Pijar Vatikan II: Belum Ada Kardinal Baru untuk Indonesia (24B)

< ![endif]-->

Kejutan untuk Kuria Vatikan

Pada consistorium kali ini, banyak yang mencermati bahwa 4 Kardinal baru yang dilantik untuk menempati 4 pos vital di lingkungan Kuria Vatikan yaitu Kepala Sekretaris Negara, Kepala Departemen Ajaran Iman, Prefek Konggregasi Klerus dan Sekjen Sinode para Uskup, adalah “orang-orang pilihan dan kepercayaan” Paus Fransiskus.

Kardinal Parolin, Müller, Stella dan Baldisseri dianggap “kompatibel” dengan gaya pastoral dan kebijakan Paus Fransiskus. Mereka bukan berasal dari lingkungan yang dekat dengan  Kardinal Tarcisio Bertone, mantan Sekretaris Negara Vatikan.

Oleh banyak pengamat Vatikan atau Vaticanisti, karut marut Vatikan dengan skandal Vatileaks, Bank Vatikan dan lain-lain itu  ditudingkan terjadi akibat kepemimpinan Bertone yang  lemah. Para Kardinal baru ini juga bukan berasal dari orang-orang Kardinal Angelo Bagnasco, Ketua “KWI”-nya Itali dan Kepala Departemen Konggregasi Uskup di zaman Paus Benedektus XVI. Banyak yang menilai, Paus Benedictus XVI mundur karena ‘capai’ menyaksikan tragedi-tragedi yang dialami Gereja Katolik. Kardinal Bagnasco dan “tim”-nya dituding tidak bisa menjadi mitra Paus yang meyakinkan untuk menghadapi issues besar, yang menghantam gereja Katolik dan Vatikan secara bertubi-tubi.

Kardinal by Cathnews USA

Para kardinal yang baru saja dilantik Paus Fransiskus menyempatkan hadir dalam sebuah pertemuan di Vatikan, Februari 2014 (Courtesy of Cathnews.USA)

Dari semua perkiraan tentang para calon Kardinal pertama Paus Fransiskus, hanya Kardinal Baldisseri yang selalu disebut-sebut “calon jadi”. Dan ternyata memang demikian. Paus Benediktus mempromosikannya sebagai Kardinal yang mengepalai Sekjen Sinode Uskup. Ketika pemilihan Paus yang baru saja berlalu, Baldisseri ditunjuk sebagai Sekjen dan “Ketua Panitia” conclave.

Para Kardinal sangat terkesan dengan kepemimpinan Baldisseri dalam menyelenggarakan conclave. Kardinal Bergoglio (yang akhirnya terpilih Paus), pada waktu conclave itu sambil bergurau pernah bilang kepada Baldisseri: “Anda itu sudah setengah Kardinal!”

Sesudah Bergoglio terpilih, ia memberikan “baret merah”-nya kepada Baldiserri sebagai kado kenangan. Kini Baldisseri benar-benar dilantik menjadi Kardinal oleh Paus yang terpilih dalam conclave yang diselenggarakan ketika ia menjadi Ketua Panitianya.

Kardinal Pietro Parolin, sebagai “Secretary of State”, bisa dikatakan adalah Perdana Menteri Negara Vatikan. Siapapun Sekretaris Negara Vatikan, praktis ia adalah PM dan punya kedudukan sebagai “CV-2 (Citta del Vaticano-2)”, orang kedua Negara Vatikan.

Para pengamat juga menilai, tidak terpilihnya Mgr.Jean-Louis Bruguès, Imam Ordo Dominikan yang sekarang ini mengepalai Arsip dan Perpustakaan Vatikan juga sebagai kejutan.  Menurut issue yang beredar, Paus Fransiskus tidak menunjuk Mgr. Bruguès karena ketika menjabat sebagai Sekjen Komisi Kepausan untuk Pendidikan Katolik, ia dianggap keliru dalam proses penunjukan Rektor Universitas Katolik Buenos Aires. Waktu itu Bergoglio adalah Uskup Agung Buenos Aires.

Kejutan untuk Italia

Pada penunjukan para Kardinal baru kali ini, negara Itali juga mendapat kejutan yang luar biasa dari Paus Fransiskus. Menurut Perjanjian Lateran tahun 1929 antara Vatikan dan Mussolini sebagai pemimpin Italia waktu itu, Vatikan diakui secara internasional memiliki hak dan kedudukan yang sejajar dengan negara-negara dunia lainnya.

Sebagai bekas Negara Kepausan, beberapa asset dan “warisan budaya gereja” yang tersebar di kota-kota besar Italia diakui pula statusnya yang khusus oleh Negara Italia, termasuk kedudukan pemimpin Keuskupannya. Kota-kota penting itu adalah: Milano, Torino, Napoli, Palermo, Bologna, Firenze, Genoa dan Venezia. Sejak saat itu, semua kota itu pasti dipimpin oleh para Uskup Agung yang mendapatkan jatah kursi Kardinal. Kota-kota itu juga dikenal sebagai “sede cardinalizia”, kota kedudukan para Kardinal.

Pada setiap consistorium, kalau ada “tahta Kardinal kosong” di sebuah sede cardinalizia, hampir dipastikan kota-kota itu pasti mendapat jatah Kardinal baru.

Dari Italia, kali ini ada kejutan besar. Dua kota “sede cardinalizia” yang sangat penting yaitu Torino dan Venezia, tidak mendapat Kardinal baru. Uskup Agung Torino yang sekarang, Mgr. Cesare Nosiglia sudah melewati 3 consistorium. Aneh sekali, sampai 3 kali consistorium ia tidak terpilih menjadi Kardinal, padahal ia menduduki pemimpin Keuskupan penting di Italia, salah satu sede cardinalizia.

Uskup Agung Torino ini adalah orang dekat Kardinal Ruini. Ia menjadi wakil Ruini ketika menjabat sebagai Vikaris Uskup Roma dan Ketua KWI-nya Italia. Menurut Francesco Grana dari Koran La Stampa, Kardinal Ruini berseberangan atau malah menjadi rival Kardinal Bertone, PM Vatikan di masa Paus Benedictus XVI. Jadilah posisi Mgr.Cesare Nosiglia “menggantung”.

Paus Fransiskus tidak mau masuk dalam pilihan yang tidak nyaman ini.

Sementara itu, penunjukkan Uskup Perugia menjadi Kardina, juga merupakan kejutan. Walaupun Perugia adalah kota budaya yang penting, Perugia tidak termasuk dalam 8 kota besar “sede cardinalizia”.

Penunjukan Mgr. Gualtiero Bassetti dari Perugia mempunyai dua arti penting.

Yang pertama: kendati Perugia bukan dikenal sebagai sede cardinalizia, namun Paus Fransiskus ingin memperkenalkan wilayah Perugia sebagai kota simbol semangat Paus yaitu: berpihak total kepada yang miskin dan tersisihkan. Kota Assisi, tempat “Il Santo” (Sang Santo) Fransiskus lahir, besar, berkarya dan dimakamkan adalah kota di atas bukit yang masuk wilayah Keuskupan Perugia dan letaknya hanya beberapa kilometer dari kota coklat Perugia ini.

Sudah 160 tahun lebih, Perugia tidak memiliki Kardinal. Uskup Agung Perugia terakhir yang diangkat menjadi Kardinal pada tahun 1853 adalah Uskup Agung Gioacchino Pecci, yang kemudian terpilih menjadi Paus Leo XIII.

Yang kedua: hampir dipastikan, Kardinal Bassetti akan terpilih sebagai ketua KWI-nya Italia menggantikan Kardinal Bagnasco. Secara simbolis, 200 Uskup Italia ada di belakang Ketua Konferensi Uskupnya. Ini merupakan dukungan besar kepada Paus Fransiskus. Menurut Grana, consistorium kali ini memang merupakan “un doppio schiaffo” (tamparan ganda) bagi orang kuat lama: Kardinal Bertone dan Kardinal Bagnasco.

Photo credit:

  • Para Uskup Indonesia saat misa penutupan Sidang Tahunan KWI di Gereja Kristus Raja Pejompongan, Jakarta Pusat, November 2013 (Mathias Hariyadi)
  • Para kardinal baru (Ilustrasi/Cathnews.USA)

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.