Perkatakan, Renungkan, Lakukan (1)

Ayat bacaan: Yosua 1:8
===================
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”

perkatakan, renungkan, lakukan

Ketika porsi pekerjaan kecil, peningkatan karir menjadi dambaan. Ketika karir meningkat dan tanggungjawab menjadi lebih berat, yang hadir bukannya bersyukur tapi malah keluhan karena beban dan kesulitan pekerjaan bertambah. Ada banyak orang yang mengalami hal ini, termasuk salah seorang teman saya yang mengeluh karena merasa kurang sanggup menghadapi jabatan barunya yang lebih tinggi. Saya ingat betul bahwa ia dulu selalu mengeluh karena posisinya tidak kunjung meningkat, namun setelah meningkat keluhan pula yang keluar. Sesungguhnya apa yang kita inginkan? Karena jika kita menginginkan peningkatan karir tapi berharap bahwa pekerjaan atau tanggung jawab menjadi lebih kecil sementara gaji bertambah besar, itu semua tidaklah logis. Tentu saja peningkatan karir akan diikuti oleh peningkatan tanggungjawab yang seringkali diikuti dengan beban pekerjaan yang semakin besar pula.

Yosua mengalami hal itu ketika ia diminta untuk menggantikan Musa yang telah mangkat untuk mengawal bangsa Israel memasuki tanah terjanji. Ini tugas yang luar biasa berat, karena selain bangsa itu besar jumlahnya, mereka pun bukanlah sosok bangsa yang taat, patuh atau manut kepada pimpinannya. Tuhan pun berjanji kepada Yosua bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkannya sendirian. “Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Yosua 1:5). Yosua diminta untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya, bertindak hati-hati sesuai dengan seluruh hukum Tuhan, dan menjaga langkahnya dengan hati-hati agar jangan sampai menyimpang ke kanan atau kiri. Ini sesungguhnya pesan penting mengingat tugas maha berat yang dibebankan ke pundak Yosua. Mari kita lihat, Tuhan menjanjikan penyertaanNya bila Yosua mampu tegar dan bertindak sesuai firman Tuhan. Tapi bagaimana itu bisa ia lakukan jika ia tidak tahu apa yang menjadi firman Tuhan? Oleh karena itulah Tuhan menambahkan pesanNya kepada Yosua agar apa yang ia lakukan bisa berhasil. Demikian firman Tuhan: “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (ay 8). Inilah tiga langkah yang harus dilakukan oleh Yosua agar ia bisa berhasil dan beruntung. Tiga langkah yang harus seiring sejalan dan tidak bisa hanya satu saja dilakukan. Pertama memperkatakan firman, kemudian merenungkannya siang dan malam, lalu bertindak sesuai firman alias menjadi pelaku firman. Ini tiga langkah yang menjadi syarat agar apapun yang dilakukan bisa mencapai keberhasilan dan membawa keberuntungan. Pekerjaan apapun, termasuk yang berat sekalipun.

Melakukan pekerjaan yang berat memang tidak mudah. Jika hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri tentu tidak akan cukup. Itulah sebabnya mengapa kita butuh penyertaan Tuhan dalam usaha kita agar bisa berhasil. Namun seringkali kita lupa bahwa untuk mendapatkan janji Tuhan itu dibutuhkan syarat yang harus kita penuhi terlebih dahulu. Dari kisah Yosua di atas kita bisa melihat ketiga syarat yang akan membuat hadirnya penyertaan Tuhan dan membawa kita mencapai keberhasilan dan beruntung.

Memperkatakan firman itu penting. Seringkali kita lebih sering mempergunakan mulut kita untuk hal-hal yang tidak berguna atau bahkan yang tidak baik. Bersungut-sungut, mengeluh, berbohong bahkan mengumpat. Itu jauh lebih sering keluar dari mulut kita ketimbang mengucap syukur dan memperkatakan firman Tuhan yang bisa memberkati orang lain. Padahal Yesus sudah mengingatkan “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Sepertinya memang kecenderungan manusia untuk terjebak pada kebiasaan mengeluarkan perkataan yang sia-sia ini. Karena itulah kita bisa belajar dari Daud yang berkata “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3). Menjaga hati pun menjadi hal yang mutlak untuk kita lakukan, karena “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34).

(Bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.