Pijar Vatikan II di Tahun Iman: If You Have a Tough Job, Hire a Jesuit! (19A)

SJ logo 2

SEHARI setelah terpilihnya Kardinal Jesuit Bergoglio menjadi Paus, majalah bisnis terkemuka Forbes menurunkan berita menarik: Jesuit to the Rescue.  Tulisan John Baldoni di majalah Forbes ini diawali dengan kalimat: “If you have a tough job to do, hire a Jesuit !”

 

Seperti penulisnya, banyak di antara kita juga masih penasaran: “apakah memang pertanyaan seperti itu yang ada di benak para Kardinal dalam conclave, sampai memilih seorang Jesuit menjadi Paus ?”

 

Dalam kacamata bisnis, menurut Forbes, memang masalah yang dihadapi Gereja Katolik sekarang ini sangat ruwet, multi complex. Untuk mengatasinya, dibutuhkan: seorang manager dan pemimpin yang benar-benar “mumpuni”.

 

Menurut John Boldoni, beda seorang manager dan seorang leader adalah: “Managers know how to get the trains to run on time; leaders know how to get people to want to ride those trains”.

 

Apakah Bergoglio, Paus Jesuit itu, memenuhi kriteria tersebut ?

 

4 kriteria pmimpin a la Jesuit

 

Ada buku menarik berjudul  “Best Practices from a 450 Company that Changed the World”, yang barangkali bisa menjawab pertanyaan tersebut.

 

Buku ini ditulis oleh Chris Lowney, seorang mantan frater Jesuit dan pernah menjadi Managing Director  J.P. Morgan & Co.

 

Ia juga pernah menjadi pejabat tinggi J.P.Morgan di New York, Tokyo, Singapore, London.

 

Di dunia perbankan dan keuangan internasional, nama Chris Lowney dikenal sebagai pakar yang disegani. Ia lulus summa cum laude dari Universitas Jesuit Fordham di New York dan anggota komunitas bergengsi Phi Beta Kappa. Tentu saja, dalam pemikiran dan analisanya, Lowney banyak menyelipkan ide-ide “spiritualitas Jesuit” yang pernah ia jalani.

 

Menurut Lowney, seorang pemimpin, apalagi pemimpin Jesuit sekelas Bergoglio, mesti memiliki 4 pilar ini:

 

·         Self-awareness. A leader must know his capabilities. That means he also knows his limitations. A leader steeped in self-knowledge surrounds himself with people who complement his abilities and compensates for his strengths.

·         Ingenuity. Good leaders are curious; they also look beyond the ordinary to see what is possible, rather than what is impossible. They like challenges and embrace them.

·         Love. Legendary football coach Vince Lombardi, himself Jesuit educated, used to opine about how his players needed to love one another. What he meant by that was you have to care about others. When you do, you want to do your best for them… as well as yourself.

·         Heroism. Think big. Make things happen. Great leaders are driven by a higher purpose. In the case of Jesuits, it is service to God as well as to man. But, as I was taught, you can only appreciate God if you work for and with men. That is, you need to make things happen. Jesuits are entrepreneurial; they refuse to accept the first no and instead strive to make a positive difference.

 

Jadi menurut Lowney, seorang pemimpin (entah itu pemimpin perusahaan, pemimpin politik, pemimpin pemerintahan atau pemimpin apapun), mesti memiliki kesadaran diri, keaslian, cinta dan kepahlawanan. Tanpa itu semua, ia tidak bisa disebut pemimpin.

 

Jesuit luar dalam dan perumpamaan burung merak

 

Bahwa Paus Fransiskus yang “kebetulan” seorang Jesuit, memenuhi 4 pilar itu, kita tidak kekurangan cerita. Nama yang dipilihnya : Fransiskus, “il Santo” (Sang Santo) dari Assisi yang miskin dan sederhana, sudah berbicara banyak. Kemiskinan dan kesederhanaan itu menjadi visi dan misi kepausannya. Ketika terpilih dan diumumkan menjadi Paus di balkon Basilika Santo Petrus, ia tidak mengenakan mantel merah kebesaran seorang Paus. Cukup jubah putih sederhana. Salib dan cincin kepausan yang dikenakan, juga dari logam yang murah saja, tidak dari emas.

 

Baru beberapa menit terpilih menjadi Paus, ia langsung membuat gebrakan.

 

13 Maret 2013 malam, di balkon itu, ia mengucapkan kata-kata bersejarah: “Sebelum saya memberi berkat, tolong kalian memberkati dan mendoakan saya terlebih dulu!”

 

Ia lalu membungkuk, hening, dan minta doa dari ratusan ribu umat yang hadir.

 

Ungkapan kerendahan hati yang belum pernah terjadi dalam sejarah kepausan!

 

Baru sehari menjadi Paus, ia bikin kejutan lagi. Pulang dari Basilika Santa Maria Maggiore, ia ikut rame-rame naik “metro mini” dengan para Kardinal yang lain, tidak naik sedan kepausan.

 

Dari Basilika Maria Maggiore, Paus Jesuit ini datang ke Casa del Clero, tempat menginapnya sebelum conclave. Ia membayar sendiri rekening pengingapannya.  Sampai hari ini, ia tidak mau tinggal di Istana Kepausan. “Rumah itu bisa menampung 300 orang. Lagi pula, kalau di situ saya kesepian. Saya pengin punya teman ngobrol”, ujarnya di telpon kepada sahabat imam setahbisannya di Buenos Aires.

