Percik Firman : Menjadi Rekan Kerja Tuhan atau Merencanakan Kejahatan?


Minggu Palma, 25 Maret 2018
Bacaan: Markus 14:1-15:47


“Mereka berkata: ‘Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat” (Markus 14:2)


Saudari/a ku ytk.,


PADA waktu itu saya mengenal seorang mahasiswa namanya Dion Palma. Orangnya sangat baik, murah hati, dan pintar. Saya menduga dia lahirnya Minggu Palma karena ada kata ‘Palma’ pada namanya. Tetapi dugaan saya salah. Ternyata orangtuanya memberi nama “Palma” bukan karena dia lahir Minggu Palma. Anda tahu karena apa? Palma adalah singkatan dari dua kota asal kedua orangtuanya, yaitu Palembang Magelang. Kreatif yaaa…hehehe… Tetapi ada juga yang namanya “Palma” karena memang dia lahir pas Minggu Palma…


Hari ini seluruh umat Katolik di berbagai tempat, baik yang tinggal di desa atau kota, di pegunungan atau lembah, di pedalaman atau perumahan, di negara musim semi atau musim hujan, merayakan Minggu Palma. Hari Raya ini membuka rangkaian pekan suci. Kita semua diajak untuk melahirkan cinta bakti dan hormat kepada Kristus. Banyak orang mengelu-elukan Yesus memasuki kota Yerusalem.


Mengapa Yesus memasuki Yerusalem? Bagaimana Yesus memasuki Yerusalem? Orang banyak mengelu-elukan Yesus sebagai Raja. Dia tidak menyangkal hal itu. Dia tidak menyuruh mereka diam. Tetapi raja seperti apakah Yesus? Mari kita resapkan: Dia menunggang seekor keledai; Dia tidak disertai oleh kalangan istana yang mengikuti-Nya; Dia tidak dikelilingi oleh balatentara sebagai simbol kekuasaan. Tetapi Dia diterima oleh orang-orang yang rendah hati, rakyat sederhana. Yesus tidak memasuki Kota Suci Yerusalem untuk menerima penghargaan. Dia masuk untuk dicambuk, dihina dan dilecehkan, seperti nubuat Nabi Yesaya. Dia masuk untuk menerima mahkota duri, balok titian, jubah ungu, dan kerajaan-Nya menjadi obyek cemoohan.


Dia masuk untuk mendaki Kalvari, membawa beban kayu salib-Nya. Yesus masuk ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Dan di sinilah martabat rajawi-Nya bercahaya dalam cara yang saleh, yakni tahta kerajaan-Nya adalah kayu Salib! Maka benarlah kata Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus, “There is no better wood for feeding the fire of God’s love than the wood of the cross.” (Tak ada kayu yang lebih baik untuk mengobarkan api cinta Tuhan selain kayu salib). Mengapa kayu salib? Yesus memperlakukan atas diri-Nya sendiri kejahatan, kenajisan, dosa dunia, termasuk dosa milik kita, dan Ia membersihkannya, Ia membersihkannya dengan darah-Nya, dengan rahmat dan kasih Allah.


Yesus menunggang keledai. Dalam budaya Yahudi, keledai bukanlah binatang yang dianggap hina dan bodoh, tetapi sebaliknya merupakan binatang tunggangan yang terhormat. Dalam situasi damai dan untuk maksud yang luhur seorang raja tidak mengendarai kuda, tetapi seekor keledai. Keledai menjadi simbol perdamaian. Yesus memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai karena kedatangan-Nya bukan untuk berperangmelainkan mewartakan damai. Bukan dengan penampilan yang garang dan bawa parang, tetapi dengan lembut hati dan rendah hati. Meski lamban dan tak segagah kuda, keledai dibutuhkan Yesus, “Tuhan memerlukannya!”


Pada zaman now Yesus juga membutuhkan keterlibatan “keledai” untuk menggenapi misi-Nya, yakni: menjadi pendamai antara Allah dan manusia, menjadi rekan kerja Yesus menjadi Penyelamat Dunia. Bahkan, sang pemilik keledaiwaktu itu pun tak kuasa untuk menolak permintaan Yesus. Lagi pula siapa yang bisa menolak jika Tuhan memerlukannya?


Tuhan pun memerlukan kita untuk melaksanakan tugas yang mulia itu, yakni menjadi  rekan kerja-Nya untuk membawa damai. Siapapun kita diperlukan Tuhan, entah sebagai orangtua, anak, pelajar/mahasiswa, karyawan, sebagai imam, suster, bruder, dsb. Seperti keledai, kita diajak untuk melaksanakan tugas mulia itu meskipun pelan tetapi konsisten. Semua tugas mesti dijalankan sampai akhir dengan tuntas, tidak gampang mengeluh, patah semangat, mutung dan putus asa.


Jangan sampai kita malah seperti imam kepala dan para ahli Taurat yang malah bersekongkol dan bekerja sama untuk merencanakan kejahatan. Mereka mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat denganberkata: “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.”


Pertanyaan refleksinya, Bersediakah Anda menjadi rekan kerja Allah zaman ini untuk menciptakan damai di dalam keluarga, di komunitas, di paroki, di tempat kerja, di tengah masyarakat kita? Pada awal Pekan Suci ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk secara khusus berdoa “Doa Jadikanlah Aku Pembawa Damai” (PS 221).


Malu bertanya sesat di jalan
Begitu bunyi sebuah ungkapan
Mari menjadi rekan kerja Tuhan
Membawa damai dalam kehidupan.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma; suka menulis dan mencintai Kerahiman Ilahi.

Sumber: Sesawi

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.