Pijar Vatikan II: Semangat Persaudaraan Lintas Agama dan Kelompok (21E)

< ![endif]-->


LEPAS dari opini-opini politis kunjungan Paus itu, yang pasti umat Katolik sangat berterimakasih kepada Pemerintah Indonesia dan jajarannya, yang memungkinkan Paus JP2 datang ke Tanahair.Tak bisa dihitung, berapa orang yang terlibat dalam kunjungan Paus sejak dalam persiapannya.Berapa banyak anggota TNI dan Polri  yang menjaga keamanan kunjungan Paus dengan begitu baik. Tak terhitung mereka yang mempersiapkan panggung, dekorasi, tempat, sound system.

 

Juga para pemusik dan penari.Hebatnya, mayoritas dari mereka itu bukan Katolik.

 

Di Dili, tim yang mempersiapkan panggung dan altar untuk Paus adalah tim yang dipimpin oleh saudara yang beragama Islam. Di Medan, beberapa tamu VIP seperti Gubernur Radja Inal Siregar, di tengah misa meninggalkan kursinya untuk sembahyang Jumat. Seusai sholat Jumat, mereka kembali lagi ke tempat duduk untuk mengikuti lagi misa dengan Paus. Kehadiran seorang Paus di Indonesia, ternyata pernah mempersatukan begitu banyak orang, siapa pun mereka, apa pun jabatan dan agamanya.

 

POPE JOHN PAUL II

Pesan utama kotbah Paus JP2

 

Selama berkunjung ke Indonesia dan merayakan misa bersama umat, pesan utama kotbah Paus pada hemat saya cuma satu: “Jadilah garam dan terang dunia”.

 

Di Jakarta, Paus mengharapkan agar umat Katolik Indonesia hendaknya menjadi garam dan terang dunia untuk bangsa, negara dan masyarakat Indonesia. Di Yogyakarta, Paus JP2 ingin agar Gereja Katolik menjadi garam dan terang dengan berinkulturasi dalam budaya setempat.

 

Di Maumere, Paus mengingatkan pentingnya devosi kepada Bunda Maria. Dan di Medan, Paus menekankan pentingnya peranan kaum awam dalam menjadi garam dan terang dunia.

 

Kotbah Paus JP2 yang paling ditunggu pemerintah Indonesia dan dunia adalah kotbah di Dili. Dalam kotbahnya, Paus JP2 sama sekali tidak menyinggung soal status negara dan masalah politik antara Indonesia dan Timtim. Padahal itu yang paling ditunggu para insan pers. Tidak mau terjebak dalam konflik politik, Paus menegaskan kembali posisinya sebagai Gembala umat.Ia menyerukan agar umat melupakan masa silam yang kelam dan melakukan rujuk.

 

“Kalian telah mengalami kehancuran dan kematian akibat konflik,” kata Sri Paus dalam bahasa Inggris, yang langsung diterjemahkan ke Bahasa Tetun.

 

“Banyak orang tak bersalah telah tewas, dan lainnya menjadi korban pembalasan serta dendam,” tuturnya lagi.

Dan sudah terlalu lama situasi tak stabil berjalan.

 

“Situasi depresif ini menyebabkan kesulitan ekonomi yang, kendati diupayakan untuk mengatasinya, tetap ada”, katanya.

 

Maka, Paus pun mengatakan, “Tanah kalian sangat memerlukan penyembuhan Kristiani dan rekonsiliasi.”

 

Oleh karena itu, iamenganjurkan umat agar menjadi masyarakat yang rujuk. Kendati diakuinya, “Tidaklah selalu mudah untuk menemukan keberanian dan kesabaran yang diperlukan bagi rekonsiliasi.”

 

Sri Paus, yang mendapat belasan kali tepuk tangan dalam khotbahnya di Dili itu, mengingatkan umat tentang keyakinan iman Katolik bahwa, “kasih akan mampu menembus semua batas, antarnegara, masyarakat, ataupun budaya.”

 

Sri Paus pun lantas mengutip sabda Yesus, “Maafkanlah, dan engkau akan dimaafkan.”

 

Maka, umat pun seolah teringat kembali akan maaf yang diberikan Sri Paus kepada penembaknya di Vatikan, pada tahun 1983. Tanpa menyebut nama suatu pihak, pemimpin tertinggi umat Katolik ini menyatakan, “Saya berdoa agar mereka yang bertanggungjawab terhadap kehidupan di Timor Timur akan bertindak arif dan bersahabat pada semua pihak, dalam upaya mereka mencari penyelesaian terhadap kesulitan yang ada sekarang.”

 

Ia lalu mengimbau agar secepatnya dicari penyempurnaan kondisi, “yang membentuk kehidupan sosial yang harmonis, yang sesuai dengan tradisi dan kebutuhan kalian.”

 paus yohannes paulus II rambute terbang

Kerukunan umat di Indonesia dan Pancasila

 

Sebelum meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan kunjungannya ke Mauritius, Paus JP2 sempat berpamitan dengan Presiden Soeharto.

 

Dalam pidato perpisahannya, Paus terkesan dengan kerukunan umat beragama di Indonesia. Semua yang hadir pada sore itu, memberi kesan yang sama: Paus mengatakan hal ini dengan tulus hati.

 

Menurut Menteri Sekretaris Negara waktu itu Moerdiono, Paus JP2 juga mengatakan bahwa ideologi negara Indonesia, Pancasila, sangat berperan dalam menghasilkan kehidupan beragama yang harmonis dan mendukung pembangunan nasional Indonesia. Sebenarnya Vatikan sudah cukup lama mendengar dan mengetahui ideologi negara Indonesia Pancasila yang unik itu.Karena ideologi Pancasila ini juga maka kendati Indonesia memiliki jumlah umat Islam terbesar di dunia, tetapi Indonesia tidak pernah menjadi negara Islam.

 

Vatikan juga sudah mengetahui bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi jaminan hidup rukun di antara semua golongan suku, agama dan ras di Indonesia yang bermacam-macam itu. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa ideologi Pancasila inilah yang membuat  Vatikan memutuskan untuk segera mengakui kemerdekaan Indonesia, yang diproklamirkan Soekarno-Hatta pada tahun 1945.

 

Bersama Mesir, Vatikan termasuk sedikit negara yang paling pertama mengakui kemerdekaan Indonesia.

 

Dalam kunjungannya ke Indonesia, maka Paus JP2 menyambut baik ajakan pertemuan dengan para tokoh dan pimpinan agama di Indonesia.

 Paus Yohannes Paulus II dan Mehmet Ali Agca

Pertemuan ini dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah pada tanggal 10 Oktober 1989, pagi hari sebelum Paus terbang ke Yogya. Selain para tokoh agama, pertemuan yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah itu, juga dihadiri oleh anggota MPR, DPR, DPA serta para pejabat tinggi pemerintah.

Termasuk di antaranya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Soepardjo Rustam, Menteri P&K Fuad Hassan, dan Menteri Agama Munawir Sjadzali.

 

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Agama Munawir menjelaskan, kendati sejarah menunjukkan bahwa perbedaan agama dapat meletupkan ketegangan dan perang, keragaman agama di Indonesia tak pernah menjadi sumber konflik.”Memang benar bahwa Islam merupakan mayoritas di negara ini, tetapi kami tak mengenal istilah mayoritas dan minoritas,” kata Munawir.

 

Sementara itu, Sekjen Majelis Ulama Indonesia H. Sudjono mengatakan, kerukunan antar umat beragama sudah hadir di Indonesia sebelum penjajah Eropa datang ratusan tahun lalu.

 

Adalah penjajah Eropa ini, menurut H.Sudjono, yang merebakkan konflik di antara rakyat Indonesia dengan menggunakan isu perbedaan agama. Hanya setelah melalui perjuangan yang panjang dan berat, rakyat Indonesia berhasil merebut kemerdekaan, melahirkan UUD 45, yang menyebabkan semua agama di Indonesia dapat berkembang. Para wakil dari agama Protestan, Hindu, Buddhisme, pada intinya menyatakan, kendati jumlah mereka relatif kecil sekali di Indonesia, pengembangan keyakinan agama masing-masing dapat berjalan lancar.

 

Paus, yang tampak duduk terpekur mendengarkan ucapan para wakil umat beragama di Indonesia itu, kemudian berdiri dan berbicara. Dengan suara baritonnya yang berwibawa ia menganjurkan agar, “umat Katolik Indonesia, yang hidup di tengah budaya yang beragam ini, memperlakukan umat lainnya dengan semangat persaudaraan melalui dialog.”

 paus yohannes paulus II tersenyum simpul

Refleksi Kunjungan Paus JP2 pada Tahun Iman ini

 

Kunjungan Paus JP2 yang bersejarah dan tak akan terlupakan ini, terjadi 24 tahun yang lalu. Sejak saat itu, belum ada lagi Paus yang mengunjungi Indonesia.

 

Memang “kunjungan seorang Paus” ke Indonesia mungkin tidak menjadi bagian penting iman kita. Kunjungan Paus juga tidak menentukan keselamatan !Tapi tanyalah kepada umat yang sederhana.Saya rasa sebagian terbesar umat Katolik di Indonesia pasti senang dan merindukan kunjungan seorang Paus ke negeri ini.Kita semua merindukan sosok yang dihormati, yang bisa mempersatukan. Diam-diam, umat Kristen yang tidak Katolik juga merindukan Pemimpin tertinggi dan Gembala pemersatu kelas dunia seperti Paus kita.

 

Kunjungan Paus JP2 24 tahun yang lalu telah berbicara banyak. Ia hanya berkunjung ke Indonesia selama 5 hari. Tapi dalam waktu kurang dari seminggu itu, ia telah “menaklukkan” hati jutaan orang. Lihat saja betapa terpesonanya ratusan ribu orang yang dengan tertib, di Jakarta, Yogyakarta, Dili, Maumere, dan Medan, menyambutnya atau mengikuti misa yang dipimpinnya. Atau simaklah ucapan Frans Seda, bekas Ketua Panitia Pelaksana Panitia Penyambutan Sri Paus, “Kini kami telah melihat wajahmu, Bapa Suci, dan kami mencintaimu.”

 

Pada tahun 2013 ini, di saat kita merayakan Tahun Iman dan 50 tahun Konsili Vatikan II, sosok Paus JP2 tinggal menjadi kenangan. Mereka yang pernah melihat Paus JP2 yang besar, hebat dan fenomenal ini, tak pernah berhenti bersyukur. Bahkan sampai kapan pun, kita semua tak akan pernah berhenti bersyukur Tuhan pernah menganugerahi kita seorang Pemimpin Gereja sehebat ini.

 

Kalau sebentar lagi, Gereja akan menyatakan Paus JP2 sebagai “orang suci” sebagai Santo, pada hemat saya itu terjadi bukan karena almarhum Paus JP2 pernah membuat banyak mukjizat penyembuhan.

 

Paus JP2 akan menjadi Santo, yang disucikan, karena seluruh hidupnya, setiap saat sampai kematiannya, menjadi injil yang hidup. Dalam bahasa Konsili Vatikan II, seperti Kristus sendiri dan gerejaNya, Paus JP2 adalah  “Lumen Gentium” dan “Gaudium et Spes” bagi kita semua.

 

Kita semua rindu, kehadiran sosok pemersatu dan karismatis, yang bisa membuat orang yang membencinyapun menjadi lilih karena melihat ada “kebesaran cinta Tuhan” dalam seluruh hidup, tindakan dan kata-katanya. Marilah di Tahun Iman ini kita berdoa, semoga Tuhan mengembalikan lagi suasana kasih dan persaudaraan yang kita alami ketika Paus JP2 mengunjungi kita 24 tahun yang lalu.

 

Bagi yang mau mencermati lagi homily dan pidato Paus JP2 selama kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1989 tsb, silahkan mampir di :

http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/homilies/1989/index_en.htm

http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/speeches/1989/october/index.htm

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.