Perdamaian dengan Tuhan (2)

(sambungan)

Tabir? Mengapa tabir? Untuk menjawab hal ini, mari kita lihat apa yang terjadi ketika Yesus wafat di atas kayu salib. “Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.” (Markus 15:38). Tabir atau tirai dalam Bait Suci sebelumnya dipakai sebagai pembatas antara jemaat biasa dan imam besar. Yang boleh melewati batas tirai tersebut dan masuk ke dalam “Ruang Kudus” hanyalah para imam besar. Sebelum tabir itu terbelah, ruang ini adalah sebuah ruang yang tidak terjangkau atau tidak boleh dimasuki oleh orang biasa. Tapi ketika Yesus menyelesaikan tugasNya tabir itu terbelah. Secara simbolis hal ini menggambarkan adanya proses pemulihan hubungan antara kita dengan Tuhan. Kita tidak perlu lagi takut kehilangan nyawa untuk masuk ke hadirat Tuhan yang kudus, kita tidak lagi membutuhkan perantaraan imam-imam besar, karena Yesus sendiri kini menjadi perantara, menjadi tabir antara manusia dengan Allah Bapa. Dia membuka jalan kepada kita sehingga kita pun dapat bertemu dengan Bapa, lewat Yesus kita dilayakkan untuk menghampiri tahta Allah, yang berarti mendamaikan hubungan kita dengan Bapa Surgawi. Artinya, perdamaian antara manusia dan Allah bukan lagi suatu utopia melainkan sudah terjadi, dan itu oleh Yesus. Jika dulu sekat tabir membatasi antara manusia biasa dengan Tuhan, hari ini manusia bisa memasuki tahta Allah yang kudus hanya lewat Yesus. Bacalah kembali ayat Ibrani 10:19-20 diatas, maka kita akan menyadari betul bahwa Yesus sudah membuka jalan dan bertindak menjadi tabir secara langsung. Tidak ada yang bisa menghampiri tahta kasih karunia yang kudus jika tidak melalui Yesus. Itu tepat seperti apa yang sudah disampaikan Yesus: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Berbagai bentuk dosa yang membelenggu kita seharusnya membuat kita binasa, “Sebab upah dosa ialah maut.” (Roma 6:23). Selain upahnya maut, dosa-dosa pun membuat hubungan kita dengan Tuhan terputus. Tetapi lewat Kristus hubungan itu dipulihkan. Perseteruan berakhir, dan perdamaian dengan Tuhan pun terjalin. Paulus mengatakan dalam surat Roma: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:10). Tidak saja kita diperdamaikan, tetapi juga mendapat anugerah keselamatan. Yohanes pun mengatakan “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.” (1 Yohanes 3:1a). Status sebagai anak-anak Allah pun disematkan kepada kita. Bukankah ini sebuah berita kesukaan yang sangat luar biasa?

Maka pertanyaannya adalah, apakah kita sudah cukup peduli dengan hal itu? Apakah kita sudah mengamini kemerdekaan atas dosa yang sudah diberikan Yesus atau masih terus menghamba pada dosa? Apakah kita sudah menghargai anugerah hidup yang baru atau masih berkubang pada bentuk manusia lama kita? Apakah kita sudah menghargai secara benar anugerah luar biasa besar ini atau masih tertarik untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran yang mendukakan hati Tuhan? Apakah kita sudah terus berbenah diri agar semakin serupa dengan Yesus atau malah terus mempermalukan Yesus lewat cara hidup kita yang buruk? Semua ini hendaknya menjadi bahan perenungan kita, terlebih di saat kita mengenang kelahiran Yesus. Jangan sampai hari Natal hanya berupa sebuah pesta perayaan dengan pohon terang, makanan enak dan kado atau hadiah berbungkus indah saja tanpa menyadari makna sebenarnya yang terkandung di dalamnya.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.