Percik Firman: Litani Syukur atau Litani Keluhan? – Rabu, 23 Agustus 2017


Bacaan : Matius 20:1-16a


“Ketika mereka menerima upah sedinar, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: ‘Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari” (Mat 20:11-12)


Saudari/a ku ytk.,


DALAM sebuah retret motivasi diri, pembimbing mengajak peserta retret untuk melakukan sebuah permainan yang dilakukan oleh dua orang. Ada dua kali permainan. Pertama, si A diminta merentangkan tangan kanannya ke samping, sehingga sejajar dengan bahunya. Lalu, mata dipejamkan dan mengingat suatu peristiwa yang membuat dia merasa bahagia dan bersyukur. Jika sudah bisa membayangkan kembali peristiwa itu, dia mengangguk untuk memberi kode kepada si B. Lalu si B harus berusaha menekan tangan kanan si A ke bawah, sedangkan si A harus berusaha sekuat tenaga mempertahankan posisi tangannya agar tidak turun. Kedua, si A diminta membayangkan peristiwa yang membuat dia mengeluh atau tidak bahagia. Langkahnya sama dengan cara yang pertama.


Perbedaan apa yang dirasakan pada permainan yang pertama dan yang kedua? Kita bisa menebak dan membayangkan. Pada permainan pertama si A merasa lebih kuat dan lebih dapat mempertahankan posisi tangannya lebih lama daripada permainan kedua. Bagi si B tentu lebih mudah untuk menggoyahkan / menurunkan posisi tangan kanan si A pada permainan kedua daripada pada permainan pertama. Iya nggak?


Permainan itu mau menunjukkan bahwa keadaan batin kita akan mempengaruhi keadaan fisik kita. Jika kita mengarahkan perhatian kita ke hal-hal negatif, batin kita akan murung atau kelabu, dan fisik kita pun akan lemas dan tak berdaya. Orang akan lebih kuat dan lama bertahan ketika ia sering memanjatkan litani syukur daripada litani keluhan. Sayangnya, orang sering menggerutu dalam hati: mengapa hidup saya lebih susah dari orang lain, padahal saya rajin ke Gereja dan berdoa? Kenapa sebagai orang Katolik, kehidupanku tambah susah dan dipersulit dalam naik jabatan?


Bacaan injil hari ini menampilkan sikap orang-orang upahan di kebun anggur yang mengeluh dengan upah yang diterima, sekaligus menampilkan pribadi sang pemilik kebun anggur yang murah hati. Mereka yang bekerja sejak pagi mengeluh dan merasa iri dengan orang yang berkerja hanya mulai sore hari. Upahnya sama, sedinar sehari. Tadi diceritakan dalam injil: “Ketika mereka menerima upah sedinar, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: ‘Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.”


Ada dua hal yang menarik dari perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur ini. Pertama, sikap manusia. Pekerja itu melambangkan manusia. Manusia memiliki sifat iri kepada Allah dan sesama. Manusia iri karena Allah mencintai semua manusia dan ingin menyelamatkannya. Selain iri kepada Allah, manusia juga iri kepada sesama. Kita terkadang tidak suka dengan orang berdosa yang tiba-tiba bertobat dan menjadi lebih baik dari diri kita. Umat Kristiani yang sejak kecil sudah menjadi pengikut Yesus, kadang sulit untuk menerima orang baptisan baru, yang iman dan pengetahuanya jauh lebih maju. Bahkan dia lebih dipercaya menjadi pengurus lingkungan/paroki. Selain sifat iri, manusia juga menuduh Allah bersikap tidak adil.


Kedua, sikap Allah. Sikap Allah bertolak belakang dengan sifat manusia. Manusia bersifat iri hati dan menuduh Allah sebagai pihak yang tidak adil. Padahal Allah bertindak dengan adil. Keadilan Allah ditunjukkan dengan adanya kesepakatan di awal (upah sedinar sehari). Ada ahli Kitab Suci yang mengatakan bahwa sesungguhnya upah yang dimaksudkan di sini adalah ganjaran atau hadiah dari Tuhan, yakni ketika kita masuk surga kelak. Yang terpenting adalah kita semua umat Allah, bisa masuk surga. Jangan kita pikirkan, mengapa orang yang tiba-tiba dibaptis lalu meninggal dan bisa masuk surga, diperlakukan sama dengan orang yang sudah sejak kecil menjadi orang Katolik?


Hal ini hanya bisa dipahami bila kita mengenal dan meyakini bahwa Allah adalah Bapa yang Murah hati. Murah hati berarti apa yang kita terima dari Allah bukan karena kebaikan (budi baik) kita, tetapi semata-mata karena kebaikan dan belas kasih Allah. Kita menerima anugerah keselamatan bukan karena jasa kita, melainkan karena kemurahan hati Allah.


Pertanyaan refleksinya: Manakah yang lebih banyak mewarnai hidup Anda: litani syukur atau litani keluhan? Apakah hari-hari ini Anda sedang dikuasai sikap iri hati kepada sesama? Apakah Anda percaya bahwa Allah itu murah hati dan adil? Selamat merenungkan.


Siang-siang pergi ke tukang cukur
Orangnya sungguh ramah tiada tara
Mari kita kembangan litani syukur
Dalam perkataan dan tindakan nyata.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: