Percikan Api Sepanjang Tahun: Copet!

murung galau

HARI  itu saya benar-benar lemas. Saya baru saja kecopetan.

 

Rasanya sedih sekali  harus kehilangan tas beserta seluruh isinya, 1 HP, 1 Blackberry, dompet beserta KTP, SIM A,  ATM, credit card dan semua uang tunai. Saya tidak menyangka akan mengalami kejadian menyedihkan ini di awal tahun. Padahal hari itu adalah hari  ulang tahun saya.  Duh!

 

Tadi pagi saya berangkat ke kantor menggunakan kereta api, lalu  saya sambung dengan bajaj. Sebenarnya saya tidak biasa menggunakan moda transportasi bajaj tetapi karena sudah kesiangan maka saya menyetop bajaj yang lewat. Namun belum lama saya duduk, tiba-tiba seseorang dengan kasar dan cepat merampas tas yang saya pangku. Saya benar-benar kaget sampai saya tidak sempat bereaksi apa-apa untuk menyelamatkan tas saya.

 

Yang saya ingat penjambret yang berjumlah dua orang itu mengendarai motor lengkap dengan helm, jaket dan masker penutup mulut. Saya langsung menyuruh tukang bajaj mengejar penjambret yang kabur itu, meskipun tidak berhasil karena (saya heran) laju bajaj malah tambah pelan. Akhirnya karena takut kehilangan jejak, saya turun dan menyewa tukang ojek di sekitar situ untuk segera mengejar sepeda motor jenis RX-King yang melaju kencang.

 

Namun sayang, usaha saya sia-sia karena penjahat itu tidak nampak lagi batang hidungnya. Huh, sebal sekali saya! Akhirnya dengan kebaikan tukang ojek yang mungkin kasihan melihat saya, saya diantar ke kantor tanpa membayar sepeserpun. Lha, wong, uang saya ludes tak bersisa digondol penjambret itu.

 

Masih bersyukur

Di kantor saya langsung sibuk menghubungi bank dan kantor polisi untuk memblokir kartu-kartu saya. Untungnya masalah ini cepat mendapat pelayanan yang memuaskan sehingga saya tidak kawatir lagi.Tetapi energi dan waktu saya sudah terkuras habis seharian dan tidak konsentrasi lagi bekerja.Untuk sesaat perasaan saya tidak mampu menerima peristiwa ini, sedih dan sesal membludak menjadi satu.

 

Kenapa tadi bangun kesiangan? Kenapa harus naik bajaj? Kenapa tukang bajajnya tidak kooperatif? Dan kenapa..kenapa yang lain….yang justru membuat saya tambah stress. Tetapi benak saya masih bisa mengajak saya untuk bersyukur. Untung saya tidak dilukai, untung petugas bank dan polisi segera membantu, untung saya di tolong tukang ojek…

 

Intinya, untung saya selamat!

 

Maka saya tak bisa membantah ucapan teman saya yang mengatakan bahwa kejahatan itu ternyata dekat sekali dengan diri kita. Kejahatan, kriminalitas, kekerasan zaman sekarang ada dimana-mana di sekitar kita. Wajar kalau banyak orang mengalami rasa cemas, rasa tidak aman,takut dan was-was sepanjang hari.

 

Masih segar dalam ingatan bagaimana bulan Juli tahun 2012, seorang pemuda Amerika bernama James E. Holmes (24) menembaki puluhan penonton secara brutal di bioskop Colorado. Padahal Holmes adalah seorang mahasiswa Kedokteran dan tercatat sebagai mahasiswa cemerlang di universitasnya. Kisah tragis lain yang menggemparkan dunia adalah kisah mahasiswi India, Tchuna (23) yang diperkosa dan dibunuh secara biadab oleh enam orang laki-laki di atas bus yang melaju di India, Desember lalu.

 

Perampokan, pelecehen, pembunuhan, perkosaan, penipuan, penggelapan, perkelahian, narkoba, bunuh diri, korupsi, seks bebas  dan lain-lain telah menjadi hal yang biasa di masyarakat kita. Belum lagi ratusan bahkan ribuan kejahatan yang terjadi setiap detik di dunia, telah membuat hati kita bertanya-tanya mengapa manusia tega melakukan kejahatan terhadap sesamanya?

 

Lima hal pokok

Menurut Fidelis E Waruwu, dosen psikologi dan staf  pengajar Integritas Kepribadian  dalam pelatihan Living Value Educational Program di kampus saya, penyebab semua  itu ada lima hal pokok. Adanya  peningkatan konsumerisme dan kekerasan di media hiburan, kesibukan orangtua modern yang tidak mempunyai waktu untuk keluarga, terjadinya perubahan besar dalam nilai budaya dan spiritual, kecenderungan masyarakat melegitimasi ekspresi agresivitas dan kekerasan, dan timbulnyaperasaan terluka, kesepian,keterasingan dan kemarahan pada sebagian besar anak-anak, remaja dan orang dewasa masa kini.

 

Sepertinya memang manusia saat ini sudah tidak mengenal arti kata cinta lagi. Saya teringat film King Kong (2005) yang mengisahkan bagaimana hati manusia itu lebih kejam daripada hati seekor gorilla, yang sebenarnya ingin bersahabat dengan Ann Darrow (diperankan dengan sangat baik oleh Naomi Watts).

 

Kong yang tidak tahu menahu dunia manusia akhirnya diculik paksa ke kota New York dan di sana terjadilah drama menyedihkan saat Kong mati dihujani tembakan oleh para pemburunya. Tragis memang!

 

Manusia yang pada awalnya  diciptakan Sang Pencipta dengan tujuan untuk saling membantu dan mengasihi sesamanya justru sekarang menjadi manusia yang tidak lagi menaruh penghargaan pada hidup. Padahal terdapat nilai-nilai universal yang saat ini layak dihayati di sepanjang kehidupan manusia yakni nilai kedamaian, kesatuan, kesederhanaan, tanggungjawab, kerjasama, toleransi, kerendahan hati, kejujuran, kebahagiaan, kebebasan, cinta, dan penghargaan, seperti kata Dianne Tillman, seorang psikolog dan terapis keluarga dalam bukunya yang terkenal,  Living Value Education (2004).

 

Nilai-nilai universal yang digodok menjadi sebuah buku fenomenal ini berawal di tahun 1995. Saat itu ulang tahun PBB ke 50 dimana Institut Brahma Kumaris memulai proyek internasional yang diberi namaSharing Our Values for A Better World. Kemudian di tahun 1997 terbentuklah Program Living Value Education yang terus di kembangkan menjadi sebuah program luar biasa yang digunakan untuk membantu generasi abad ini memerangi kejahatan dan mengembangkan sisi perdamaian.

 

Diane Tillman adalah salah satu ahli yang bergerak mensosialisasikan program ini  ke seluruh dunia melalui tulisan-tulisannya. Di Indonesia, salah satu pakar Living Value Education Program ya, dosen saya itu, Drs. Fidelis Waruwu, MSc. Ed.( http://www.fidelis.waruwu.org/). Intinya program ini mengajak manusia kembali merenungkan dan mempraktekkan kembali nilai-nilai kebaikan seperti kedamaian, kesatuan, kesederhanaan, tanggungjawab, kerjasama, toleransi, kerendahan hati, kejujuran, kebahagiaan, kebebasan, cinta, dan penghargaan agar tercipta harmoni di dunia.

 

Saya merasa beruntung pernah mengikuti pelatihan ini karena setelah mengikuti pelatihan ini selama dua hari, saya sungguh merasakan bahwa kekuatan baik itu jauh lebih berdaya daripada kekuatan jahat. Otak yang jahat  sungguh bisa berubah karena sentuhan kasih.

 

Saya jadi berandai-andai kalau saja semua orang menyadari betapa dahsyatnya kekuatan nilai-nilai positif itu, mungkin akan ada  banyak orang bertobat, banyak hati menangis karena sesal, ada banyak kekerasan luruh sebelum berhasil mencapai tujuan jahatnya dan mungkin…mungkin, lho…akan ada banyak pencopet mau mengembalikan jarahannya karena iba.

 

Dan tentu saja saya yang paling berharap hal itu bisa terjadi, ya minimal  si penjambret tadi bisa membaca tulisan saya ini…

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Artikel terkait: 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.