PGU Lampung Sowan Uskup Tanjungkarang Mgr. Harun Yuwono

< ![endif]-->

PGU adalah singkatan dari Paguyuban Gembala Utama, sebuah perkumpulan eksim (mantan seminaris, imam) yang peduli dengan pengembangan pendidikan seminari secara khusus Seminari Menengah Mertoyudan dan seminari-seminari lainnya di seluruh Indonesia.

Beberapa waktu lalu, pengurus PGU Lampung mendapat kesempatan beraudiensi dengan Bapak  Uskup Diosis Tanjungkarang Mgr. Harun Yuwono.

Pengurus PGU Lampung datang rombongan sebanyak 7 orang.  Mulai dari pengurus yang paling senior yakni Nyoman Giri sampai yang paling yunior yakni masih anak kuliahan.

Intinya, Bapak Uskup Diosis Lampung ingin mendengar tentang PGU dan kiprahnya.

Maka dari itu, pengurus PGU Lampung Nyoman Giri daulat menceritakan cikal bakal perkumpulan eks-eks sejak tahun 1985 dan beberapa nama yang pernah dipakai untuk menandai perkumpulan mereka sejak saat itu sampai akhirnya berubah nama menjadi PGU.

Saya didaulat menceritakan tentang PGU yang dimulai dengan nama Yayasan Gembala Utama (Yagembut) dan kemudian berubah menjadi PGU beserta 3 visinya.

Pada kesempatan audiensi tersebut, Bapak Uskup Mgr. Harun Yuwono didampingi oleh Vikjen Romo Hari Prabowo.

Suasana pertemuan sangat cair dan rileks. Bapak Uskup sangat senang bisa mengenal PGU dan mengapresiasi visi PGU. Di tengah suasana santai itu, Romo Vikjen juga mencatat semua isi pembicaraan.

Mgr. Yu –demikian panggilan akrab Uskup Diosis Tanjungkarang ini–  lebih banyak mendengarkan. Mungkin karena beliau masih baru sehingga memerlukan lebih banyak data dan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan ke depan.

Sesuai dengan motto beliau yakni “Tuhan tidak membeda-bedakan”, ketika PGU membawa salah satu amanat hasil Muktamar PGU Purwokerto yang lalu, beliau sangat terbuka untuk membicarakan.

uskup tanjungkarang

Laikalisasi mantan pastur

Mas Kamto, Ketua PGU Lampung, juga dipanggil Vikjen Keuskupan Purwokerto agar teman-teman PGU bisa membantu eks-eks pastur yang belum mendapatkan laikalisasi.

Dalam hal ini Mgr. Yu sangat terbuka dan bersedia membantu para eks pastur yang ingin mengurusnya. Satu hal yang saya catat penting untuk disharekan adalah bahwa ternyata beliau sangat concern dalam hal ini. Itu agar supaya teman-teman eks pastur dan keluarganya bisa hidup lebih nyaman di tengah masyarakat dan Gereja.

Bapak Uskup sendiri mengatakan, “Bagi para mantan imam itu itu sendiri mungkin tidak apa-apa, tetapi bagi istri dan anak-anaknya. Rupanya menyandang sebutan istri dan anak eks pastur memerlukan hal itu,” kata Mgr. Yu.

Namun itu semua, kata Mgr Yu lagi,  tergantung pada kemauan dari teman-teman eks pastur itu.

Mgr. Yu juga mengapresiasi fokus PGU Lampung dalam mendampingi calon imam (para seminaris). Beliau mencatat bahwa minat untuk masuk seminari dari Keuskupan Tanjungkarang cenderung meningkat.

Beliau juga menceritakan bahwa donasi ntuk pendidikan calon imam semakin kecil, maka umat perlu ikut memikirkan dan bertanggung jawab atas tersedianya imam-imam.

Pembicaraan juga menyinggung  tentang  ‘ancang-ancang’ untuk mengadakan kolekte khusus di setiap paroki, terbukanya kembali wacana konser “Umat Peduli Seminari”, dll.

Itu semua kami sharingkan dengan Monsinyur, hingga sampai-sampai Mgr. Yu berucap, “Saya akan berkotbah di hadapan umat bahwa PGU boleh minta apa saja pada umat untuk Seminari, dengan sedikit catatan,” kata beliau.

Bapak Uskup juga mengingatkan bahwa sekarang ini masih GOTAUS dan Semangat yang semuanya juga memberi perhatian pada pendidikan seminari.

Tentu saja kami diminta untuk berkoordinasi dan bekerjasama supaya jangan sampai tumpang tindih dan ‘rebutan’ kepentingan.

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.