Perdamaian dengan Tuhan (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:19
======================
“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”

“Perdamaian? Itu cuma utopia bro…” demikian kata teman saya sambil tersenyum kecut pada suatu hari ketika kami ngobrol santai. Ia mengacu kepada kondisi negeri kita yang semakin lama semakin tidak kondusif. Pemerintah terkesan sangat lemah dalam melindungi kelompok minoritas dan takut menghadapi golongan keras. Akibatnya kita melihat berbagai bentuk kekerasan yang ironisnya justru mengatas-namakan Tuhan, seolah-olah Tuhan itu haus darah dan kelompok-kelompok itu pun mendapat otoritas untuk membantai orang-orang atas namaNya. Kalaupun tidak menyoroti hal-hal ekstrim, maka kita akan jauh lebih mudah menemukan pertikaian ketimbang perdamaian. Jika anda menonton berita televisi setiap hari, maka setiap hari pula anda akan menemukan berbagai bentuk kekerasan akibat sengketa antar dua pihak atau lebih yang seringkali berujung kekerasan. Demo yang berakhir ricuh, pertengkaran antar warga, bahkan antar aparat keamanan yang seharusnya menjadi pelindung di negeri ini. Anda juga akan mudah menemukan kubu-kubu yang terlibat konflik di kantor, lembaga pendidikan dimana anda menuntut ilmu dan sebagainya yang kerap berasal dari kepentingan pribadi atau golongan. Jika kita melihat dari sisi yang lebih luas yaitu dunia, maka kita akan menemukan begitu banyak sengketa dengan dasar masalah bervariasi yang tidak jarang berujung pada ancaman perang. Tak peduli berapa banyak lembaga internasional yang memberi penghargaan atas inisiatif-inisiatif perdamaian yang dilakukan baik perorangan maupun organisasi atau kelembagaan, bentuk-bentuk kekerasan yang mengorbankan banyak nyawa tetap saja terjadi di berbagai belahan dunia. Di lain waktu mungkin saya akan membahas mengenai ajaran Kristus tentang bagaimana agar kita bisa berdamai di atau dengan dunia beserta isinya yang tak damai ini. Tapi pada hari Natal kali ini, saya ingin mengajak anda untuk melihat sebuah fakta tentang damai lewat kedatangan Yesus ke dunia, yaitu antara kita dengan Allah.

Dosa-dosa yang terus kita perbuat menciptakan jurang yang lebar dengan Sang Pencipta. Dalam Alkitab dikatakan: “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Akibat dosa, kita berseteru dengan Tuhan, dan karenanya kita pun terus mengarah kepada jurang kebinasaan yang menganga lebar. Tetapi Kristus datang ke dunia menebus dosa-dosa kita. Perhatikan rangkaian kalimat yang indah dari Paulus dalam surat Roma berikut ini: “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:20-23).

Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa jika sebagai hamba dosa kita seharusnya beroleh kematian, kedatangan Yesus ke dunia membebaskan atau memerdekakan kita dari dosa dan membawa kita kepada sebuah ‘happy ending’ yaitu hidup yang kekal. Artinya, Yesus menebus dosa kita agar kita layak untuk menerima anugerah keselamatan pada fase kekekalan nanti, tapi disamping itu karya penebusan yang dijalankan Yesus juga mendamaikan kita dengan Allah. Jika hari ini kita bisa datang memasuki hadirat Tuhan untuk bersekutu denganNya secara langsung, jika Penulis Ibrani berani mengajak kita untuk “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:16), itu semua karena dosa-dosa kita sudah ditebus lunas oleh Yesus. “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.” (Ibrani 10:19-20).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.