Percik Firman: Mau menjadi Orang Kudus? Kamis, 3 Agustus 2017

Bacaan : Mat 13: 47-53

“Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang” (Mat 13:48)

Saudari/a ku ytk.,

BEBERAPA waktu yang lalu, saya mendapat kiriman video pendek dari seorang teman mengenai pesan Paus Fransiskus. Lalu video itu saya kirimkan ke relasi saya melalui media sosial, baik Facebook, Instagram, maupun WhatsApp. Mungkin Anda juga menerima dan sudah melihat video tersebut. Masih ingat pesan Bapa Suci? Bapa Suci berpesan, “Jadilah orang kudus dalam hidup sehari-hari.” Dalam video itu, Bapa Suci menegaskan bagaimana kita bisa menjadi orang kudus. Pada waktu itu Paus Fransiskus ditanya seseorang, “Bapa, dalam keseharian dapatkah saya menjadi orang kudus?”

“Ya, Anda bisa,” jawab Paus. Untuk menjadi orang kudus, kita tidak harus berdoa sepanjang hari. Lantas bagaimana caranya? “Lakukan tugasmu sepanjang hari. Berdoa, bekerja, menjaga anak-anak. Tetapi semuanya harus dilakukan dengan hati mengarah kepada Tuhan, sehingga pekerjaan, bahkan sakit dan penderitaan, juga dalam kesulitan,terarah kepada Tuhan,” tegas Paus yang bijaksana ini.

Terarah kepada Tuhan atau mengarah kepada Tuhan. Itu pointnya. Apa pun yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, apa pun pekerjaan kita marilah diarahkan kepada Tuhan. Artinya, hidup di dunia ini tidak kekal, rumah di dunia ini tidak selama-lamanya akan kita tempati. Akan ada kehidupan kekal setelah di dunia ini. Tuhan akan menyeleksi siapa yang layak masuk ke kerajaan surga dan siapa yang tidak. Inilah pesan dari perumpamaan tentang pukat dalam bacaan injil hari ini.

Yesus memberikan perumpamaan terakhir (ketujuh) tentang Kerajaan Surga seperti pukat yang dilabuhkan ke laut, yang mengumpulkan semua jenis ikan, yang baik maupun yang tidak baik. Perumpamaan terakhir ini menyuarakan tema penghakiman terakhir kepada semua orang. Pukat adalah jaring (jala) besar dan panjang untuk menangkap ikan. Pukat yang dipakai adalah jaring panjang sekitar 400m (1/4 miles) dengan ketinggian sekitar 3 meter. Pukat ini biasanya ditarik oleh dua perahu, dengan masing-masing perahu memegang kedua ujung pukat. Karena ada pemberat, maka pukat ini dapat tenggelam mencapai dasar. Karena ditarik oleh perahu yang berbeda, maka pukat ini dapat mengambil semuanya dalam jangkauannya dan kemudian para nelayan menarik kedua ujung pukat ke daratan. Setelah itu, kaum nelayan di daratan, menarik pukat itu bersama-sama. Pukat akan dipenuhi dengan berbagai macam jenis ikan, yang baik dan yang tidak baik.

Ini merupakan pararel dari perumpamaan tentang lalang dan gandum. Kalau Yesus menjelaskan bahwa ladang adalah dunia, maka dalam perumpamaan tentang pukat, lautan adalah dunia dan pukat adalah Gereja. Sama seperti pukat harus ditebarkan ke tempat yang dalam, maka Gereja harus juga mewartakan Kristus ke tempat yang dalam atau Duc in Altum. Dan setelah penuh, maka pukat tersebut diseret ke pantai dan orang-orang kemudian memilih ikan yang baik dan membuang ikan yang tidak baik. Ini menggambarkan tentang akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan manusia yang baik dari manusia yang tidak baik (jahat). Dan orang yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di dalam neraka.

Pertanyaan refleksinya: Apakah selama ini Anda sudah menghayati menjadi pengikut Kristus yang baik dalam hidup sehari-hari? Jika sudah, syukurlah. Jika belum, masih ada waktu. Mari kita mengusahakannya sebagaimana pesan Paus Fransiskus tadi. Untuk menjadi kudus/suci, kita bisa mengusahakannya dengan melakukan pekerjaan kita dengan mengarahkan hati kepada Tuhan. “Lakukan tugasmu sepanjang hari. Berdoa, bekerja, menjaga anak-anak. Tetapi semuanya harus dilakukan dengan hati mengarah kepada Tuhan, sehingga pekerjaan, bahkan sakit dan penderitaan, juga dalam kesulitan,terarah kepada Tuhan”. Selamat berjuang dan mari kita saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain.

Bersama teman-teman menonton sulapan
Sulapannya asyik memberikan hiburan
Menjadi orang kudus adalah impian dan harapan
Mari kita upayakan  terus dalam hidup harian.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: