Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Maradona, Messi, dan Paus! Tuhan itu bernama Argentina (18A)

< ![endif]-->

maradonahandgod595

PAUS Fransiskus memang fenomenal. Sudah sepekan lebih,  cerita apa pun tentang Papa Argentino mendominasi halaman utama koran, majalah dan situs berita dunia, lebih-lebih di Amerika Latin. Tweeter dan Facebook, mendongkrak secara drastis popularitas Paus Fransiskus. “Los argentinos dominamos el mundo” (Argentina mendominasi dunia), begitu “kicauan” para pengguna Tweeter di Argentina.

 

Paus Fransiskus kini masuk dalam deretan bintang-bintang Argentina yang sudah mendunia. “Papa, Reina, Messi, Maradona, Caruso Lombardi, Borges, Gardel. Y la lista sigue!,” Susana Giménez, presenter televisi Argentina tak menyembunyikan kegembiraannya.

 

Ia nge-”tweet” : “¡Viva el Papa, viva la Argentina! Dios está con nosotros” (Hidup Paus, hidup Argentina ! Tuhan beserta kita). Argentina memang pantas bangga dan bergembira, memiliki “El Papa Argentino”.

 

Kemenangan Argentina atas Brasil dan Itali

 

“Kemenangan” seorang putra Argentina dalam pemilihan Paus, tentu harus dihubungkan dengan sepakbola. Di negara-negara Amerika Latin, termasuk Argentina, sepakbola sudah menjadi “la seconda fede” (iman atau agama kedua).

 

Kemenangan Kardinal Bergoglio menjadi Paus, sama hebatnya dengan kemenangan kesebelasan Argentina menjuarai Piala Dunia. Bergoglio bahkan dianggap lebih hebat, karena berhasil mengalahkan 2 “lawan” sekaligus yaitu Scherer dari Brasil dan Angelo Scola dari Italia.

 

Sebelum konclaf, semua media jelas-jelas menjagokan Scherer dan Scola. Ternyata benar kata orang Itali : “chi entra Papa, esce Cardinale”, siapa (difavoritkan menjadi) Paus, (biasanya) ke luar (dari konclaf) sebagai Kardinal.

 

Bergoglio, yang semula dipandang sebelah mata, mengalahkan calon favorit dari Brasil dan Italia itu.

 

Dalam sepakbola, Brasil dan Itali selalu dianggap Argentina sebagai “musuh bebuyutan”. Dalam sepakbola, Argentina memang kalah pamor dari Brasil dan Itali. Dalam sejarah sepakbola, hanya Brasil dan Itali yang paling banyak meraih gelar juara dunia. Brasil juara dunia 5 kali (1958, 1962, 1970, 1994, 2002). Itali juara dunia 4 kali (1934, 1938, 1982, 2006). Argentina baru 2 kali juara (1978, 1986).

 

Dengan kemenangan Paus Fransiskus mengalahkan kardinal-kardinal favorit dari Brasil dan Italia, Argentina kini jadi lebih yakin akan bisa memenangkan Piala Dunia 2014 di Brasil nanti. Tuhan lagi berada di fihak Argentina!

 

Bursa taruhan juga kena imbas terpilihnya Paus dari Argentina. Mereka langsung menaikkan peringkat Argentina sebagai favorit juara Piala Dunia 2014.

 

Jacobo Winograd (@JacoWinograd), seorang penggila bola dari Argentina, menuliskan optimisme Argentina itu : “Con D10S, el Messias y el Papa que se agarren los brasucas que en el 2014 nos llevamos la copa” (Dengan bantuan “Tangan Tuhan” (julukan untuk Maradona), Sang Messias (julukan untuk Messi) dan Paus, kita akan menghajar Brasil pada Piala Dunia 2014 dan akan mengangkat piala itu).

 

Lionel Messi, “sang Mesias” dalam Tweeternya juga mengatakan hal yang sama: “Terpilihnya Paus dari Argentina, pasti menambah semangat kami untuk meraih Piala Dunia 2014 nanti“.

 

Tangan Tuhan “bermain” lagi untuk Argentina

Tentang Paus dan sepakbola, tabloid laris Daily Mirror dari Inggris pada edisi 14 Maret 2013 memberi judul besar di halaman cover depannya : “The New Hand of God”. Menurut tabloid ini, terpilihnya Kardinal Argentina menjadi Paus, mengingatkan bahwa “Tangan Tuhan” lagi-lagi berpihak pada Argentina.

 

Inggris tidak akan pernah lupa pada drama yang pernah terjadi di Stadion Aztec Mexico pada 22 Juni 1986. Pada perempat final yang disaksikan lebih dari 100 ribu penonton, kesebelasan Inggris kalah 2-1 dari Argentina. Kedua gol Argentina dicetak oleh Maradona, El Pibe de Oro (The Golden Boy).

 

Dalam waktu 5 menit, Maradona mencetak gol yang sangat fantastis. Menit ke-51, Jorge Valdano mengoper bola tinggi ke depan gawang Inggris.  Kiper Peter Shilton yang tingginya hampir 190 cm berduel dengan Maradona yang tingginya cuma 158 cm. Sambil melompat, Maradona meninju bola dengan tangannya, dan gol !

 

Wasit Ali Bennaceur dari Tunisia mengesahkan gol itu. Ia tidak peduli dengan protes para pemain Inggris. Wasit memang tidak melihat bahwa Maradona menceploskan bola dengan tangannya.

 

Kepada para wartawan yang mengerumuninya, Maradona mengakui gol itu terjadi karena : “A little of the hand of God and a little of the head of Maradona!

 

Sejak saat itu, nama Maradona melekat erat dengan hand of God, tangan Tuhan. Gol itu pun disebut sebagai “gol tangan Tuhan”.

 

Pada menit ke 55, Maradona kembali membuat stadion gempar. Dari tengah lapangan, Maradona meliuk-liuk menggiring bola melewati 6 pemain, memperdaya Peter Shilton dan menyontek bola dengan kaki kirinya. Gol yang sangat indah! Gol ini dinyatakan sebagai gol terbaik abad ini, bahkan gol terbaik millennium ini. Gol Gary Lineker pada menit ke-81 yang mengubah skore menjadi 2-1, tidak ada apa-apanya dibanding kedua gol Maradona itu.

 

Nama Maradona akan terus dikenang sebagai “Tuhan”-nya sepakbola. Banyak yang percaya ia adalah mukjizat yang turun dari surga sana. Guyonan “tangan Tuhan” yang ke luar dari mulutnya pada tahun 1986 itu dipercaya oleh beberapa orang sebagai “wahyu”.

 

Gereja Maradona

 

Pada tahun 2001, tiga orang pemuja Maradona yaitu Hernán Amez, Alejandro Verón and Héctor Campomar, mendirikan “Maradonian Church”, Gereja Maradona. Gereja yang percaya pada “El Diego” sebagai Tuhan ini, didirikan di kota Rosario, kota yang jaraknya 200 km dari Buenos Aires. Menurut websitenya, gereja Maradona ini memiliki 200 ribu pengikut, yang tersebar dari Argentina, Amerika, Mexico, Spanyol, Filipina dan Australia.

 

Mau tahu, doa Bapa Kami versi “gereja” ini ? Ini saya kutip:

 

Our Maradona who art in soccer field, hallowed by Thy left hand, Thy magic come, Thy goals will be remembered on earth as it is in Heaven. Give us this day your daily magical playing style, and forgive the British as we forgive the Neapolitan Mafia. And lead us not into off-side but deliver us from João Havellange and Pelé

 

Ada-ada saja! (Bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.