Percik Firman: Kekayaan sebagai Sarana


Senin, 23 Oktober 2017
Bacaan : Lukas 12:13-21


“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk 12:15)


Saudari/a ku ytk.,


TAK jarang dijumpai bahwa hubungan kekeluargaan retak karena antar saudara saling berebut harta warisan orangtuanya. Yang satu merasa berhak memiliki sawah warisan orangtua yang lebih luas. Tetapi yang lain juga merasa lebih berhak. Bahkan ada adik tega membunuh kakaknya. Atau kakak membunuh adiknya. Saya pernah mendengar, sampai ada kakak yang menggunakan cara-cara yang tidak wajar (santet) agar ia mendapat harta warisan lebih banyak.


Harta seringkali menjadi penyebab retak atau pecahnya sebuah keluarga besar. Betapa ironis ketika sebuah warisan yang ditinggalkan orangtua seharusnya disyukuri dan menjadi perekat keluarga, tetapi malah menjadi sumber pertikaian yang tidak jarang sampai berujung maut. Di sana ada ketamakan seseorang atas harta kekayaan.


Bacaan injil hari ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus terhadap kekayaan. Tuhan Yesus menasihati, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta kekayaan. Harta kekayaan sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dan mencintai sesama/saudara. Orang harus bijak terhadap harta kekayaan. Jangan sampai orang diperbudak oleh harta kekayaan. Orang harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena ketamakan adalah salah satu dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang bisa menyebabkan dosa-dosa yang lain.


Kita mengenal ada 7 dosa pokok dalam ajaran Gereja Katolik. Ke-7 dosa pokok tersebut, yaitu: ketamakan, kesombongan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan (terkait makanan-minuman), dan kemalasan. Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9). Santo Paulus mengatakan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 Tim 6:10). Hal ini mau menegaskan betapa seriusnya dosa pokok ketamakan ini. Lawan dari dosa ketamakan adalah keutamaan kemurahan hati.


Kita seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa itu akan mampu membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakekatnya apapun yang kita punya bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya Sang Pemilik segala sesuatu di muka bumi ini. Kita bisa belajar dari sikap Ayub atas harta kekayaan. Ia mengatakan: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Inilah yang seringkali kita lupakan.


Sekaya apapun kita, apalah gunanya jika kita malah kehilangan kesempatan untuk memasuki kehidupan kekal bersama Bapa di Surga? Bisakah kita menyuap Tuhan dengan harta kekayaan kita di dunia ini, meski sebanyak apapun? Tidak. Justru kita akan kehilangan segala kesempatan untuk selamat jika kita terus menghamba kepada harta kekayaan. Harta yang ditimbun sendiri untuk kepentingan pribadi hanyalah akan sia-sia.


Menolong sesama, memakai harta kita untuk memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kepada orang lain, itulah yang sebenarnya harus kita lakukan. Itulah yang bisa membuat jiwa kita damai dan bahagia. Tetapi jika itu membuat kita berinvestasi demi masa depan yang kekal kelak, mengapa tidak dilakukan?


Pertanyaan refleksinya: Apakah Anda pernah dikuasai sikap tamak dalam hidup ini? Bagaimana sikap Anda terhadap harta kekayaan (uang, kendaraan, bakat/talenta) yang dimiliki? Selamat merenungkan.


Minum kopi di saat masih pagi
Terasa nikmat ditemani roti
Mari terus peduli dan berbagi
Jangan tamak dalam hidup ini.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.