 

Paus Jesuit ini juga tidak segan-segan menelpon sendiri tukang korannya di Argentina untuk  menghentikan langganan, karena saya “terpaksa tinggal di Roma dan jadi dengan sangat menyesal tidak bisa melanjutkan langganan koran kamu  lagi”.

 

Hidup sederhana di rumah susun, di lingkungan padat penduduk, masak dan mencuci pakaian sendiri, naik subway, bis, atau angkutan umum lain, menjadi keseharian yang biasa ia jalani. Seperti orang Argentina pada umumnya, Bergoglio juga seorang penggemar sepak bola dan jago menari tango.

 

Itu cerita Paus baru kita ini tentang style atau gayanya, yang memang asli dan tidak dibuat-buat. Mengesankan !

 

Di balik gaya atau style itu, ada nilai dasar yang memang ingin terus ia ungkapkan: iman pada Yesus itu tidak main-main! Itulah inti ajaran Konsili Vatikan II, yang dicanangkan Paus Benedictus XVI pada Tahun Iman  “Percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan pasti kepada keselamatan” (Surat Apostolik Porta Fidei no.3).

 

Ini pula inti spiritualitas Jesuit yang diajarkan Ignatius Loyola pendirinya. Minggu kemarin, ketika mengumumkan penunjukan salah satu Kepala Kuria Vatikan yang baru, Pemimpin Fransiskan José Rodriguez Carballo sebagai Sekjen Hidup Bakti dan Serikat Kerasulan, Paus Fransiskus menegaskan: “Faith cannot be negotiated, it requires courageous testimony”, iman itu tidak bisa dinegosiasikan.

 

Iman menuntut kesaksian yang berani.

 

Dalam wawancara menjelang conclave dengan Andrea Tornielli, Vaticanista dari Koran La Stampa, Bergoglio dengan tegas mengatakan:  “La vanità, il vantarsi di se stessi, è un atteggiamento della mondanità spirituale, che è il peccato peggiore nella Chiesa. È un’affermazione questa che si trova nelle pagine finali del libro “Méditation sur l’Église” di Henri de Lubac. La mondanità spirituale è un antropocentrismo religioso che ha degli aspetti gnostici. Il carrierismo, la ricerca di avanzamenti, rientra pienamente in questa mondanità spirituale. Lo dico spesso, per esemplificare la realtà della vanità: guardate il pavone, com’è bello se lo vedi da davanti. Ma se fai qualche passo, e lo vedi da dietro, cogli la realtà… Chi cede a questa vanità autoreferenziale in fondo nasconde una miseria molto grande” !

 

(Kepongahan, mencari untung bagi diri sendiri, adalah salah satu bentuk sikap spiritualitas duniawi. Dan ini adalah dosa Gereja yang paling buruk. Penegasan mengenai hal ini, bisa kita lihat pada halaman-halaman terakhir buku “Meditasi tentang Gereja” karya Pastor Henri de Lubac. Spiritualitas duniawi adalah satu bentuk antroposentrisme agama yang memiliki aspek gnostis. Mencari karir, suka pada barang-barang dan hal-hal baru, termasuk pada kategori spiritualitas duniawi ini. Saya cukup sering bicara mengenai hal ini. Tentang kesombongan atau kecongkakan, lihat saja burung merak. Dari jauh sangat mempesona. Begitu didekati, apalagi dilihat dari belakang, baru ketahuan nyatanya. Siapa  terikat pada kecongkakan dan egoisme semacam ini, akan menemukan kesedihan besar yang tersembunyi di belakangnya). Dalam konteks ini, para Uskup, para Kardinal, para pejabat Kuria Vatikan, bahkan seorang Paus, menurut Bergoglio adalah  “hamba Tuhan, bukan agen LSM” (non sono gli agenti di una ONG, ma sono servitori del Signore).

 

Dari beberapa kesaksian itu, jelas Paus Fransiskus sudah sangat baik menghayati aspek lahir-batin hidupnya sebagai Paus dan aspek luar-dalam kiprahnya sebagai Jesuit. Ia tidak cuma pandai bicara dan berwacana.

 

Ia menghidupi kata-katanya.

 

Ketika Tuhan yang dia imani meminta menjadi pelayan, ia tak segan mencuci kaki para tahanan di penjara, mencium kaki mereka. Ketika Tuhan yang ia jadikan pusat hidup menyerukan berpihak pada yang sakit, yang lemah, yang miskin, Paus Fransiskus tak segan keluar dari protokoler kepausan, mencium dahi penderita lumpuh dan anak-anak.

 

Ketika di Argentina, ada banyak imam yang memiliki “hidup ganda”: masih menjadi imam tetapi memiliki anak di luar nikah, dengan penuh kebapakan ia meminta supaya imam-imam itu meninggalkan jabatannya dan menikahi wanitanya.

 

“Cinta kepada sesama, adalah ungkapan cinta kepada Tuhan. Kamu tidak memiliki cinta yang benar, kalau membiarkan anak itu lahir dan besar tanpa ayah. Pergi dan perjuangkan cinta itu bersama anak dan wanitamu. Itu keluarga yang harus kamu cintai secara nyata !”, demikian kurang-lebih pesan cinta yang selalu diberikan Bergoglio kepada imam-imamnya. Sebagai Provinsial Jesuit Argentina dan Uskup Agung Buenos Aires, ia tahu banyak imamnya tak memiliki konsep “cinta” seperti yang diajarkan Tuhan. (Bersambung)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.