Pijar Vatikan II: 8-13 Oktober 1989, Lima Hari yang Bersejarah (21B)

< ![endif]-->

PADA bulan Oktober tahun 1989 itu, Paus JP2 datang ke Indonesia dalam rangkaian kunjungan pastoral beliau ke Seoul Korea, Indonesia dan Mauritius. Ini adalah kunjungan Paus JP2 ke luar Italia yang ke-44. Indonesia sendiri, pada tahun 1989 itu adalah negara ke-59 yang dikunjungi Paus JP2.

Dalam rangkaian kunjungannya ke Korea, Indonesia dan Mauritius selama 10 hari, 4 jam, 15 menit, Paus JP2 menempuh jarak 39.047 km, mengunjungi 15 kota (Seoul, Jakarta, Yogyakarta, Maumere, Ritapiret, Dili, Medan, Plaisance, Port Louis, Le Reduit, Mont Thabor, La Ferme, Rose Hill, Sainte Croix, Curepipe), dan memberikan 28 pidato resmi.

Dari sudut geografi gerejawi Indonesia, Paus JP2 telah mengunjungi empat provinsi gerejawi Indonesia dari total tujuh provinsi gerejawi pada waktu itu. Dalam meliput kunjungan Paus JP2 ini, Radio dan TV Vatikan mengirimkan 17 wartawan dan peliputnya. Radio dan TV Vatikan mendirikan studio siaran sentralnya di Seoul, Jakarta dan Port Louis dan studio kecilnya di Yogyakarta, Maumere, Ritapiret, Dili, Medan dan Mont Thabor. Kunjungan Paus ke Korea, Indonesia dan Mauritius ini disiarkan dalam 4 gelombang siaran dan diliput langsung oleh 10 radio dan TV internasional.

Paus JP2 mengawali rangkaian kunjungan ini pada tanggal 7 Oktober 1989 dengan bertemu Presiden Korea Selatan  Roh Tae Woo. Dari “Istana Biru” Presiden Korsel, Paus JP2 kemudian memimpin misa untuk orang muda Korea di Aula Gymnasium Stadion Olimpiade Seoul. Paginya, 8 Oktober 1989, Paus memimpin misa besar dalam rangka Penutupan Konggres Ekaristi International di Youido Plaza, kawasan komersial baru dekat Pusat Budaya Sejong.

  Paus Yohannes Paulus II di Seoul

Kawasan Youido Plaza yang mahaluas ini menjadi saksi dipecahkannya rekor umat yang mengikuti misa Paus selama ini. Diperkirakan lebih sejuta orang hadir pada misa dengan Paus JP2 di Seoul itu. Sampai hari ini, rekor ini belum tertandingi. Beberapa kali Paus mengadakan misa di Rio de Janeiro saja tidak dihadiri umat sebanyak di Seoul itu. Seorang teman imam dari Korea pernah bercerita tentang dampak luar biasa kunjungan Paus JP2 itu.

Katanya, sejak kunjungan Paus JP2 pada tahun 1989 itu, mereka yang ingin masuk gereja Katolik di Korea Selatan naik secara drastis.

Rosario untuk Ibu Negara

Di Indonesia, Paus JP2 mengawali kunjungan bersejarahnya dengan mendarat di lapangan terbang Halim Perdanakusuma Jakarta. Paus datang dari Seoul naik Korean Airlines.

Vatikan punya tradisi memakai pesawat negara asal sebelum berkunjung ke negara tujuan. Sesudah kunjungan ke Indonesia, pada saat terbang ke Mauritius, Paus akan terbang dengan Garuda Indonesia. Begitu mendarat di bandara Halim Perdanakusuma, Paus JP2 langsung mencium tanah, sebagai simbol cinta dan berkat kepada negeri yang dikunjunginya. Dari bandara Halim Perdanakusuma, Paus JP2  langsung dikawal menuju Istana Negara.  Anak-anak dari sekolah Katolik di Jakarta Timur seperti dari SD dan SMP Santa Maria Jatinegara, Marsudirini, Antonius, Strada dsb, nampak kecewa cuma melihat iring-iringan kendaraan Paus sekelebatan. Padahal mereka sudah berdiri dan berderet di jalan sekitar Halim sejak pagi hari.

Paus diterima Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto bersama jajaran para Menteri Kabinet Pembangunan. Di Istana Negara, sesudah sambutan resmi, Paus dan Presiden Soeharto saling bertukar cinderamata.

Dari Presiden Soeharto, Paus mendapat hadiah lukisan JP2, yang dilukis oleh Basuki Abdullah. Sementara Paus memberikan buku dan medali kepada Pak Harto, serta rosario kepada Ibu Negara. Dengan spontan, ibu Tien Soeharto langsung membuka kotaknya dan mengalungkan rosario itu di lehernya. Rosario itu dipakai terus oleh ibu Tien Soeharto sepanjang jamuan kenegaraan untuk Paus.

Hadirin “gempar”.

Langsung beredar khasak-khusuk: jangan-jangan benar Ibu Tien itu Katolik.

Pak Marcel Beding dari Kompas, begitu melihat saya di Senayan langsung menembak pertanyaan: “Pasti kalian yang di Roma yang minta Paus memberi hadiah rosario ke Bu Tien!”

Saya bilang saja sekenanya ke Pak Marcel: “Mau mengusulkan kasih hadiah wayang apa batik, Paus nggak punya. Yang selalu dipunyai cuma rosario. Jadi yang langsung mampir di benak Paus kalau mau memberi hadiah ya rosario itu!”. Pak_Harto_dan_Ibu_Tien

Paus menyihir Senayan

Hari Senin, 9 Oktober 1989 itu, sesudah dari Istana Negara, Paus JP2 langsung dikawal ke Stadion Utama Senayan. Hari itu Stadion Utama Senayan dipadati lautan manusia. Diperkirakan 120 ribu umat hadir pada misa itu. Mereka berdatangan dari paroki-paroki KAJ dan sekitarnya, seperti Bogor, Bandung, bahkan Lampung, Sumatra Selatan dan Kalimantan.

Hari itu Stadion Utama Senayan dipenuhi spanduk, dekorasi dan bunga bernuansa putih dan kuning. Di bawah tribun, di lapangan tengah, terlihat sejumlah besar anggota koor. Jumlah penyanyi koor itu 6.500 orang. Mereka berasal dari 42 paroki se-KAJ. Mereka memakai seragam baju putih dan topi kuning, warna khas bendera Vatikan.

Stadion langsung bergemuruh dengan tepuk tangan, begitu Paus JP2 memasuki stadion di atas jeep terbuka. Dalam jeep, Paus didampingi Mgr. Leo Soekoto Uskup Agung Jakarta.

Pengemudinya: Jeffry Dompas, pemegang sabuk hitam karate.

Spanduk-spanduk besar bertuliskan : “Selamat Datang Sri Paus” terpampang jelas di sana sini, mewakili kegembiraan besar umat didatangi Gembalanya. Juga nampak spanduk besar selamat datang dalam bahasa Itali: “Benvenuto Santo Padre, Pastore della Chiesa Universale !” – Selamat Datang Bapa Suci, Gembala Gereja Semesta !

Sementara Paus berkeliling stadion dan melambai-lambaikan tangannya, Mgr. Leo Soekoto SJ nampak kalem dan berdiri tenang di sampingnya. Senyumnya tetap mahal. Bisa jadi karena tegang. Tentara dan intel berpotongan rambut cepak dan perpakaian batik, terlihat ada di mana-mana. Di setiap bagian tribun, minimal ada 2 orang intel.

Di dekat altar, saya melihat Jenderal Tri Sutrisno, Pangab waktu itu, sedang duduk santai dengan kacamata hitam. Rupanya beliau langsung turun tangan memimpin pengamanan stadion. Maklum, selain kita masih “berperang” dengan Timtim, hari itu memang ada issue dan selebaran gelap  “akan terjadi banjir darah” kalau orang Katolik mau show of force bersama Paus.

Issue semacam ini membuat cukup banyak orang tidak jadi ikut misa di Senayan. Banyak yang jadi jengkel karena mereka yang “berani mati bersama Paus” jadi pada nggak bisa ikut misa. Seusai melepaskan merpati kuning merah-putih, Paus lalu mempersiapkan diri untuk misa. Paus memberikan berkat kepada kelompok frater yang menjadi misdinar dan pembawa tongkat kepausannya.

Para Uskup dari Bogor, Bandung, Surabaya, Tanjungkarang, Palembang, Samarinda, Ketapang, Pontianak, Sanggau, Sintang, Ujungpandang, Manado, Semarang, dan Sorong, tentu saja hadir pada misa itu. Pro-Sekretaris KWI Mgr V. Kartasiswaya Pr juga terlihat ikut konselebrasi.

Sebelum misa dimulai, secara spontan Romo Royke Djakarja, yang mengatur para imam dan misdinar dalam konselebrasi, mengumumkan bahwa: “Mulai saat ini juga, stadion ini berubah menjadi gereja. Umat dimohon mempersiapkan diri dalam hening!”

Mendadak sontak, stadion yang bergemuruh lalu diam. Sunyi. Senyap!

Beberapa wartawan dari Radio dan TV Vatikan dan media cetak Italia saya lihat terbengong-bengong ingin tahu apa yang sedang terjadi, kok tiba-tiba stadion menjadi sunyi. Luigi Accatoli dari koran Repubblica saya dengar sedang menjelaskan dalam bahasa Italia kepada temannya dari Radio Vatican, kesunyian itu khas budaya Timur. Saya timpali saja celetukan mereka: keheningan itu bagian dari misa dan rasa rohani Indonesia!

Mereka tersenyum mengiyakan. Jadilah, hari itu saya jadi teman dan nara sumber “dadakan” dari wartawan-wartawan Radio Vatikan dan koran Italia itu. Misa Agung dimulai dengan lagu ”Kristus Jaya”.

Dengan penuh semangat Romo Sutanto SJ, yang menjadi dirigen koor, memimpin koor dan umat bernyanyi. Beberapa menteri dan pejabat yang hadir, antara lain JB Sumarlin, Cosmas Batubara, BS.Muljana, Sudarmanto Kadarisman, dan Imam Kuseno Mihardjo.

Pauspun mempersiapkan misa dalam bahasa Indonesia

Paus JP2 memimpin misa dalam bahasa Indonesia. Beberapa minggu sebelum Paus berkunjung ke Indonesia, kami yang tinggal di Collegio Kepausan Propaganda Fide, sering diminta Rektor untuk ikut mempersiapkan kunjungan Paus JP2 itu. Kami pernah diminta memberi masukan tentang: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, toleransi umat beragama, Gereja Katolik Indonesia yang minoritas di tengah mayoritas muslim dsb.

 Saya tidak tahu apa masukan-masukan itu  dipakai oleh Paus.

Setahu saya, Kuria Roma biasanya sudah punya konsep pidato Paus yang baku, yang isinya cuma “basa-basi” saja kalau mau menampung muatan lokal.

Teman kami Romo Suratman Gitawiratma, yang sekarang jadi dosen di Seminari Tinggi Kentungan Yogya, dipanggil Rektor kami Mgr. Pavese untuk bertemu dengan Mgr. Dsziwitz, Sekretaris Pribadi Paus JP2 di Vatikan.

Ratman ternyata diminta datang ke studio Paus untuk “ngajari” Paus misa dalam bahasa Indonesia.

Ratman bilang : “Untuk lidah Polandia, baguslah aksen Paus JP2 dalam membaca teks misa Indonesia. Paling kata-kata yang ada : ng, nj, dan ny yang sering keliru!”

Berbahagialah kita yang punya bahasa yang relatif mudah untuk lidah asing.

Seperti kepada Ibu Tien, sehabis ngajari Paus JP2 misa dalam bahasa Indonesia, Ratman juga dapat hadiah rosario, langsung dari Paus. (Bersambung)

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ibu tien soeharto kristen
  2. ibu tien soeharto katolik
  3. tien soeharto katolik
  4. ibu tien katolik
  5. agama ibu tien soeharto
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.