Percik Firman: Siap Sedia dan Setia

Posted on


Selasa, 24 Oktober 2017
Bacaan : Lukas 12:35-38


“Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya” (Luk 12:36)


Saudari/a ku ytk.,


HAMPIR setiap hari hidup kita tak jarang diwarnai kegiatan menunggu. Demikian pula di Roma sini saya sering akrab dengan kegiatan menunggu. Apa yang ditunggu? Menunggu kereta (treno) di stasiun, menunggu bus di fermata (halte), menunggu teman, dsb. Lebih baik menunggu daripada ditinggal kereta atau bus. Untungnya sudah ada jadwal yang pasti kapan kereta datang, kapan bus datang. Dengan adanya internet, saya dipermudah untuk mendapatkan informasi.


Tak jarang orang menganggap bahwa menunggu atau menanti adalah salah satu pekerjaan yang membosankan. Apalagi yang ditunggu tidak jelas kapan datangnya. Satu jam serasa satu hari, sehari serasa seminggu, dst. Namun demikian kita tetap disuruh harus menunggu/menanti. Bagaimana sikap kita dalam menunggu itu seharusnya?


Dalam injil hari ini Tuhan Yesus memberikan ajaran bagaimana sikap orang beriman dalam menunggu. Diungkapkan, “Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.” Di sini kita dituntut harus berjaga-jaga. Yang dimaksudkan berjaga-jaga di sini adalah sikap aktif, siap siaga, dan setia supaya tidak kecolongan.


Setia merupakan kata yang sering kita dengar, mudah diucapkan dan membutuhkan perjuangan untuk menghayatinya. Secara sederhana setia berarti mau dan siap melakukan apa yang telah menjadi tanggung jawab yang telah diterima atau melakukan apa yang sudah diikrarkan dengan komitmen. Maka, makna setia di sini adalah menunjukkan sikap konsisten. Keberhasilan dan kebahagiaan kita dalam mencapai sesuatu tampak dari seberapa besar kekonsistenan dan ketekunan kita.


Yesus ingin kita bersikap setia dalam hidup sehari-hari. Dikatakan tadi, “Setia memakai ikat pinggang dan menyalakan pelita.” Ikat pinggang adalah sarana bagi kita agar pakaian kita dapat kokoh melekat di tubuh. Sedangkan pelita adalah sarana penuntun agar kita dapat melewati kegelapan jalan. Bersikap setia itu memang mulia dan dibutuhkan suatu perjuangan agar mampu bertahan dalam menjalaninya. Setia pada siapa atau apa? Setia beriman pada Tuhan, setia pada janji baptis, setia pada janji nikah, setia pada janji imamat, setia pada kaul, setia pada tugas perutusan dari pimpinan, dsb.


Pertanyaan refleksinya: Bagaimana situasi batin Anda akhir-akhir ini? Apakah Anda sedang bergulat dalam kesetiaan perkawinan? Apakah Anda sedang bergulat dalam kesetiaan panggilan? Apa yang Anda lakukan agar bisa tetap setia pada komitmen dan janji suci itu? Selamat merenungkan.


Jalan becek harus berhati-hati
Semalam hujan lebat sekali
Mari saling menyemangati
Agar setia dalam janji suci.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.