Pesta Yubileum dan Kaul Kekal Konggregasi PBHK Indonesia

Hari ini, Senin, 2 Juli 2012, merupakan hari yang bersejarah bagi Konggregasi Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) Provinsi Indonesia.  Dua hal bisa disebutkan sebagai alasan:

Pertama, kehadiran dan kiprahnya yang sungguh sangat ‘membumi’ dan menyentuh berbagai lapisan umat serta masyarakat. Kiprah ini t

elah dimulai sejak 4 Juli 1928 hingga saat ini. Sebagai misionaris yang diutus untuk mengambil bagian di dalam misi gereja dan tarekat tanpa batas, kiprah pelayanannya yang mondial; dan secara khusus di Keuskupan Purwokerto, misi tersebut diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada umat dan masyarakat di mana Konggregasi PBHK hadir, baik dalam bidang pendidikan (Yayasan Asti Dharma), maupun dalam bidang kesehatan, katekese dan pastoral pedesaan. Beberapa daerah (kota dan desa) di wilayah Keuskupan Purwokerto, hingga saat ini masih menjadi lahan subur bagi terwujudnya misi pelayanannya. Di wilayah Dekanat Timur misi pelayanan PBHK mencakup daerah Wonosobo, Kapencar, dan kota Purworejo sendiri. Di Wilayah Dekanat Selatan, kiprah PBHK mencakup wilayah Cilacap dan Sidareja; atau di Wilayah Dekanat Utara yang mencakup Tegal, Slawi, Mejasem, dan Pemalang. Patut disyukuri karena selama kurun waktu 84 tahun Konggregasi PBHK telah memberikan andil di dalam proses membangun jati diri manusia yang berkarakter, memiliki budi pekerja, serta mencerdaskan iman.

Kedua, hari ini juga merupakan hari istimewa yang patut disyukuri; sebuah peristiwa iman dalam gereja dan konggregasi pada khususnya. Iman menjadi tonggak dan pilar utama dalam membangun kesetiaan pada Tuhan yang telah memanggil dan memilih manusia. Iman membuat subyek yang dipanggil ƭǟhu dan mengerti kepada siapa ia meletakkan hidup dan masa depannya. Iman putri Yairus dan wanita yang sakit pendarahan yang dibacakan dalam Injil Minggu Biasa XIII kemarin, menggerakkan Hati Tuhan untuk menjawab kebutuhan dan kerinduan hati mereka berupa rahmat kesembuhan. “Hai anak, Imanmu telah menyelamatkan engkau”, kata Yesus.

Kualitas iman yang sma bisa ditemukan dalam diri kelima Suster Putri Bunda Hati Kudus yang merayakan pesta yubileumnya di hari ini, juga ketiga suster yunior yang hari ini juga mengikrarkan Prasetya Kekalnya. Mereka yang merayakan pesta yubileum, antara lain: Sr. M. Gabriella Sri Sudati, PBHK (60 tahun); Sr. M. Rosalia Kunmaryatin, PBHK dan Sr. Maria Sayuti, PBHK ((50 tahun); Sr. M. Cornelia Wiyati, PBHK dan Sr. M. Rosa de Lima Kustina, PBHK (40 Tahun; Sementara itu, ketiga suster yunior yang mengikrarkan Prasetya Kekal hari ini, yakni: Sr. M. Mariana Silvia Sayang, PBHK, Sr. M. Amanda Dwi Andayanti, PBHK, dan Sr. M. Dionysia Titik Suprapti, PBHK.

Perayaan Syukur bersama dalam bentuk Misa Kudus dilangsungkan di Gereja Paroki Santa Perawan Maria Purworejo. Bertindak sebagai selebran utama Misa Kudus: Mgr. Julianus Sunarkaa, SJ, dengan para conselebran: Mgr. Murwito, OFM (Uskup Agats), Rm. Florianus Miranta, MSC selaku Romo Paroki Santa Perawan Maria Purworjo; Rm. Tarcis Wignosoemarto, MSC, Rm. Samuel Maranresy, MSC, Rm. Mulyato (para pembimbing retret); serta Rm. Hadisiswaya, MSC dan Rm. Aloy Lamere, MSC. Ada juga banyak romo dari berbagai paroki lain bahkan luar kota datang hadir dalam perayaan ekaristi kudus sebagai tanda dukungan bagi Konggregasi PBHK dan khususnya bagi para yubilaris dan para suster yang berkaul kekal.

Dalam kotbahnya, Uskup menegaskan agar para suster selaku misionaris yang melekat dengan gaya kegembalaan cinta kasih dan dengan motto “Ametur Ubiqueterrarum Cor Jesu Sacratissimum“, hendaknya tetap mengusahakan model pelayanan yang menyeluruh. Lebih konkrit Uskup menegaskan bahwa sebagai misionaris yang memiliki hati, semestinya mengembangkan model pastoral “blusukan”, artinya para suster juga harus bisa masuk desa, keluar desa, dan tidur di desa. Seperti Yesus dahulu mengutus para muridNya untuk pergi ke desa-desa mewartakan Injil, menyembuhkan orang-orang sakit, dan mengusir setan-setan. Maka, sebagai misionaris Hati Kudus Yesus, harus berani pula menjadi misionaris blusukan, demikian tandas Bapak Uskup mengakhiri homilinya.

Perayaan Ekaristi berlangsung selama 3 jam, namun tetap terasa hikmat, agung dan semarak. Tentu atas dukungan banyak pihak: keluarga, Bapak Uskup, para romo, suster dari tarekat lain, frater, bruder, keluarga dan umat paroki, serta koor gabungan dari Novisiat MSC Sananta Sela Karanganyar dan Novisiat PBHK Purworejo.

Usai Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan Sambutan-Sambutan, dan kemudian makan siang bersama di Aula Susteran Purworjo.

Proficiat untuk Konggregasi PBHK Provindo,
Proficiat untuk Para kelima Yubilaris, dan
Proficiat pula untuk ketiga suster profesi kekal.

 

Romo Maurice, MSC

5 pencarian oleh pembaca:

  1. penyegaran hidup keutamaan marah
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.