Percik Firman: Si Kecil yang Diutamakan – Selasa, 15 Agustus 2017


Bacaan : Matius 18:1-5.10.12-14


“Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” (Mat 18:4)


Saudari/a ku ytk.,


SAAT perarakan Sakramen Mahakudus dalam Misa Kamis Putih, ada seorang bapak yang bingung mencari anaknya yang masih kecil. Beberapa saat dia mencari anaknya di sekitar gereja. Ia tidak menemukannya. Ia begitu kaget begitu melihat anaknya. Ternyata anaknya mengikuti perarakan Sakramen Mahakudus. Ia di belakang saya. Waktu itu saya membawa Sakramen Mahakudus. Ia begitu asyik dan menikmatinya. Ia memegang-megang kasula saya. Mungkin dia kagum dan tertarik. Ia terlihat begitu lugu dan polosnya. Saya pun tidak merasa terganggu. Dan saya dengar dari bapaknya, anak kecil itu memang sudah bercita-cita ingin menjadi imam.


Ya, anak kecil biasanya dikenal polos, lugu, dan mudah kagum. Ketika habis berkelahi dengan temannya, mereka pun bisa segera berdamai dan bisa bermain bersama kembali dalam hitungan menit. Anak kecil memang tidak menyimpan dendam. Begitu mudahnya mereka untuk tertawa lepas hanya karena hal-hal yang sepele bagi kita. Ketiadaan beban dalam pikiran, kebebasan yang di miliki mereka, itulah kelebihan dari anak kecil, sehingga hati mereka benar-benar lepas dan tenang. Mereka juga tidak terbebani oleh berbagai kekhawatiran, karena mereka percaya benar kepada orang tuanya, bahwa segala sesuatu yang diminta pasti akan dicukupi.


Dalam Injil hari ini kita sebagai pengikut Kristus diingatkan supaya bisa masuk Kerajaan Sorga kita hendaknya menjadi seperti anak kecil, bukan berperilaku seperti anak kecil lho….hehehe… Yesus bersabda, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Kita diminta untuk melepaskan berbagai macam kekhawatiran, ketakutan, kecemasan dan kelekatan duniawi. Dari apa? Dari pikiran kita, rasa cemas, rasa khawatir, rasa takut, rasa benci, amarah, dendam, dsb. Semua itu hanya akan menjadikan hati kita menjadi kotor dan berbeban berat.


Tuhan Yesus mengajak kita untuk belajar dari anak kecil dan menjadi seperti anak kecil agar bisa masuk Kerajaan Sorga. Anak kecil tidak memiliki kemampuan dan sama sekali tergantung dari orangtuanya. Di sanalah terlukis kerendahan hati. Bukan kekuasaan melainkan ketergantungan karena ketidakmampuan dan kelemahan. Bukan ambisi, tapi rendah hati.


Yang berhak masuk Kerajaan Sorga adalah orang yang rendah hati, bukan orang yang congkak dan tinggi hati. Juga bukan orang yang penuh ambisi, apalagi membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Dalam situasi ini, dibutuhkan sikap tobat. Untuk bisa bersikap rendah hati, kita harus bertobat. Sikap tobat memerlukan kerendahan hati. Pertobatan dan kerendahan hati ibarat dua sisi sekeping mata uang yang saling menentukan.


Sikap rendah hati dan sikap tobat mendatangkan sukacita sorgawi. Kerendahan hati dan pertobatan membuat kita pantas masuk Kerajaan Sorga. Satu orang saja bersikap rendah hati dan bertobat, sukacita Kerajaan Sorga bergema.


Pertanyaan refleksinya: Apakah hari-hari ini ada kekhawatiran dan ketakutan yang mewarnai hidup Anda? Maukah Anda bersikap rendah hati datang kepada Tuhan dan berserah diri kepada-Nya? Selamat merenungkan.


Di Sulawesi ada kota Palu
Di Sumatera ada kota Bengkulu
Mari belajar dari anak kecil tiada malu
Bersikap tulus dan rendah hati selalu.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: