Pesan Terakhir

Ayat bacaan: Yosua 24:14
====================
“Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.”

pesan terakhir

Sebuah pesan terakhir yang disampaikan orang yang akan meninggal biasanya merupakan sebuah pesan penting, sebuah amanah yang harus dipegang dan dipertanggungjawabkan oleh penerimanya. Saya ingat lebih dari 10 tahun yang lalu ketika kakek saya tengah koma dan kehilangan kesadaran dan saya tengah berada sendirian di dekatnya, tiba-tiba ia terbangun dan memanggil saya. Dengan terbata-bata ia menyampaikan pesan terakhirnya bukan kepada anak-anaknya tetapi justru kepada saya yang sebetulnya tidak begitu dekat dengannya semasa hidup. Pesan terakhirnya adalah agar saya menjaga keutuhan keluarga besar. “Jaga keluarga besar ini supaya tetap rukun. Ingatkan mereka semua agar jangan berkelahi, jangan sampai pecah. Kita semua satu, jangan saling membedakan.” Kira-kira itu katanya, dan tepat setelah mengatakan itu dan mendengar saya mengiyakan, ia pun kembali kehilangan kesadaran lalu meninggal dua jam kemudian. Pada saat itu saya tidak mengerti mengapa ia berkata demikian, sebab semuanya kelihatan akur-akur saja. Tetapi hari ini, keluarga besar itu ternyata memang terpecah-pecah. Pesan terakhir kakek saya yang ketika saya terima terdengar mudah menjadi sungguh sulit untuk dilakukan hari ini. Sebuah pesan terakhir biasanya menyangkut hal yang dianggap terpenting oleh penyampainya yang harus ia katakan sebelum ia meninggal. Sebuah pesan yang tidak bisa kita sepelekan dan harus kita pegang terus sebagai amanah yang harus pula bisa kita pertanggungjawabkan.

Kisah hidup Yosua sangat menarik untuk dibaca. Penuh warna, penuh petualangan dengan beragam pengalaman yang akhirnya membentuk karakter Yosua seperti yang kita ketahui. Yosua pernah di utus sebagai satu dari selusin mata-mata yang dikirim untuk mengintai kondisi tanah yang dijanjikan Tuhan, tanah Kanaan selama 40 hari. (Bilangan 13:8,16). Ia adalah satu dari dua orang bersama Kaleb yang membawa hasil pengamatan positif karena iman yang percaya kepada janji Tuhan. Ia pernah mengalami masa sebagai prajurit perang yang gagah berani menghadapi orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Yosua dikenal mengawali kariernya sebagai abdi Musa, yang mengikuti kemanapun Musa pergi selama masa perjalanan memasuki Kanaan ketika Israel berada di bawah kepemimpinan Musa. Pengalaman menariknya hadir pada suatu kali ketika ia menyertai Musa untuk bertemu dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Bukan para tua-tua yang dibawa Musa ke atas, tetapi justru Yosua muda lah yang ia bawa. (Keluaran 24:12-14). Dan Yosua pun mengalami sebuah pengalaman yang luar biasa. Alkitab mencatat: “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu. (33:11). Semua itu bukanlah kebetulan. Saya yakin Tuhan sejak semula mempersiapkan Yosua untuk menerima tanggungjawab berat kelak menggantikan Musa. Menyaksikan kemuliaan Tuhan secara langsung seperti itu sangatlah berkesan baginya, sampai ia dikatakan enggan beranjak keluar dari kemah yang penuh hadirat Tuhan. Maka selanjutnya kita menyaksikan bahwa ia diangkat Tuhan untuk menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. “Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau.”(Ulangan 31:23).

Petualangan yang panjang, penuh warna dan mengesankan mengisi buku sejarah hidupnya dengan sangat indah. Dalam Yosua pasal 24 akhirnya kita bertemu dengan Yosua di penghujung hidupnya. Ia sudah berumur lebih dari seratus tahun pada saat itu. Ia tahu bahwa sisa umurnya tidaklah lama lagi, dan “Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah.” (Yosua 24:1). Sikhem merupakan tempat yang penuh makna bagi bangsa Israel baik dalam kisah Abraham, Yakub dan sebagainya. Maka tepatlah jika sebuah tempat yang bersejarah ini dipakai oleh Yosua untuk menyampaikan pesan terakhirnya sekaligus memperbaharui perjanjian antara bangsa Israel dengan Tuhan. Melihat sepak terjang Yosua sejak masa mudanya hingga di penghujung hidup, tentu ada banyak yang bisa diceritakan oleh Yosua sebagai pesan atau peringatan bagi bangsa Israel bagaimana mereka harus hidup sepeninggalnya. Ada begitu banyak pesan penting, tetapi sebagaimana halnya pesan terakhir, Yosua mengambil sebuah pesan terpenting sebagai rangkuman dari sejarahnya yang sangat berharga untuk dibagikan. Pengalaman yang membawa keteladanan dirangkum dalam satu kesimpulan untuk disampaikan sebagai amanah kepada bangsa Israel. Dan itu berbunyi: “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” (Yosua 24:14). Itulah bunyi pesan terakhir sebagai rangkuman atau kesimpulan dari segala pengalaman hidupnya dari awal hingga akhir. Takutlah akan Tuhan, beribadahlah kepada tuhan dengan tulus, iklas dan setia dan jangan menyembah allah-allah lain melainkan kepada Tuhan saja. Tiga pesan yang teramat penting hadir sebagai peringatan berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri, taken from his own impressive life story.


Life is about making choices. Hidup itu penuh pilihan. Dan Tuhan sendiri tidak menciptakan kita sebagai robot-robot atau bagai kerbau dicocok hidung. Tuhan memberikan kita kehendak bebas, apakah kita mau mendengar dan menuruti serta melakukan FirmanNya, sesuai dengan kehendakNya agar bisa menuai janji-janjiNya termasuk keselamatan yang telah Dia anugerahkan lewat Kristus atau kita memilih untuk mengabaikan semuanya dan lebih suka untuk masuk ke dalam tempat yang sangat berbanding terbalik dengan Surga yang penuh kemuliaan Tuhan. Tuhan memberi pilihan yang bisa kita pilih, apakah berkat atau kutuk seperti dalam Ulangan 28. Ayat 1-14 berisi janji berkat, sementara ayat 15-46 berisi kutuk. Rangkaian kotbah terakhir Musa sebelum digantikan Yosua pun mengingatkan: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan.” (Ulangan 30:15). Lalu selanjutnya ia berpesan: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub…” (ay 19-20). Dan Yosua pun menyampaikan soal pilihan ini. “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” (Yosua 24:15a). Sekali lagi, life is about making choices. Tapi bagi Yosua dan keluarganya, beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Yosua mengambil pilihan itu. Itu tergambar dari seluruh perjalanan hidupnya dan itulah yang ia sampaikan sebagai kesaksiannya kepada bangsa Israel sebelum ia dipanggil Tuhan. “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (ay 15b).

Berdasarkan pengalaman hidupnya, Yosua menyampaikan kunci keberhasilan dalam hidup ini. Ia sudah membuktikan sendiri bagaimana iman yang percaya penuh pada Tuhan mampu membawanya pada kemenangan demi kemenangan dalam perjalanan hidup. Pesan terakhir merupakan sesuatu yang dianggap terpenting untuk disampaikan, dan Yosua menyampaikan hal yang sangat penting agar kita bisa menuai keberhasilan demi keberhasilan dalam hidup kita. Takutlah akan Tuhan, beribadahlah dengan tulus, ikhlas dan setia, dan jauhilah allah-allah lain, bukan saja terhadap kuasa-kuasa kegelapan yang menawarkan berbagai hal instan yang bisa terlihat seolah menjanjikan pertolongan, tetapi juga hal-hal duniawi yang mampu memperhambakan kita atasnya. Yosua telah menyampaikan sebuah amanah yang akan membawa kita ke dalam kemenangan hingga garis akhir, sekarang semua tergantung kita untuk memutuskan apa yang mau kita pilih.

Pesan terakhir Yosua berisi kunci yang membawa keberhasilan dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: