Perihal Mengampuni dan Diampuni (4)

(sambungan)

Terkadang memang tidak mudah bagi kita untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau telah merugikan kita. Tapi pengampunan merupakan hal yang wajib diberikan oleh anak-anak Tuhan kepada orang yang telah menyakiti kita, dan idealnya itu seharusnya tanpa batas. Itu sebuah keharusan karena bukankah Tuhan sendiri tidak pernah berpelit pengampunan kepada kita? Coba pikir, ada berapa banyak kesalahan yang kita perbuat dalam hidup kita, dan seringkali pelanggaran-pelanggaran berat kita lakukan, yang seharusnya akan berakibat kebinasaan. Jika memakai standar kepantasan, ada banyak kesalahan yang rasanya tidak pantas dimaafkan dan seharusnya untuk itu kita harus siap menanggung hukuman berat. Tapi Tuhan begitu mengasihi kita dan selalu siap untuk mengampuni kita begitu kita bertobat. Itu bentuk kasih Tuhan yang luar biasa.

Sebesar apapun dosa kita, Tuhan siap memutihkan bahkan berkata tidak akan mengingat-ingat dosa kita lagi. (Yesaya 43:25). Bayangkan apabila Tuhan sulit mengampuni kita, tidak mendengarkan pertobatan kita dan terus memutuskan untuk mengganjar kita dengan hukuman berat, apa jadinya dengan diri kita hari ini? Tapi Tuhan penuh kasih, belas kasihan dan kemurahan. Pengampunan akan segera diberikan kepada kita seketika begitu kita bertobat secara sungguh-sungguh. Jika kesalahan kita yang begitu banyak dan besar saja tidak henti-hentinya diampuni Tuhan, bukankah sudah sepantasnya kita pun mengampuni orang yang bersalah kepada kita, yang mungkin ukurannya lebih kecil dari dosa-dosa kita kepada Tuhan, seperti apa yang diberikan Yesus dalam perumpamaan di atas?

Sering berhadapan dengan situasi sulit, dengan orang-orang sulit bisa membuat kita semakin sulit pula mengampuni. Ada yang dengan sadar tidak kita maafkan, ada pula yang secara tidak sengaja. Mungkin kita bahkan sudah lupa tapi belum membereskannya. Jika kita tidak mempertebal kasih dalam diri kita dan tidak menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, maka akan semakin banyak orang-orang yang tidak kita ampuni, dan akibatnya bisa fatal, karena selain bisa membahayakan kelangsungan hidup kita dan menghilangkan damai sejahtera dan sukacita, hal itu akan menghambat pengampunan Tuhan untuk turun atas diri kita.

Memaafkan mungkin mudah dikatakan tapi sulit untuk dilakukan. Jika anda masih sulit melakukannya, berdoalah dan minta Roh Kudus untuk menguatkan anda dalam memberi pengampunan. Jika memakai perasaan sendiri mungkin sulit, tapi kita punya Roh Kudus yang akan memampukan.

Dua contoh yang saya sebut di awal renungan lewat kisah hidup Nelson Mandela dan Eric Lomax hendaknya membuka mata kita bahwa meski sulit, tapi manusia sebenarnya sanggup melakukan itu. Yang satu dipenjara selama 27 tahun dalam ruang lembab dan kehilangan hak kebebasannya, yang satu lagi mengalami penyiksaan kejam sebagai tahanan perang. Tapi keduanya sanggup melepaskan pengampunan terhadap orang yang jahat kepada mereka tanpa syarat. Hati mereka bentuknya sama seperti hati kita, kekuatan dan kemampuan mereka pun batasnya sama seperti kita. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak?

Kita bisa melihat bagaimana Tuhan dengan penuh kasih membuka pengampunan seluas-luasnya kepada kita tanpa memandang sebesar apa dosa yang pernah kita perbuat, maka kita pun seharusnya melakukan hal itu. Ketika Tuhan sudah menghapuskan dosa kita yang terbesar sekalipun, sudahkah kita dengan besar hati membukakan pintu pengampunan pula kepada orang lain?

“To be a Christian means to forgive the inexcusable because God has forgiven the inexcusable in you.” – C.S. Lewis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.