Pesta Nama Santo Aloysius, Jangan Mengabdi pada 2 Tuan

Pesta Peringatan Santo Aloysius (Mat 6:24-34)
Ada orang bilang mengabdi kepada Allah itu kehilangan duit, sedang mengabdi mamon dapat duit. Itulah sebabnya ada banyak orang Katolik yang absen atau minta izin untuk tidak mengikuti Misa Lingkungan atau untuk pendalaman iman di kelompok basis atau pertemuan lainnya soalnya masih kerja.

Kerja atau cari uang merupakan halangan pokok untuk melaksanakan hidup sebagai orang Katolik, seakan-akan kalau ekonomi sudah kecukupan barulah mulai aktif. Apakah ini mengabdi kepada Mamon? Bukan. Tetapi menurut Tuhan Yesus orang ini menampakkan kecemasan akan hidupnya, seakan-akan kehilangan waktu satu-dua jam dalam setiap bulan saja, seolah-olah akan menjatuhkan ekonomi keluarga.

Namun yang disebut mengabdi Mamon yaitu orang yang mengejar kekayaan, kedudukan dan kesenangan begitu gencarnya, sampai benar-benar meninggalkan imannya, lupa akan Tuhan. Biasanya orang dihadap kan pada dua pilihan: Pilih kekayaan dengan menanggalkan iman atau tetap dalm iman, tetapi tetap miskin. Pilih kedudukan tetapi tinggalkan salibmu.

Hari ini kita dapat teladan gemilang dari Santo Aloysius. Ia putera sulung dari keluarga bangsawan Gonzaga yang sangat kaya. Bapaknya seorang perwira militer yang mengharapkan supaya putera sulungnya ini kelak dapat menggantikan kedudukannya dan mewaris semua kekayaannya. Tetapi Aloysius ini sungguh luar biasa sejak kecil ia sudah suka matiraga dan berdoa.

Bapaknya mengirim Aloysius ke Florence agar menerima pendidikan di istana Medici sebagai persiapan untuk menggantikan kedudukan bapaknya. Namun Aloysius merasa muak tinggal di istana karena kehidupan orang-orang yang sangat asusila, sehingga ia mengikrarkan kaul kemurnian dan ia ingin hidup sebagai seorang religius.

Di hadapan bapa-ibunya Aloysius menyatakan diri ingin hidup sebagai imam Serikat Yesus. Semula ayahnya menolak, tetapi karena desakan kuat dari Aloysus akhirnya ayahnya mengabulkan.

Aloysius meninggalkan semua hak dan warisannya dan mulai studi sebagai calon imam. Ia sangat rendah hati dan mendapat prestasi yang sangat tinggi, namun ia tidak segan-segan membantu orang-orang yang menderita kemalangan.

Pengabdiannya kepada Yesus dilakukan secara tuntas. Ia menghayati kemiskin an dan matiraga justru di saat bergelimang dengan harta benda orangtuanya. Ia menghayati kemurniannya disaat lingkungannya penuh dengan perbuatan asusila.

Ia melaksanakan pelayanan, sewaktu di Roma terjangkiit penyakit pes, sampai ia sendiri harus menderita sakit. Aloysius merupakan orang kudus muda yang berusia 23 tahun.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.