Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Biarkan Nurani “Bicara” Tragedi Kerusuhan Mei 1998 (20C)

Sandyawan Sumardi by the Jakarta PostAPAKAH memang begitu yang menjadi latar belakang Tragedi Mei 1998 itu?

 

Semua kami serahkan kepada kecerdasan nurani dan keyakinan Anda masing-masing. Yang pasti, terhadap kenyataan penderitaan seperti itu, Gereja kita tak bisa cuma berpangku tangan dan diam. Banyak sekali korban Kerusuhan Mei 98 yang dijarah rumahnya, dibakar rukonya, dipukuli, dianiaya, diperkosa, dibunuh, ditembak dan dibakar di mal-mal adalah saudara-saudari kita umat Katolik.

 

Tapi juga tak bisa dipungkiri, ada juga orang Katolik yang ikut menembak, membunuh dan bahkan mungkin memperkosa. Ada rumor yang masih harus dicek kebenarannya, para penjarah itu dalam jumlah cukup besar didatangkan dari provinsi yang mayoritas penduduknya Kristen dan Katolik.

 

Kalau kita kembali kepada pertanyaan kami di atas : terhadap kenyataan tragis seperti itu, iman kita bisa “bicara” apa? Cukup berdoa dan mengimbau?

 

Romo Koko MSF selalu tertawa ngakak kalau saya suka bilang: “Lha nèk mung menghimbau waé, Suryo Sunaryo yo isa!”

 

Suryo Sunaryo itu imam MSF, murid bapak saya waktu SMP, yang lebih suka duduk nonton TV, rajin misa, rajin berdoa, ramah, rajin memberi kami makan kalau lagi main ke pastorannya. Sekarang dia sudah almarhum.

 

Sandyawan dan Tim Relawan

Terhadap pertanyaan di mana dan bagaimana Gereja bisa hadir pada kenyataan tragis seperti itu, suka atau nggak suka, kita mesti berterimakasih kepada sosok anggota gereja seperti Sandyawan dan teman-teman Tim Relawan Kemanusiaannya. Kalau waktu itu tidak ada Sandyawan (dan Romo Mangun), mungkin wajah (baca: citra) Gereja kita menjadi sangat terpuruk. 

 

Dengan kehadiran Sandyawan yang bekerja tak kenal lelah dan hampir tidak pernah istirahat sebelum, selama dan sesudah Tragedi Mei 98, ajaran Injil, ajaran sosial gereja, nilai-nilai luhur Konsili Vatikan II dan dokumen-dokumennya yang hebat-hebat itu, tak lagi menjadi “teori”.

 

Yang Katolik maupun yang tak Katolik, dari kiprah Sandyawan itu, diam-diam mengakui: “seperti itulah semestinya perilaku orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus!”

 

Dalam sebuah pidato saat  mendapat penghargaan Yap Thiam Hiem Award, Sandyawan mempersembahkan penghargaan itu kepada para korban dan keluarga mereka. Ia juga mempersembahkan penghargaan itu kepada kemenangan cinta dan kemanusiaan yang mengalahkan politisasi, putar-balik fakta, intimidasi, kekerasan, kekejaman bahkan kematian.

 

Maklum saja, pada zaman itu Sandyawan sudah kenyang  menerima ancaman. Di bandara, ia pernah diturunkan dari pesawat oleh intel sebelum berangkat ke Australia mau mengobatkan matanya. Di kolong mobilnya, pernah ditemukan granat yang siap meledak. Di sakristi Katedral Jakarta sehabis misa sore, Sandyawan pernah didatangai beberapa orang berbadan tegap. Masih disaksikan beberapa misdinar putri, Sandyawan diancam : “Mudah bagi saya untuk membunuh Romo dan memperkosa adik-adik yang berada di sini malam ini juga.”

 

Mungkin 15 tahun lalu, kalau Romo Magnis menulis surat protes melawan presiden seperti sekarang ini, Romo Magnis pasti akan langsung diculik dan dilenyapkan.

 

Karena tidak tahan lagi menyaksikan dampak Tragedi Mei 98 itu dan ekonomi negara yang begitu terpuruk, kami mengumpulkan beberapa teman yang kami pandang punya hati. Kami ajak rekan-rekan itu memikirkan apa yang bisa kita buat untuk meringankan penderitaan korban dan keluarganya.

