Pijar Vatikan II: Agama dan Kelakuan, Antara Gethuk dan Pizza (26D)

Gethuk by Sedap

AGAMA dan perilaku pemeluknya, memang sangat sering tidak nyambung. Kita sudah sangat kenyang menyaksikannya.

Misalnya saja, negara Italia. Kurang katolik bagaimana negara ini. Paus saja tinggal di sini. Vatikan yang ada di Roma Italia menjadi pusat agama Katolik. Mayoritas penduduknya masih “menganggap” gereja katolik dan upacaranya.

Tetapi mengapa mafia juga tumbuh subur di negara Katolik semacam Italia ? Mengapa seks bebas, peredaran narkoba dan pembunuhan antar geng terjadi setiap hari di Mexico dan Colombia ? Bukankah mereka juga negara katolik ?

Bahwa Brasil memang hebat dalam sepakbola dan karnavalnya, tak seorang pun menyangkal. Tetapi apa arti kehebatan bola dan karnaval, kalau sebagian besar penduduk Brasil adalah penduduk miskin yang tinggal di wilayah kumuh dengan sejuta permasalahannya? Mengapa orang-orang katolik ternyata bisa menjadi pelaku tindak kriminal sadis macam mafia? Apa peran agama dan gereja katolik dalam tragedi kemanusiaan dan kemiskinan semacam itu ?

Masalah agama dan perilaku pemeluknya, memang akan menjadi masalah abadi dunia ini. Adegan “buto cakil” Luis Suarez kemarin dulu, menjadi peringatan bahwa antara tanda salib dan perilaku, antara agama dan prakteknya sebagai orang beragama, ternyata begitu gampang tidak sinkron. Adagium yang begitu sering kita dengar: “kalau sudah menyangkut duit dan kehormatan, Tuhan tidak laku”, dalam sepakbola kembali dikonfirmasi.

Saya juga lalu teringat, ironi yang diucapkan almarhum Prof. Nurcholish Madjid, dan dikutip Romo Mangun pada seminar akbar di Istora Senayan September 1998: “Negara kita ini paling banyak mendirikan masjid dan rumah ibadah ; tetapi mengapa kita juara korupsi ?”

Tentu saja masalah besar agama dan kelakuan pemeluknya, menjadi studi panas pelbagai disiplin ilmu. Semua agama besar dunia juga menyediakan macam-macam pendekatan dalam menjawab masalah besar: agama, iman dan perilaku ini.

Setahu saya, agama katolik memiliki “pisau bedah” yang cukup lengkap dalam membahas topik ini. Ada banyak bahasan dari sudut pandang filsafat: seperti Filsafat Moral, Filsafat Agama, Filsafat Sosial, Filsafat Budaya, Epistemologi, Hermeneutika. Ada banyak pendekatan dari sudut Teologi : seperti Teologi Biblis, Teologi Moral, Teologi Dasar, Teologi Dogmatik dan Teologi Agama-Agama.

Buku “The Catholic Way” karya Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr.Ignatius Suharyo menjadi salah satu buku yang sangat utuh dan lengkap membahas tema besar iman dan perbuatan itu. Semua disiplin ilmu bisa terpakai dalam memahami urusan agama dan kelakuan pemeluknya. Menjadi profesor dan doktor dari semua disiplin ilmu itu, belum menjamin kita bisa tuntas memahami hubungan agama dan perilaku pemeluknya itu, seperti “fenomena buto cakil” pada pertandingan Italia melawan Uruguay itu.

Dari salah satu pendekatan ilmu-ilmu itu, dijumpai persoalan: apa sih yang menjadi dasar klaim Katolik itu? Sebuah negara disebut negara katolik dasarnya apa? Sebuah lembaga atau organisasi disebut katolik, dasarnya juga apa?

Yesus sendiri tidak pernah menyebut diri sebagai katolik. Ia juga tidak pernah mengklaim sebagai pendiri agama katolik. Jadi apa hubungan Yesus dengan kelompok yang namanya Gereja Katolik ? Kalau dasar kekatolikan dan iman katolik itu Kitab Suci khususnya Injil, di sana tidak ada cerita Yesus main sepakbola, main internet, berbisnis, makan di mal. Juga tidak ada cerita Yesus keramas, Yesus pergi ke tempat spa, Yesus pesen tiket pesawat dan ikut seminar MLM. Yesus juga tidak punya ATM dan berurusan dengan bank.

Di Indonesia pernah ada Partai Katolik. Padahal Yesus dulu tidak mendirikan partai atau menganjurkan pengikutnya mendirikan partai. Maka sampai kapan pun, akan selalu menjadi persoalan kalau kita memberi embel-embel katolik pada begitu banyak hal di dunia ini. Sepakbola Katolik? Bakso Katolik? Shampoo Katolik? Warung Katolik? Lha kalau Sekolah Katolik dan Rumah Sakit Katolik? Perkawinan Katolik?

Karena memikirkan hubungan antara agama, embel-embelnya dan dampaknya pada perilaku itu bisa rumit dan bertele-tele, terus terang saya lebih suka pada pemahaman tentang hal ini dalam cara pandang yang sederhana saja. Misalnya, saya selalu ingat renungan almarhum Mgr.Leo Soekoto pada sebuah rekoleksi imam dan seminaris diosesan KAJ tentang gethuk dan pizza.

Menurut Mgr.Soekoto, pizza itu sangat populer menjadi makanan dunia. Mengapa? Karena secara obyektif, pizza itu makanan enak. Disukai sebagian besar orang di dunia. Cara membuat dan penyajiannya juga khas. Pizza hasil kemasan resto misalnya, kita kenal karena dikemas dan dibungkus dalam kemasan seperti itu. Coba kalau pizza itu kita geletakkan begitu saja di “tampah” (nampan bambu)! Orang tidak akan mengenal sebagai pizza tetapi gethuk.

Jadi menurut Mgr.Soekoto, kita akan dihargai kalau antara isi dan bungkusnya, antara dalam dan luarnya, antara keyakinan dan praktiknya, antara mesin dan karoserinya, antara jerohan dan casingnya cocok, serasi. Kalau tidak, kita cuma akan dianggap gethuk!

Mendengar renungan ini, Romo Hadiwijoyo yang duduk di sebelah saya bisik-bisik: “Nek kanggoku dik Kun, gethuk kuwi luwih enak tinimbang pizza.”

Kalau mengacu pada pandangan almarhum Mgr.Leo Soekoto ini, kita tidak perlu membusungkan dada hanya karena menjadi orang katolik, yang selalu jadi jawara sepakbola dunia. Perilaku yang sesuai iman katolik itulah yang lebih penting dan dilihat orang. Jelas perilaku “buto cakil” yang dilakukan Suarez atau mentalita “buto cakil” yang dilakukan koruptor-koruptor katolik di Indonesia dan di manapun, pasti tidak cocok dengan embel-embel katolik itu.

Photo credit: Gethuk (Ilustrasi/Ist)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.