Percik Firman: Orientasi Hidup

Minggu, 26 November 2017
Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam
Bacaan : Matius 25:31-46

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40)

Saudari/a ku ytk.,

KETIKA merenungkan sabda Tuhan pada HR Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam ini, saya teringat akan sebuah pertanyaan: Apa bedanya Raja Kristus dengan Raja Perampok? Untuk bisa menjawabnya, saya ingin membagikan sebuah kisah yang saya sukai ini.

Di suatu tempat, ada seorang perampok yang mempunyai isteri sedang hamil. Ketika sudah dirasakan waktu melahirkan tiba, sang isteri meminta suaminya untuk menemaninya dalam proses kelahiran anak mereka di rumah sakit. Proses kelahiran berlangsung lancar. Anaknya TURAS, metu waras. Sang perampok begitu senang karena bayinya sehat dan ganteng.

Singkat cerita, sang ibu dan bayinya sudah dinyatakan boleh pulang ke rumah. Betapa senangnya sang perampok dan isterinya itu. Maka, segera saja sang Perampok itu segera mengambil bayinya sendiri. Rupanya ia keliru mengambil bayi. Yang diambil bukan bayinya, tetapi bayi orang lain. Isterinya tahu kalau yang dibawa bukan bayinya, tetapi suaminya tidak menggubrisnya.

”Mas, itu bukan bayi kita. Bayi kita lebih besar dan jenis kelaminnya cowok. Itu bayi cewek, mas”, kata isterinya ketika meninggalkan rumah sakit.  

Jawab suaminya, ”Husss, diam kamu, dhik. Tidak masalah ini bayi kita atau bukan. Yang penting di tangannya ada gelang emas yang sangat mahal harganya.”

Begitu kisahnya.

Seorang raja itu harus mempunyai orientasi hidup. Raja Perampok itu mempunyai orientasi hidup. Orientasi hidupnya bagaimana bisa mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya dengan menghalalkan segala cara. Ia tidak mempedulikan atau tidak menggubris apakah tindakannya itu benar atau salah, baik atau tidak. Yang penting dia untung dan mendapatkan sesuatu yang berharga. Sampai, mata hatinya tumpul akan sosok seorang bayi yang merupakan buah hatinya sendiri. Barang rampasan/rampokan/curian jauh lebih berharga/diutamakan daripada anaknya sendiri.

Yesus Kristus Raja Semesta Alam juga mempunyai orientasi hidup. Orientasi hidup-Nya bagaimana membuat sebanyak mungkin orang mengalami dan menikmati keselamatan. Bahkan ia rela berkurban dan mengurbankan diriNya bagi keselamatan orang lain. Ia sadar betul bahwa tindakannya itu baik dan berkenan pada kehendak Allah Bapa. Bahkan, sampai Ia rela menderita, dicemooh, diolok-olok, dan wafat disalib.

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam yang kita rayakan hari ini dapat dikatakan sebagai kesimpulan peziarahan kita membangun gambaran mengenai Allah. Allah diimani sebagai Sang Raja yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Siapakah Allah? Gambaran Allah itu kita temukan dalam bacaan-bacaan minggu ini: Allah yang menggembalakan danmenyertai perjalanan umat-Nya, Allah yang mengalahkan kematian demi keselamatan umat-Nya,Allah yang menjumpai umat-Nya lewat sesama yang menderita (lapar, sakit, dipenjara, tidak punya pakaian, gelandangan, orang asing, dsb). Singkatnya, Allah itu Allah yang Mahakasih dan yang mencintai kita umat-Nya.

Allah datang pada kita lewat kehadiran sesama yang membutuhkan uluran tangan kita.Pada saatnya nanti Allah akan memisahkan orang baik dari orang jahat pada akhir zaman. Pertanyaannya: apa yang menjadi dasar/ukuran memisahkan orang baik dari orang jahat? Ukuran yang dipakai untuk mengadili umat (segala bangsa) adalah bagaimana mereka bersikap terhadap sesamanya yang membutuhkan pertolongan dan perhatian. Mereka yang membutuhkan pertolongan adalah mereka yang kelaparan, kehausan, orang asing, tak berpakaian, sakit, dan dalam penjara. Mereka yang memberi perhatian kepada kaum KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir, difabel) disebut sebagai orang-orang benar.

Hari Raya ini ditetapkan pertama kali oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Ajaran Paus dikeluarkan untuk menanggapi munculnya gejala materialisme, atheisme, sekularisme. Intinya, Sri Paus mengajak seluruh umat Kristiani untuk menempatkan Kristus di dalam hidup masing-masing sebagai Raja Semesta Alam. Arus sekularisme cenderung menganggap Allah tidak ada. Kristus sebagai Raja Semesta Alam, berarti pula merajai manusia sebagai individu, keluarga, komunitas, pemerintah dan bangsa-bangsa. Ensiklik ini dikeluarkan ketika penghormatan terhadap Ekaristi, terhadap Kristus dan Gereja sedang lemah. Dengan ditetapkan sebagai Hari Raya, berarti pemuliaan Kristus Raja Semesta Alam senantiasa relevan dan untuk itu dikehendaki agar dilaksanakan secara tetap sepanjang masa.

Kita punya teladan abad ini yang menghayati betul nasihat Yesus ini, yaitu Bunda Teresa dari Kalkuta. Semangat dan spiritualitas hidup dan pelayanan Ibu Teresa adalah melayani mereka-mereka yang lemah, kecil, sakit, gelandangan, miskin, dan yang terpinggirkan dari masyarakat. Melayani mereka sama dengan melayani Yesus sendiri. Ibu Teresa dan anggota-anggota Tarekatnya beserta Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) meyakini betul sabda Tuhan ini,”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25: 40).

Ibu Teresa memberikan kesaksian bahwa untuk menjalani kehidupan dan pelayanan yang berat di tengah orang-orang yang paling miskin dari yang miskin itu, hidup Ibu Teresa dan teman-temannya ditopang dan didasari oleh perayaan Ekaristi dan Doa. Ibu Teresa mengatakan, ”Tanpa Dia, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Dan justru altar itulah tempat kami berjumpa dengan orang miskin yang menderita. Dalam diri-Nya kami melihat bahwa penderitaan merupakan sebuah jalan untuk memperoleh cinta yang lebih besar dan keberanian yang lebih kuat”.

Bagi Ibu Teresa, dunia kita pada zaman modern ini dilanda arus besar betapa mahalnya cinta, betapa langkanya cinta. Betapa banyak orang yang menderita, mengalami kesepian, rasa miskin dan merasa tak berharga, tak berarti, karena orang tidak mengalami rasa dicintai dan mencintai. Inilah kemiskinan yang paling parah dibandingkan kemiskinan material. Karena apa? karena pada dasarnya semua orang itu merindukan dan mempunyai kebutuhan dasar, yaitu KASIH, CINTA. Tak sedikit orang yang kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, sehingga hidupnya terasa hampa, kosong, tidak berarti.

Ibu Teresa tidak pernah mengklaim dirinya sebagai orang hebat atau orang yang melakukan sesuatu secara luar biasa. Dengan rendah hati, dia mengungkapkan: ”Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, tetapi untuk setia. Kita hanyalah sebuah pensil kecil di tangannya”. Ukuran kemendalaman hidup dan diri seseorang bukanlah kesuksesan, melainkan kesediaan diri untuk berani dan setia menapaki jalan-jalan kecil/sederhana, yang tak lain jalan salib.

Pertanyaan refleksinya: Bagaimana situasi batin Anda hari-hari ini? Apa yang menjadi orientasi hidup Anda? Maukah Anda menjadikan Ekaristi sebagai dasar dan kekuatan dalam peduli pada sesama yang membutuhkan? Selamat merenungkan dan menyongsong masa Adven.

Banyak orang ingin ziarah ke Roma
Sampai rela antri masuk ke Basilika
Mari terus asah peduli pada sesama
Ekaristi sebagai dasar dan kekuatannya.

Berkah Dalem dan salam teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.