“Pertobatan” Uskup Atlanta – Teladani Kesederhanaan Paus Fransiskus (1)

< ![endif]-->

PADA akhir Maret 2014, Mgr. Wilton Gregory menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di The Georgia Bulletin, surat kabar resmi Keuskupan Atlanta yang diterbitkan dua kali dalam sepekan. Permintaan maaf itu muncul menanggapi laporan berita kontroversial tentang projek rumah residensial yang baru untuk uskup.

Kontroversial mengenai rumah baru Uskup Agung Atlanta telah merebak di media sejak bulan lalu. Kasus ini bermula dari solusi yang diambil untuk mengatasi keterbatasan ruang katedral dengan memindahkan pastoran ke rumah residensial Uskup yang terletak dekat dengan Katedral.

Keuskupan Agung Atlanta mendapatkan hibah dari umat berupa tanah dengan sebuah bangunan mewah di atasnya. Donasi murah hati itu datang dari Joseph Mitchell, keponakan pengarang terkenal Margaret Mitchell (Gone With the Wind). Itu memang bukan rumah biasa, harganya ditaksir 2,2 juta dolar (sekitar 27,5 milyar rupiah), dengan luas sekitar 1.828 meter persegi, sejumlah kamar tidur dan ruang serbaguna.

Hal ini di masa lalu kiranya tak terlalu menjadi sorotan, tetapi setelah dunia terpesona dengan keteladanan hidup sederhana Paus Fransiskus, maka kritikan dan kecaman muncul dari banyak pihak terutama umat di Keuskupan Atlanta.

Syukurlah Uskup Agung Mgr. Wilton Gregory cepat menanggapi dan tersadar akan implikasi religius dan sosial dari keputusan yang tampaknya secara finansial dan logika tidak salah, tetapi rupanya menciderai hati umat.

Atlanta Uskup Agung

Uskup Agung Atlanta (AS) Mgr. Wilton Gregory yang ‘bertobat’ ingin melakoni hidup lebih sederhana meneladani Paus Fransiskus. (Ilustrasi/Newstime)

Reaksi kecewa umat Keuskupan Atlanta merupakan bagian dari serangkaian dampak dari gaya hidup sederhana Paus Fransiskus. Paus yang memilih berkendaraan dengan transpor umum dan mobil Ford Focus dan menolak tinggal di istana kepausan. “Saya sedih dan kecewa ketika melihat pastor atau suster yang mengendarai mobil keluaran terbaru,” katanya musim semi lalu. “Mobil memang penting sebagai alat transportasi, tetapi pilihlah yang biasa. Ingatlah berapa banyak anak-anak yang mati kelaparan.”

Di Newark, Amerika Serikat, awam juga menyatakan kekecewaan mereka akan rencana ekspansi rumah akhir pekan keuskupan yang akan menelan biaya 500.000 dolar (sekitar 5,5 milyar rupiah). Di West Virginia, Amerika Serikat, umat katolik setempat juga mempertanyakan gaya hidup uskup yang dianggap mewah. Dan yang teranyar, pekan  lalu Paus Fransiskus baru saja menerima pengunduran diri dari seorang uskup Jerman yang telah membelanjakan tak kurang 43 juta dolar (sekitar 473 milyar rupiah) untuk renovasi rumah dan bangunan gereja.

Sebenarnya di Amerika, masa sebelum Paus Fransiskus, telah ada uskup yang menganut cara hidup sederhana. Seperti di Boston, Kardinal Sean P. O’Malley memulai masa tugasnya dengan menjual bangunan mewah keuskupan dan pindah ke pastoran katedral yang sederhana. Di Philadephia, Uskup Agung Charles Chaput menjual bangunan megah yang dulu menjadi kediaman uskup dan pindah ke sebuah apartemen yang terletak di dasar sebuah seminari. Di Pittsburg, Uskup David A. Zubik juga melakukan hal yang sama.

Sebuah Gereja yang sungguh berbela rasa.

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.