 

Gereja bicara dari nurani iman

Yang sederhana saja. Kami sama sekali tidak bermaksud mau menjadi “penyelamat dunia”.

 

Kami tahu dirilah, kami ini siapa. Tidak mungkin kami mengatasi tragedi sebesar itu. Sore itu semua sepakat, kita harus mempromosikan seruan “Stop kekerasan ! Kami sudah muak. Kami tidak mau terus takut ! Kami akan hadir dan berdoa untuk para korban”.

 

Seorang rekan kami yang ikut meeting sore itu, bernama Pak Yusma. Kebetulan ia Ketua Persekutuan Doa Usahawan Katolik (Perduki). Pak Yusma kami minta mengkoordinir teman-temannya untuk merencanakan pertemuan umat Katolik se-KAJ. Kita akan berdoa dan mengumpulkan dana bagi korban Kerusuhan Mei 98.

 

Dengan senang hati Pak Yusma menerima penugasan itu asal Bapa Uskup Jakarta berkenan merestui. Setelah menghadap Uskup, ternyata ide itu tidak direstui. Dengan wajah kecewa, Pak Yusma bilang ke kami: “Kalau Gereja mau bikin gedung, kami dicari dimintai duit. Ketika banyak teman-teman kami ketakutan, lari, bingung, mau titip mobil di paroki, ternyata kami ditolak. Gereja kita, paroki kita, dalam keadaan begini darurat ternyata cuek-cuek saja. Mau mendoakan saja dibilang baiknya dalam suasana seperti ini nggak usah rame-rame. Situasinya tidak menguntungkan. Toh Tuhan di sana juga akan mendengarkan doa kita”.

 

Berkunjung ke alm. Romo Mangunwijaya Pr

Bersama Mudjisutrisno, almarhum Romo Krismanto Pr, Romo Koko MSF dan Mbak Amanda Suharnoko dari Madia (Masyarakat Dialog antar Agama), saya menghadap alm. Romo Mangunwijaya Pr di rumah beliau di Gang Kuwera, Gejayan, Yogyakarta. Kami sowan Romo Mangun beberapa hari sesudah kerusuhan.

 

Kami datang pada akhir Mei sekalian mengantar alm. Romo Krismanto Pr ke Sendang Sono.

 

Waktu itu, almarhum  Romo Krismanto Pr diminta Uskup Jakarta untuk datang ke Sendang Sono agar bisa “memantau” kegiatan Pak Thomas. Krismanto memang ditunjuk Uskup menjadi Ketua Koordinator Legio Mariae KAJ. Waktu itu Sendang Sono tengah membludak dipenuhi umat. Kata Pak Thomas, pada hari itu Bunda Maria akan menampakkan diri.

 

Sampai malam ternyata nggak ada apa-apa.

 

Ketika Krismanto cerita tentang Pak Thomas, dengan entengnya Romo Mangun berkomentar: “Sombong sekali Thomas itu. Bisa tahu jadwal kunjungan Bunda Maria segala”.

 

Romo Mangun malah langsung bertanya kepada kami: “Waktu di Sendang Sono,kalian juga tak lupa berdoa untuk para korban perkosaan dan Kerusuhan Jakarta, Solo ‘kan?”

 

Kami lalu cerita kepada Romo Mangun tentang yang dialami rekan kami Pak Yusma itu. Beliau langsung mengatakan: “Begini, kalian teruskan rencana mengumpulkan umat paroki KAJ. Saya akan datang. Ajak Sandyawan dan Gus Dur. Ada saatnya Yesus ngumpet dan berdoa sendirian. Ada saatnya Yesus harus berkotbah di atas bukit di hadapan banyak orang. Sudah jalankan saja rencana itu. Saya dukung!”

 

Teguh Beriman di Tengah Badai

Begitulah, walau Uskup tidak merestui, tetapi karena ada dukungan dari “nabi” Romo Mangun, kami lalu mengumpulkan umat seluruh paroki KAJ.

 

Event itu kami beri judul “Teguh Beriman di Tengah Badai”.  

 

Kami ingin hadir dan berdoa bagi saudara-saudari kita korban Kerusuhan Mei 98. Biarlah kita tetap teguh dalam penderitaan. Acara kami adakan pada hari Minggu, 6 September 1998 di Istora Senayan, bertepatan dengan Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Panitia yang sebagian besar terdiri dari teman-teman Perduki dan mahasiswa-mahasiswi Atmajaya, berhasil mengumpulkan sekitar 10 ribu umat.

 

Disediakan penjemputan dengan bus Hiba gratis dari dan kembali ke paroki masing-masing. Yang mau datang, cuma diminta “ikatan” dengan membeli tiket seharga Rp 5 ribu. Panitia tiket menjual nama Sandyawan di depan gereja sehabis misa paroki: “Lima ribu Sandyawan, Sandyawan lima ribu!”

 

Selain Romo Mangun, Sandyawan dan Mudjisutrisno, hadir juga pada “istighosah” itu Pak Said Aqil Siradj yang berkenan hadir mewakili Gus Dur. MC-nya Mas Krisbiantoro. Sebelum talkshow, acara diawali dengan misa. 14  imam berkonselebrasi pada misa itu. Romo Mangun sempat ngambek dan nggak mau ikut konselebrasi.

 

Beliau kecewa kok yang datang sebanyak ini. “Jadi malah kontra produktif”, kata Romo Mangun.

 

Saya lalu bilang kepada almarhum Romo Mangun: “Romo, anggap saja ini semua tanda dari surga sana. Ternyata yang merindukan kotbah di bukit itu memang banyak. Mereka semua ingin ikut berdoa dan didoakan Romo!”

 

Romo Mangun pun lalu jadi luluh.

 

Kami tidak mengira, ada imam-iman sebanyak itu yang ikut misa konselebrasi. Sebagian besar dari mereka, datang spontan begitu saja tanpa kami undang.

 

Seorang Romo Karmel dari Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) datang kepada saya dan berbisik: “Ini misa mendoakan korban yang nggak direstui Keuskupan itu ya ? Saya jadi malah ingin gabung. Semua misa di Paroki hari ini sudah diurus pastor lain kok”. Hari itu, tidak ada homili dari imam.

 

Kotbah misa diganti oleh kesaksian Pius Lustrilanang, seorang korban penculikan. Pas dia bersaksi, mike dan speaker diganggu dengan “ledakan-ledakan” berkali-kali. Sesudah misa, acara “pendalaman iman” dimulai. Satu per satu, para pembicara tampil.

 

Romo Mudjisutrisno tampil pertama. Ia bicara tentang “Beriman dalam persimpangan krisis nilai dan krisis kepercayaan. Tantangan SARA dan kotak-kotak lembaga dalam hidup beriman kita”.

 

Kemudian Sandyawan bicara tentang “Tragedi iman. Kesaksian hidup beriman dalam mendampingi korban Kerusuhan, perkosaan dan penjarahan”.

 

Pak Said Aqil Siradj, dengan gayanya yang khas dan penuh humor, mengulas topik “Beriman bersama saudara-saudara Muslim. Membangun kerjasama dan saling pengertian antar saudara yang berlainan agama”.

 

Dan akhirnya Romo Mangun menguraikan pandangannya tentang “Beriman secara kritis. Menghayati iman Katolik dalam sejarah perjuangan berbangsa dan bernegara”.

 

Pada sesi tanya jawab, banyak hadirin menanggapi pernyataan Romo Mangun yang “menghebohkan”. Tiba-tiba, ada anggota panitia yang menyodorkan pertanyaan tertulis kepada saya, moderator acara itu.

 

Sandyawan yang duduk di sebelah saya cukup tersentak membaca tulisan di kertas itu: “Romo, saya salah satu korban perkosaan. Kalau diperbolehkan, saya mau memberi kesaksian di sini dan sekarang ini juga”.

 

Sandyawan lalu berbisik pada saya : “Nggak usah Kun, nanti dia malah merasa diperkosa lagi dengan sorot mata dan keprihatinan ribuan orang yang hadir di sini”.

Renungan kita

Renungan kita pada Tragedi Mei 1998 ini berjudul “Membela Kristus dengan kongkalingkong bersama Pilatus dan Herodes?”

Beberapa hari lalu, di kantornya di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, Sandyawan sempat menemui beberapa wartawan, yang ingin tahu tentang Tragedi Mei 15 tahun lalu. Saya bersyukur, dari wawancara itu nampak bahwa Sandyawan masih menyimpan “bara api” kedekatan kepada para korban.

 

Sebagaimana dimuat di Merdeka.Com, Sandyawan bilang : “Saya punya data lengkap sekitar 52 orang (korban pemerkosaan) pada Mei 1998 di beberapa tempat. Tapi ada etika, identitas korban tidak bisa disebarkan. Itu buat keselamatan dan nama baik korban!”

 

Dia mengakui perlu perjuangan berat untuk meminta pengakuan para korban. Namun setelah laporan tim pencari fakta selesai disusun, pemerintah malah menganulir temuan itu.

 

Mereka bahkan menyebarkan foto-foto korban pemerkosaan. “Itulah cara-cara pemerintah mendiskreditkan tim pencari fakta dan menganggap pemerkosaan tidak ada,” ujarnya.

 

Sandyawan menilai propaganda pemerintah untuk membantah pemerkosaan massal dalam kekacauan 15 tahun lalu berhasil. Dia mengakui bakal sulit menuntaskan kasus ini lantaran pelaku dan penggerak kejadian masih menjabat. Meski begitu, Sandyawan berharap kasus itu harus terus diangkat sehingga masyarakat tidak lupa dengan aib bangsa ini.

 

Dia meminta teman-teman seperjuangannya pada Mei 1998, seperti Andi Arif, Budiman Sujatmiko, dan Pius Lustrilanang, yang kini masuk dalam pemerintahan, agar terus mendorong penyelesaian kasus itu.

 

Sandyawan masih menekuni kegiatannya mendampingi warga miskin di bantaran Sungai Ciliwung dari kawasan Pasar Minggu sampai Kampung Pulo lewat lembaga Ciliwung Merdeka. “Saya tidak akan menilai pilihan kawan-kawan, tapi tolong jangan saling menyerang dan membalik fakta-fakta untuk kepentingan tertentu.“, ujar Sandyawan.

 

Seruan Sandyawan agar kita tidak lelah mengangkat Kasus Mei 98 ini, pasti juga berangkat dari pengalamannya selama ini bahwa tekanan dari pihak-pihak yang merasa bersalah (dan masih memegang kekuasaan) memang besar sekali.

 

Saya tahu, Sandyawan pernah begitu shocked.

 

Tiga minggu sesudah kami mengadakan acara di Senayan, salah satu anggota Tim Relawan Kemanusiannya, ditemukan tewas terbunuh dengan gorokan di leher. Ita Marthadinata, 17 tahun, siswi SMU Paskalis Jakarta, ditemukan tewas dengan tubuh penuh luka di rumahnya yang sederhana di Jl Berlian, Sumur Batu, Jakarta Pusat.

 

Pembunuhan Ita menjadi perbincangan panas di kalangan para aktivis pembela kemanusiaan seluruh dunia, setelah diketahui bahwa bersama-sama dengan ibunya, Wiwin Suryadinata, Ita adalah anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan.

 

Sandyawan sangat tidak terima, kisah Ita yang malang ini diputarbalikkan. Ita Marthadinata diberitakan meninggal karena dirampok. Dari autopsi jenasahnya, ditemukan sperma dari duburnya. Diduga almarhumah sering melakukan sodomi. Sebuah skenario pemutarbalikan fakta yang sangat keji! Menyedihkan sekali perjalanan sejarah bangsa kita ini, menorehkan nista dan kekonyolan serendah ini.

 

Semoga, pada 50 tahun Konsili Vatikan II dan Tahun Iman ini, seperti kesaksian Romo Mangun dan Sandyawan, kita semua masih selalu mampu untuk bertekun menghadapi kenyataan hidup di negeri yang penuh rekayasa dan kekonyolan ini. Semoga kita tetap tabah dan setia menghidupi panggilan utama hidup kita, yang oleh Romo Mangun dirumuskan sebagai : “mengikuti program Yesus”.

 

Kita tahu, untuk itu bayarannya tinggi sekali. Surga ternyata memang mahal.

 

Photo credit: Sandyawan Sumardi (The Jakarta Post)

Tautan: 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.