Percik Firman: Kehadiran Tuhan – Rabu, 16 Agustus 2017


Bacaan : Matius 18:15-20


”Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20)


Saudari/a ku ytk.,


DI sebuah paroki ada sekelompok umat yang membentuk sebuah “geng”. Mereka kumpul bareng. Jika tidak sempat kumpul, mereka berkomunikasi lewat WhatsApp. Mereka sering bergosip mengenai romo parokinya. Beberapa kali mereka mengadukan romo parokinya ke keuskupan. Dan seringkali dengan gonta-ganti nomer HP dan gonta-ganti nama pengirim yang dipalsukan. Mereka mengirim SMS kepada pihak keuskupan dengan menjelekkan romo parokinya dan meminta romonya dipindah. Itu berlangsung berkali-kali. Dan ketika diklarifikasi pihak keuskupan, mereka berkelit dan tidak mau bertemu. Kalau dulu namanya surat kaleng. Kalau zaman sekarang, mungkin hal itu namanya SMS bodong.


Ada banyak alasan orang berkumpul. Berkumpul zaman sekarang tidak harus bertemu langsung. Dengan adanya media sosial WhatsApp Group atau Line Group, beberapa orang bisa berkumpul dan berkomunikasi. Mereka berkumpul dalam nama apa? Berkumpul untuk apa? Kalau isi pembicaraannya hanya menjelek-jelekkan,ngrasani, menggosip, bahkan sampai mencemarkan nama baik seseorang, tentu hal itu perlu dievaluasi. Apakah di situ Tuhan hadir?


Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita sebagai pengikut Kristus untuk berkumpul secara baik dan benar. Tadi ditegaskan Tuhan Yesus, ”Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Jika orang berkumpul hanya mengarah pada gosip, fitnah, menjelek-jelekkan orang lain atau kelompok lain, berusaha menjatuhkan pihak lain, dan mengarah pada perpecahan, tentu mereka berkumpul tidak dalam nama Tuhan.


Saya tertarik dengan nasihat berikut ini: “Apabila Anda membicarakan keburukan seseorang, jangan lupa memulai dan menutupnya dengan doa. Maka gosip itu akan berubah namanya menjadi sharing”. Apakah Anda setuju dengan nasihat yang terkesan “lucu” tersebut? Jangan-jangan tanpa disadari, kita pun sering menuruti nasihat itu. Semoga demikian.


Jika kita melihat saudara kita yang berbuat dosa atau salah, Tuhan Yesus meminta kita untuk pertama-tama menegurnya di bawah empat mata (pendekatan pribadi). Ini berarti kita diminta berbicara langsung dengan pihak yang kita anggap berbuat dosa atau salah itu. Dengan melakukannya kita bisa segera mendapat penjelasan maupun membantu pertobatan orang tersebut. Hal ini akan menjadi sebuah tindakan kasih, karena tujuannya untuk kebaikan saudara kita itu.


Tetapi jika menggosip berarti kita memilih untuk membicarakan keburukan orang itu kepada orang lain. Tujuannya agar orang menjadi bersikap negatif terhadap orang yang dibicarakan. Orang yang menjadi bahan pembicaraan tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan tindakannya, atau mendapat kesempatan untuk segera bertobat. Dalam hal ini secara tidak adil ia telah dihakimi, entah benar atau tidak perbuatannya. Perpecahan pun bisa terjadi. Bukan paguyuban atau persaudaraan yang terjadi.


Seringkali pelayanan dan kehidupan menggereja terhambat karena hal yang sederhana ini. Orang gagal mengasihi sesama saudara dalam satu Tubuh Kristus. Jika memang ada saudara kita yang telah berbuat dosa atau salah, dekati dia dan diajak bicara empat mata. Tegurlan dan doakanlah dia. Jangan malah menyebarkan berita atau info yang tidak benar, apalagi sampai diberi bumbu (digosok-gosok makin sipp katanya). Apabila kita diajak bergosip, tegurlah orang yang mengajak bergosip itu. Lebih baik Anda tidak usah menanggapi. Atau bilang saja “Maaf, saya tidak tahu. Coba tanya yang bersangkutan atau yang lebih tahu.” Jawaban itu kiranya lebih bijaksana. Dan kalau terjadi demikian, di situ Tuhan hadir.


Paus Fransiskus pernah menegaskan dalam salah satu homilinya di Kapel Santa Marta supaya orang Katolik tidak bergosip. Mengapa? Menurut Sri Paus, bergosip adalah godaan setan untuk merusak orang baik. Pada zaman modern sekarang ini godaan untuk bergosip semakin kuat.


“Bergunjing itu seperti terorisme karena orang yang bergosip seperti teroris yang melempar bom dan melarikan diri, kemudian merusak. Dengan lidahnya, mereka menghancurkan perdamaian. Bergosip adalah godaan setan untuk merusak orang baik. Kita semua adalah target serangan setan karena mereka tidak ingin kita lepas dari dosa. Maka, mari kita menahan diri mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang berujung pada gosip dengan menggigit lidah kita,” tegas Bapa Suci Fransiskus.


Pertanyaan refleksinya: Apakah selama ini Anda sering tergoda untuk menggosip saat berkumpul dengan teman-teman? Apa niat Anda untuk menciptakan kehidupan bersama menjadi lebih baik dan penuh persaudaraan? Selamat merenungkan.


Ada teman namanya pak Jati
Orangnya gagah perkasa dan kekar
Mari kita menjadi orang Katolik sejati
Dengan berbicara yang baik dan benar.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: