Pernikahan yang Kekurangan Anggur

Ayat bacaan: Yohanes 2:3
=================
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”

Sebuah pernikahan seyogyanya merupakan sebuah jenjang kehidupan yang membawa kebahagiaan dan damai sejahtera. Bagi saya, keluarga seharusnya membuka kesempatan bagi kita untuk memahami nilai-nilai kebersatuan, apalagi Tuhan sendiri sudah menyatakan bahwa “…di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20). Bayangkan betapa indahnya ketika kedamaian hadir di dalam keluarga dengan merasakan kehadiran Tuhan tepat ditengah kita. Sayangnya yang sering terjadi justru sebaliknya. Keluarga bukan lagi dianggap sebagai surga tetapi malah neraka dunia. Perselisihan, ketidakcocokan, perang ego dan sejenisnya kerap membuat keluarga tidak lagi sejuk tetapi sangat panas. Di televisi kita melihat pasangan-pasangan selebritis yang selama ini dikagumi banyak orang akhirnya berakhir di tahun yang sedang kita jalani sekarang, melanjutkan ‘trend’ dari lusinan pasangan lain pada tahun-tahun sebelumnya. Komunikasi antar anggota keluarga menjadi semakin jarang, masing-masing sibuk dengan dunianya. Meski hadir dekat secara fisik, belum tentu jiwanya pun dekat. Pertanyaannya, pentingkah keluarga di mata Tuhan? Dan jika penting, bagaimana caranya kita bisa membentuk sebuah keluarga yang penuh kasih, atau memeliharanya agar tetap kokoh?

Dengarlah: keluarga merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan. Lihatlah bagaimana Tuhan mengatakan kesedianNya untuk secara langsung menjadi saksi dalam pernikahan (Maleakhi 2:14-16), yang merupakan awal dari terbentuknya sebuah keluarga. Jika keluarga itu tidak penting, buat apa Tuhan repot-repot memateraikannya secara langsung? Bukti lain akan pentingnya keharmonisan keluarga di mata Tuhan bisa kita lihat pula dari fakta bahwa mukjizat yang menyertai pelayanan Kristus dalam kehadiranNya di muka bumi ini justru berawal dari sebuah pesta pernikahan yang kekurangan/kehabisan anggur.

Ayat bacaan hari ini saya ambil dari Injil Yohanes yang menceritakan sebuah kisah tentang kehadiran Yesus dalam pesta perkawinan di Kana. Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Normalnya sebuah pesta, tentu persiapan untuk mampu memenuhi kebutuhan sesuai jumlah tamu seharusnya sudah dipersiapkan dari jauh hari. Tetapi yang terjadi adalah kedua mempelai justru kehabisan anggur. “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” (Yohanes 2:3). Kita tentu sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya, Yesus mengubah air menjadi anggur, bukan sekedar anggur biasa tetapi anggur yang baik (ay 8). Kisah ini tidak lagi asing bagi kita dan bisa diaplikasikan dalam banyak hal. Tapi untuk hari ini, mari kita fokus kepada ayat bacaan kita. Sebuah pernikahan yang kekurangan, lalu kehabisan anggur. Ini merupakan sebuah gambaran yang cukup jelas mengenai sebuah pernikahan yang tidak lagi punya sukacita dan damai sejahtera. Pernikahan yang tidak lagi manis tetapi kering dan tawar, atau mungkin malah pahit.

Tuhan menganggap penting hal ini dan mengangkat tema kebersatuan dalam begitu banyak bagian Alkitab. Jika anda membaca Yohanes 7:9-11 anda akan menemukan bahwa Tuhan Yesus secara khusus berdoa bagi kita semua agar bisa menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa. Lantas dalam ayat 21-23 Yesus menekankan bahwa kebersatuan dalam keluarga bahkan bisa membawa kesaksian kepada dunia bahwa Yesus diutus langsung oleh Allah dan bahwa Allah mengasihi kita semua sama seperti Dia mengasihi Kristus. Selanjutnya dalam Mazmur kita juga bisa melihat bahwa kehidupan bersama dengan rukun mampu menurunkan berkat yang melimpah. “…Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. eperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”  (Mazmur 133:1-3). Ini pun menunjukkan bagaimana pentingnya keharmonisan dalam keluarga di mata Tuhan.

Bagaimana apabila sebuah pernikahan atau keluarga sudah terlanjur kekurangan atau bahkan kehabisan anggur? Kembali kepada kisah pernikahan di Kana, kita bisa melihat bahwa tidak pernah ada kata terlambat. Yesus mampu memulihkan sebuah pernikahan yang sudah keburu hancur untuk kembali pulih atau malah jauh lebih manis dari sebelumnya. Itu bukanlah hal yang sulit bagiNya. Apa yang sulit adalah bagi kita untuk mempercayai janji Tuhan dan menuruti FirmanNya agar bisa mengalami pemulihan. Hari ini saya secara khusus berdoa buat teman-teman yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam hubungan keluarga, baik antara suami-istri, orang tua-anak, antar saudara dan sebagainya. Percayalah, Yesus mampu memulihkan dan memberkati keluarga anda dengan limpahan anggur terbaik.

Keluarga harmonis itu penting di mata Tuhan, pastikan agar tidak kehabisan anggur!

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.