung Bergoglio?

 

Jawaban yang baik tentu saja karena Roh Kudus sudah menghendaki dan mengatur demikian.

 

Bagi para Vatikanisti, tentu saja jawaban seperti itu tidak mencukupi.

 

Bersaing ketat dengan Ratzinger pada Konklaf 2005

 

Secara objektif, para pemilih melihat  dan merasakan bahwa dalam diri Bergoglio ada kapasitas dan kapabilitas menjadi Paus. Bergoglio memang memiliki kualitas gembala jempolan. Suci, sederhana, tegas. Track record-nya juga oke.

 

Pada Conclave 2005 yang memenangkan Ratzinger, ia menjadi “runner-up. Ketika dalam sidang umum pra-konclaf, banyak Kardinal yang memberi masukan sekitar “masalah intern” gereja seperti reformasi Curia, perlunya koordinasi pemerintahan gereja yang lebih baik, penyembuhan luka karena skandal dsb, Bergoglio merebut hati banyak Kardinal ketika ia mengusulkan gereja hendaknya kembali kepada panggilannya yang sejati yaitu menjadi gereja kaum papa, melayani yang miskin dan tersingkir.

 

Ketika bagi banyak kalangan, Itali identik dengan konservatisme dan kemapanan, Bergoglio mewakili sosok pembaharuan ala Paus JP2 yang tetap dirindukan.

 

‘E uno di noi, seorang di antara kita

 

Apakah banyak orang Itali kecewa ketika “jago Itali” ternyata kala ? Apakah mereka kecewa ternyata jago Itali cuma jadi jago kandang dan kalah lagi dalam pemilihan Paus kali ini?

 

Jawabnya pasti ya!

 

Sudah 35 tahun, tidak ada Paus dari Italia. Sudah dalam 3 kali konclaf, jago-jago Itali yang selalu difavoritkan, kalah dari Polandia, Jerman dan Argentina.

 

Kerinduan Itali ingin memiliki Paus Italia lagi, sangat dimengerti. Itali adalah negara yang paling Katolik di seluruh dunia. Kekatolikan sudah menjadi darah dan daging tradisinya, sejarahnya, budayanya, seninya, hidupnya. Sebelum ada negara Itali, kekatolikan itu sudah lahir di sana; bahkan sudah mengakar sangat tua.

 

Apakah kegagalan Kardinal Scola cs akan diratapi Itali berkepanjangan? Jawabnya pasti tidak! Orang Katolik di kota Roma rela kehujanan dan menunggu berjam-jam di lapangan Santo Petrus, karena mereka selalu “menang” dalam setiap konclaf. Dari negara manapun seorang Paus, ia adalah Uskup Roma. Jadi ia pasti menjadi warga Roma, warga Italia. Jadi siapapun Pausnya, Itali selalu menang.

 

Jadi, ketika Bergoglio dan bukannya Scola yang terpilih, orang Itali tidak kecewa-kecewa amat. Bergoglio adalah “uno di noi”, salah seorang di antara kita.

 

Bergoglio lahir di Argentina, tetapi ayah dan ibunya imigran Italia. Bergoglio tak hanya mempersatukan Amerika, tetapi juga mempersatukan Argentina dan Italia.

 

Un Papa Argentino ? Si, ma anche un Papa quasi Italiano” (Paus Argentina? Ya, memang, tetapi juga Paus setengah Italia), kata seorang pemilik bar Fontana Trevi, dekat air mancur indah di pusat kota Roma tua itu.

 

Rocco Palmo, seorang warga Argentina keturunan Italia, dalam blog-nya menulis begini : “Boss, in questa notte luminosa – anche tra il tuo cielo e questa terra in che mi hai partito – ora, è fatto…. ! Mamma, quest’oggi, Il Papa è uno di noi – figlio dell’Italia, ma un nato del pellegrinaggio a quest’America”. (Tuhan, di malam terang ini di antara  langitMu dan tanah yang kau pinjamkan kepadaku ini, sekarang semuanya terjadi! Bunda, … hari ini, Paus itu ternyata seorang di antara kita – anak negeri kita Italia, yang lahir dalam peziarahan di Amerika ini).

 

Rocco dan kegembiraannya tidak sendiri. Separuh penduduk Argentina yang jumlahnya sekitar 40 juta itu adalah keturunan Italia. Mereka pergi dari Itali ke Argentina dalam 2 gelombang besar. Gelombang pertama sekitar tahun 1880-1900. Gelombang besar kedua terjadi sekitar tahun 1914-1930, menjelang Perang Dunia I, ketika dunia dilanda krisis “great depression”.

 

Pada umumnya orang-orang Italia yang berimigrasi ke Argentina berasal dari Udine, Ancona, Piemonte (seperti keluarga Paus Fransiskus), Lombardia, Friuli dan Veneto. Mereka berangkat ke Argentina melalui Pelabuhan Genova. Mereka pergi, karena di zaman itu, Italia terpuruk dan bangkrut. Tidak ada pekerjaan, angka pengangguran kelewat besar.

 

Ketika pada tahun 1970-an, Itali bangkit menjadi raksasa ekonomi dunia dan menjadi anggota tetap G-7, para imigran itu banyak yang kembali lagi ke Itali. Sekitar tahun itu, giliran Argentina yang terpuruk di bawah rezim diktator militer. Karena hubungan sejarah yang begitu kuat, maka antara Itali dan Argentina, selalu terjalin ikatan batin yang mendalam.

 

Beberapa Presiden Argentina adalah keturunan Italia. Beberapa tokoh olah raga yang mengharumkan nama  Argentina, banyak yang berdarah Italia. Misalnya saja: Juan Manuel Fangio, petenis cantik Gabriela Sabatini, Antonio Angelillo.

 

Juga pemain bola top dunia: Alfredo Di Stéfano,  Daniel Passarella, Omar Sívori,  Emanuel Ginóbili,  Gabriel Batistuta, Mauro Germán Camoranesi, Esteban Cambiasso dll. Lionel Messi, pemain bintang paling cemerlang sekarang ini, juga keturunan Italia.

 

Lionel Messi lahir dari ayah Jorge Horácio Messi, seorang buruh pabrik besi dan Celia María Cuccittini, seorang ibu rumah tangga biasa. Kakek Lionel Messi, yang bernama Angelo Messi, berasal dari Ancona. Ia keturunan imigran Italia yang masuk ke  Argentina pada sekitar tahun 1883.

 

Ikatan batin Italia-Argentina

 

Ikatan batin Argentina-Italia itu, terasa sekali pada tahun 1990, ketika ada hajatan Piala Dunia Sepakbola di Itali. Waktu itu kesebelasan nasional Itali di bawah pelatih Azeglio Vicini, kalah dari Argentina. Padahal pasar taruhan menjagokan Itali menjadi juara, karena main di negaranya sendiri.

 

 Stadion San Paolo di kota Napoli menjadi saksi tersingkirnya Itali di semi final. Semi final yang menguras emosi! Setelah mengalahkan favorit Brasil 1-0 di perempat final,  Argentina menundukkan Itali lewat drama adu penalti. Adu penalti dilakukan karena skor masih tetap 1-1, walau sudah ada perpanjangan waktu. Maradona, menceploskan gol kemenangan pada adu penalti itu.

 

Walau Argentina masuk final, Maradona nampak tidak bahagia dengan kemenangan atas Itali. Sebaliknya, stadion San Paolo juga tidak terlalu berduka menyaksikan kesebelasan Itali kalah. Tepuk tangan bergemuruh, tetap bergema bagi Argentina. Napoli tetap berterimakasih pada Maradona.

 

Bagi Maradona, Itali adalah tanah-air keduanya. Napoli, kota yang melambungkan namanya, adalah kota di Itali yang paling ia cintai. Setelah ditransfer dari Barcelona pada tahun 1984, Maradona jatuh cinta dengan Napoli, orang-orangnya dan wanita-wanitanya.

 

Dari seorang Christina Sinagra, wanita Napoli yang tidak dinikahinya, Maradona punya anak laki-laki. Oleh ayah Christina yang mengadopsinya, anak ini diberi nama Diego Armando. Maradona pernah bilang : “Saya sangat mencintai Napoli. Saya tak akan pernah terpisahkan dari Napoli. Kota ini dan orang-orangnya, selalu mengingatkan saya pada kota kelahiran saya di Argentina!”

 

Kala itu, bagi orang Napoli, Maradona sudah menjadi “Tuhan”. Bagi Napoli, Maradona buka sekedar pahlawan. Ia tak hanya “dipuja”, tetapi sudah “disembah” seperti dewa. Tanpa Maradona, tak mungkin Napoli juara Italia dan juara Eropa. Musim 1986-1987, di bawah pelatih Ottavio Bianchi, Maradona mengantar Napoli menjadi juara liga Seri-A untuk pertama kalinya. Tahun berikutnya Maradona memimpin Napoli meraih gelar UEFA Cup, gelar Eropa bagi kesebelasan yang selalu dipandang sebelah mata.

 

Di era Maradona, Napoli “naik kasta” menjadi kesebelasan elite Eropa yang sangat ditakuti. Waktu itu, dari Munchen sahabat saya Romo GP Sindhunata datang khusus ke Roma ingin mencari tahu mengapa Napoli bisa segila itu memuja Maradona. Romo Sindhu yang juga wartawan Kompas dan penulis kawakan ini, terheran-heran menyaksikan “misa-misaan” yang ditayangkan TV Raiuno.

 

Maradona, dengan memakai pakaian “Uskup” lengkap dengan tongkatnya, mendupai peti jenasah Inter Milan. Kesebelasan Inter, saat itu memang menjadi musuh dedengkotan dan pesaing berat Napoli. Kalau sore itu, Inter kalah melawan Sampdoria (yang diperkuat Roberto Mancini dan Gianluca Vialli) maka Napoli juara. Dan terjadilah demikian. Meledaklah pesta!

 

Sehabis mendupai dan mendoakan “arwah kesebelasan Inter”, para pemain Napoli langsung menari-nari, berpelukan, berteriak-teriak dan “perang champain”. Dengan tinggal memakai celana pendek, mereka berjingkrakan sambil menyanyi lagu  rakyat Napoli “Funiculi-Funicula”. Napoli dan Maradona memang unik, gila,  dan …. Katolik !

 

Bertahun-tahun kemudian, tahun 2013 ini, ketika Maradona mendengar bahwa dalam pemilihan Paus ada orang Argentina yang  juga “menang” di Roma, ia girang bukan kepalang. Meski dia tidak rajin ke Gereja tiap hari Minggu, tetapi Maradona tak pernah sekalipun menyatakan diri tidak Katolik.

 

Masuk lapangan, ke luar lapangan, apalagi mencetak gol, ia selalu bikin tanda salib. Untuk gereja Katoliknya, Maradona tetap menaruh hati. Segila dan sebengal apa pun seorang Maradona, seperti orang Argentina pada umumnya, ia masih percaya kepada Tuhan Yesus dan sangat menghormati Paus.

 

Maradona nampak menahan air mata, menyaksikan pengumuman “Habemus papam” di televisi. Dari Abu Dhabi, ibukota Uni Emirat Arab, tempat ia melatih club Al-Wasl SC sekarang ini, Maradona kegirangan ketika tahu seorang “Papa Argentino” terpilih. Ia langsung menelpon penasehat hukumnya di Italia: Angelo Pisani.

 

Kepada Angelo Pisani, Maradona bilang bahagia sekali dengan terpilihnya Paus dari Argentina. Kalau nanti ke Itali, ia minta tolong dijadwalkan audiensi pribadi dengan Paus Fransiskus.

 

Koran Argentina La Nación juga memuat wawancara dengan Maradona, beberapa saat setelah Paus terpilih. Menurut La Nación, sambil bercanda Maradona bilang : “El dios del fútbol es argentino y ahora también el Papa es argentino, una cosa que hace sentir feliz a su país” (Tuhannya sepak bola adalah orang Argentina, sekarang Paus pun orang Argentina. Seluruh negeri Argentina pasti bahagia sekali).

Maradona pernah dijadikan “Tuhan” dan “dewa” sepakbola. Kini, “sang Tuhan” bola mengakui, ada Tuhan sesungguhnya yang membuat sebuah mukjijat. Tuhan semacam itu telah memilih seorang Argentina, usia 76 tahun, hanya punya satu paru-paru, seorang Jesuit, memilih nama Fransiskus Assisi, untuk menjadi Paus, pemimpin 1,2 milyar orang Katolik dunia. Tak pernah ada seorang pun di dunia ini, yang pernah menjadi pemimpin lebih dari 1 milyar orang, kecuali Paus Gereja Katolik.

 

Papa Cuervo, hincha San Lorenzo

 

Selain Maradona, yang paling berbahagia dengan terpilihnya Bergoglio menjadi Paus adalah para supporter kesebelasan San Lorenzo. Kardinal Bergoglio adalah seorang “hincha” (supporter, tifoso) kesebelasan San Lorenzo. Ia bukan sekedar penggembira dan anggota kehormatan biasa.

 

Mantan Uskup Agung Buenos Aires ini juga bukan anggota club San Lorenzo yang sembarangan. Ia punya kartu anggota, yang diterbitkan pada 12 Maret 2008 dengan nomor : 88235N-O. Tidak semua Uskup Agung Buones Aires secara “ex officio” adalah anggota kehormatan kesebelasan San Lorenzo.

 

Dari semua Uskup Ibukota Argentina, hanya Bergoglio saja yang pernah secara resmi menjadi pendukung kesebelasan San Lorenzo. Sebagai “pastor jalanan”, Bergoglio memang dikenal dekat dan akrab dengan warga Almagro di wilayah Boedo, Buenos Aires. Wilayah Almagro, menjadi wilayah yang paling heboh dan gempar, ketika tahu gembalanya terpilih menjadi Paus. Ibu-ibu menangis. Anak-anak muda berteriak-teriak gembira, melambai-lambaikan bendera Argentina dan bendera San Lorenzo. Terompet, peluit, apa saja dibunyikan. “Ketika Argentina juara dunia sepakbola saja, di sini hebohnya tidak seperti ini”, kata Amelia Rodriguez, seorang ibu muda di Almagro.

 

Dalam kegembiraan yang tak terkirakan karena ada supporter club San Lorenzo yang menjadi Paus, Presiden Club Matias Lammens dan Sekrearisnya Marcelo Vazquez, langsung menulis surat kepada “su Santidad Francisco“, kepada Bapa Suci Fransiskus.

 

San Lorenzo sangat bangga memiliki pendukung setia yang terpilih menjadi Paus. Matias Lammens mengenang Kardinal Bergoglio yang mempersembahkan misa di stadion  San Lorenzo, merayakan seabad lahirnya club pada tahun 2008.

 

“Bagi kami, Anda bukan hanya seorang Paus Argentina, Paus Amerika Latin atau Paus Jesuit yang pertama,  tetapi  Papa Cuervo (“Paus Elang”) kami”, tulis Presiden Club San Lorenzo dalam suratnya kepada Paus.

 

 Tifosi fanatik San Lorenzo, memang dijuluki “i corvi” si burung elang. Bagi San Lorenzo,  kini Papa Cuervo sudah menjadi “elang” mereka di tahta Santo Petrus. Paus Fransiskus akan tetap setia menjadi “cuervo” dan “hincha” San Lorenzo.

 

Dalam menghormati Paus, kesebelasan San Lorenzo menempelkan foto Bergoglio di seragam tanding mereka. “PSSI”-nya Argentina AFA (Association de Futbol Argentino), sudah merestui dan meresmikan perubahan kaos resmi San Lorenzo ini.

 

Katekese bola Don Lorenzo dan Papa Cuervo

 

Kesebelasan San Lorenzo de Almagro, dari wilayah Boedo di Buenos Aires Buenos Aires, yang dicintai Paus Fransiskus ini, memiliki sejarah yang panjang. Adalah Pastor Lorenzo Massa, misionaris Salesian dari Italia, yang memprakarsai berdirinya kesebelasan ini.

 

Tahun 1909, Romo Lorenzo Massa yang menjadi Romo Paroki di Almagro sangat prihatin karena anak-anak tidak suka ke Gereja. Setiap hari anak-anak itu lebih suka main bola di jalanan. Sampai suatu ketika, ada anak yang meninggal tertabrak trem gara-gara main di jalanan. Romo Lorenzo lalu meminta semua anak main bola di halaman gereja.

 

Syaratnya : setiap Minggu mereka harus ikut misa di Gereja dan menjadi misdinar. Begitulah katekese bola Don Lorenzo berjalan. Setelah pastor paroki yang baik ini meninggal, klub bola yang didirikannya diberi nama San Lorenzo, untuk mengenang jasa Romo Lorenzo Massa.

 

Selama 104 tahun, kesebelasan San Lorenzo dari Almagro ini berhasil mempersembahkan 2 Copa America dan 14 kali juara Liga Argentina. Sayang mereka belum pernah menjadi juara Piala Libertadores.

 

Setelah Paus Fransiskus terpilih, seorang pendukung setia San Lorenzo bernama Daniel Gonzalez mengatakan : “This new pope is a fan of San Lorenzo and that is worth five Copas Libertadores!”  

 

Paus Fransiskus sendiri kalau ditanya, team San Lorenzo mana yang paling mengesankan, ia akan menjawab: team San Lorenzo tahun 1946.  Setelah menjadi juara Liga Argentina pada tahun 1933, tahun 1946 San Lorenzo juga menjadi juara, meretas dominasi club Boca Juniors dan River Plate. Ezequiel Lavezzi, yang sekarang bermain di Paris Saint Germain bersama Ibrahimovich, Diego Pablo Simeone pelatih Atletico Madrid, mantan gelandang hebat kesebelasan Inter dan Lazio, serta Ivan Cordoba mantan pemain belakang Inter yang tangguh, adalah alumni Club San Lorenzo. Mereka semua sangat bangga memiliki Paus Argentina yang menjadi pendukung setia San Lorenzo.

 

Sehari setelah Paus Fransiskus terpilih, Martín Caparrós jurnalis Argentina dan juga penulis novel “The Vanishing of the Mona Lisa”, menulis di harian New York Times demikian:

 

“It could have been presented as a major national triumph: the election of Our Pope, the Argentine who made it abroad, the final confirmation that, yes, God is Argentine.  This week, Habemus papam — we have a pope — became an Argentine idiom. His election underlines the assumption that the center of Catholicism is shifting to the world’s poorer regions of Africa, Asia and Latin America. And yet in his own country, the poor are migrating en masse to Pentecostal and other Christian churches that are more charismatic and less institutionally compromised than the Old Lady from Rome.” 

 

“Perhaps Pope Francis’ election will reverse that shift. In fact, I dread the effect that this unexpected divine favor will have on my country. We are a society that turned to tennis once Guillermo Vilas won a Grand Slam in France; grew obsessed with basketball when Manu Ginobili made his mark in the American N.B.A.; started raving about monarchy when an Argentine-born princess married the crown prince of the Netherlands; and has persisted in doubting Jorge Luis Borges’s value because he never won the international honor of a Nobel Prize.”

 

“The fact that “one of us” is now sitting on St. Peter’s throne may have a huge effect on the weight of Catholicism on our lives.  Catholicism has never excelled at letting nonbelievers live as they believe they should. The right to legal abortion, for one, will be a ruthless field of that battle: “our” pope will surely never allow his own country, where legal abortion remains severely limited, to set a bad example. Here, as everywhere, the Vatican is a main lobbying force for conservative, even reactionary, issues. An Argentine pope can bring this power to uncharted heights. Or perhaps not. I hope I am wrong: it has often been my lot. For infallibility, please ask for el Papa Francisco.”

 

Ketika audiensi dengan para jurnalis seusai konclaf, Bergoglio mengaku memilih nama Fransiskus, karena terinspirasi Kardinal Claudio Hume dari Brasil. Di Kapel Sistina, setelah forum terpenuhi dan Bergoglio terpilih menjadi Paus, Kardinal Hume yang duduk di sebelah Bergoglio memeluk dan berbisik : “Terima saja. Jangan lupakan orang miskin”.

 

Kardinal Hume adalah seorang Fransiskan.

 

Kalimat “jangan lupakan orang miskin” dari mulut seorang Kardinal Fransiskan, membuat Bergoglio memilih nama Fransiskus. Nama yang akan mewakili doa, harapan dan kerinduan kita semua memiliki gereja yang menyatu dengan yang miskin, seperti kisah Club San Lorenzo. Itu juga semangat Konsili Vatikan II.

 

Dan benar kata Caparrós : “God is Argentine !

 

Semoga sama seperti di Kapel Sistina, Kardinal Bergoglio dari  Argentina bertemu di final dengan Kardinal Hume dari Brasil, final Piala Dunia Sepakbola 2014 nanti juga akan mempertemukan Argentina lawan Brasil. Dan semoga, “tangan Tuhan”akan kembali memanjakan Argentina. Kali ini saya tidak menjagokan Italia, sama seperti ketika saya juga tidak menjagokan Kardinal Scola.

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.