Periksalah (1) : Elisa dan Janda dengan Buli-Buli Minyak

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 4:2
======================
“Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

Bagi anda yang berlangganan TV cable tentu bertemu kembali dengan serial TV yang dahulu sangat populer di Indonesia yaitu MacGyver. Serial yang aslinya diputar sejak tahun 1985 sampai 1992 bercerita tentang seorang jagoan yang sangat pintar yang selalu mampu menyelesaikan masalah demi masalah dengan menggunakan apapun yang bisa ia jumpai. Jika kebanyakan tokoh utama film action harus mempergunakan senjata, ia memilih untuk memakai lakban dan perkakas lipat multi guna atau sering disebut Swiss Army knife. Apa yang saya suka dari tokoh ini adalah ia tidak pernah mengeluh terhadap keterbatasannya ataupun terbatasnya ketersediaan perlengkapan atau bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mengalahkan musuh atau situasi sulit. Ia selalu bisa keluar dari masalah dengan memaksimalkan apa yang ada pada dirinya dan apa yang ada disekitarnya. Kisah fiktif? Mungkin ya. Tapi saya suka esensinya. Terlebih ketika sikap ini semakin lama semakin sulit untuk dijumpai karena orang semakin malas dan lebih suka memilih untuk mengeluh dan menyalahkan situasi ataubahkan orang lain ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada dan bisa diolah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tuhan tidak suka orang-orang yang jago mengeluh apalagi yang hobinya mencari kambing hitam. Tuhan selalu ingin kita memeriksa dahulu apa yang ada pada kita sebelum kita menyerah dan mencari kesalahan dari orang lain maupun situasi. Hari ini dan besok, mari kita lihat apa kata Alkitab mengenai hal ini lewat dua kisah yang berbeda.

Hari ini mari kita belajar lewat mengenai seorang janda dengan dua anak yang dicatat dalam kitab 2 Raja Raja. Pada suatu hari datanglah janda dari salah seorang nabi yang baru saja ditinggal mati suaminya dan terlilit masalah. Ini menjadi awal dari kitab 2 Raja Raja pasal 4. “Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” (2 Raja Raja 4:1). Apa yang tengah dihadapi ibu ini sungguh berat. Baru saja ditinggal suami ia sudah harus terlilit hutang dan terancam kehilangan kedua anaknya yang siap untuk diambil untuk melunasi hutang. Saat itu penagih hutang sudah datang, maka ia pun harus siap kehilangan anaknya untuk dijadikan budak. Dari ayat ini kita bisa melihat seruannya bahwa sangatlah tidak adil jika ini terjadi pada dirinya sementara sang suami dengan jelas dikatakan sebagai hamba Tuhan yang taat.  Tapi itulah problema yang tengah dialami oleh ibu janda ini. Ia punya alasan untuk mengeluh atau merasa diperlakukan tidak adil. Tapi untunglah ia tidak terjebak untuk mengambil keputusan yang salah atau mencari kambing hitam. Ia memilih untuk mengambil keputusan yang benar. dengan  membawa persoalannya kepada Elisa. Elisa pun kemudian bertanya apa yang bisa ia perbuat bagi ibu itu. Menariknya, tanggapan Elisa tidak hanya berhenti pada apa yang bisa ia perbuat untuk menolong sang janda, tapi juga bertanya apa yang ada pada janda itu. “Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” (ay 2). Perhatikan baik-baik. Elisa bukannya segera memberi uang atau bereaksi secara langsung, tetapi ia menanggapi dengan menanyakan apa yang dipunyai si ibu. Jika hal itu ditanyakan pada kita yang tengah dirundung masalah berat, mungkin kita akan marah dan segera pergi meninggalkan Elisa. Tapi si ibu bereaksi positif dan menjawab bahwa ia tidak punya apa-apa lagi selain sebuah buli-buli berisi minyak. Ia memang tidak punya apa-apa lagi, tapi setidaknya ia masih mengingat sebuah buli-buli atau botol berisi minyak miliknya yang tersisa. Lalu Elisa berkata: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” (ay 3-4). Pikirkanlah. Apakah itu masuk akal untuk dilakukan? Logika akan berkata tidak. Tapi si ibu memilih untuk taat lalu mengikuti persis seperti apa yang diminta Elisa. Hasilnya ajaib! Si ibu ternyata bisa terus menuang minyak memenuhi bejana demi bejana sepenuhnya. Minyaknya tidak berhenti mengalir sampai seluruh bejana yang ada terpenuhi. (ay 5-6). Dan si ibu pun dengan sukacita kembali datang memberitahukan mukjizat Tuhan itu kepada Elisa. Maka selanjutnya Elisa memberi instruksi selanjutnya: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” (ay 7). Ternyata lewat satu buli-buli minyak, ia bukan saja bisa lepas dari jerat hutang itu tapi juga memperoleh sisa yang cukup untuk hidupnya bersama kedua anaknya.

Tuhan tentu lebih dari sekedar sanggup untuk menolong secara instan. Tapi pada kenyataannya Tuhan jauh lebih suka untuk melimpahkan berkatNya melalui apa yang kita punya. Dia memberkati lewat usaha yang kita lakukan untuk mengolah apa yang ada pada kita. Itu jauh lebih mendidik ketimbang menjadikan kita pribadi-pribadi yang manja yang mau memiliki segalanya tapi tidak mau berusaha. Orang tua yang baik tentu tidak memanjakan anaknya secara berlebihan dan mau mengajarkan anak untuk berusaha dan mandiri bukan? Tuhan pun seperti itu. Tuhan lebih suka memberi kail atau pancing dan menyediakan ikan di laut ketimbang melemparkan ikan-ikan tepat di atas kepala kita, apalagi yang sudah langsung dimasak dan tinggal makan. Sebuah proses itu penting di mata Tuhan, dan Tuhan akan sangat senang jika kita mau mencari tahu apa yang kita miliki lalu mempergunakannya. Talenta, bakat, berbagai kelebihan yang sudah ia berikan kepada kita adalah karuniaNya juga yang sudah ia sediakan sejak semula buat semua manusia tanpa terkecuali. Semua tergantung kita, apakah kita mau mengetahui dan mengoptimalkannya atau kita memilih untuk menutup mata dan hanya terus meminta tanpa berusaha. Tuhan tidak suka orang yang hanya mengeluh dan mencari kambing hitam tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang ia miliki dan apa yang bisa dilakukan dengan itu. Ibu janda ini diberkati melimpah lewat harta satu-satunya yang masih ia miliki secara ajaib. Tidak hanya sanggup melunasi hutangnya tetapi juga mendapatkan lebih dari itu yang bisa ia pergunakan untuk menghidupi keluarganya. Ia memang masih harus menjual terlebih dahulu, tetapi bukankah itu sudah sangat luar biasa dibandingkan harus kehilangan kedua anaknya? Hanya lewat minyak sebotol mukjizat Tuhan bisa mengubah keadaan dalam seketika. Dan Tuhan lebih dari sanggup untuk itu. Besok kita akan melihat contoh lainnya akan hal ini.

Tuhan tidak suka memanjakan kita, Dia ingin kita mandiri dan disanalah Dia akan melimpahkan berkatNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.