Percik Firman: Kita Semua Saudara

Rabu, 4 Oktober 2017
Peringatan Wajib Santo Fransiskus Asisi
Bacaan : Lukas 9:57-62

“Yesus berkata: ‘Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Lukas 9:62)

Saudari/a ku ytk.,
HARI ini Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Fransiskus Asisi (1182-1226). Siapa yang tidak kenal dengan orang kudus yang luar biasa ini? Ia lahir di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah. Ia pun meninggal di Asisi pada umur 44 tahun. Dia dimakamkan di Asisi, di sebuah Basilika yang tenang. Saya bersyukur diberi kesempatan Tuhan dua kali berziarah ke Asisi. Tempatnya sangat sejuk dan membuat hati damai. Udaranya segar dengan suasana pegunungan.

Saat ia lahir, orangtuanya memberinya nama Giovanni Francesco Bernardone (Yohanes Fransiskus Bernardus). Ayahnya, Pietro Bernardone, adalah seorang pedagang kain yang kaya raya; sedangkan ibunya Yohana Dona Pica, seorang puteri bangsawan Picardia, Prancis.

Santo Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat sampai kini. Kebesarannya terletak pada dua hal, yaitu: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana dan cintanya yang merangkul seluruh ciptaan sebagai saudara-saudari. Ia dijuluki “Sahabat alam semesta” karena cintanya yang besar terhadap alam ciptaan Tuhan. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai ‘saudara/i’: saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll. Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang.

Dalam kondisi sakit, ia menyusun karyanya yang besar “Gita Sang Surya.” Salah satunya berisi kidung yang melukiskan tentang keindahan saling mengampuni. Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio dengan menghidupkan kembali tradisi Gua Natal Betlehem. Penghormatan kepada Kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya.

Pada umur 43 tahun ketika sedang berdoa di bukit La Verna, ia mendapat anugerah stigmata, luka-luka Yesus. Dia merasa sakit dan muncul luka-luka seperti luka-luka Yesus di kaki, tangan serta lambungnya. Ia merasakan penderitaan sebagaimana Yesus Kristus yang dia cintai dan dia ikuti.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bagaimana menjadi pengikut Yesus. Kita harus total, tidak setengah-setengah, dan siap menghadapi aneka risikonya. Bahkan harus siap terluka dan menderita, sebagaimana Santo Fransiskus Asisi. Maka dalam Injil Yesus menegaskan: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Pertanyaan Refleksinya: Apakah hari-hari ini Anda sedang mengalami konflik atau bermusuhan dengan seseorang? Jika iya, segeralah berdamai dan kembali merajut tali persaudaraan. Jika tidak, puji Tuhan. Mari kita terus menjadi saudara-saudari bagi siapa pun di atas muka bumi ini. Selamat merenungkan dan selamat berpesta bagi Anda yang bernaung dalam perlindungan Santo Fransiskus.

Hari Minggu pergi beribadah
Masuk gereja bersama keluarga
Dunia terasa menjadi indah
Jika kita semua bersaudara.

Berkah Dalem. Salam Teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: