Percik Firman: Jangan Menghujat Roh Kudus


Sabtu, 21 Oktober 2017
Bacaan : Lukas 12:8-12


“Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni” (Luk 12:10)


Saudari/a ku ytk.,


DALAM Sakramen Tobat ada 3 unsur, yaitu: pengakuan dosa, penyesalan dosa, dan membangun niat. Dalam hal itu seseorang perlu mempunyai sikap rendah hati dan jujur di hadapan Tuhan. Semua dosa diampuni oleh Tuhan, kecuali dosa menghujat Roh Kudus.


Dalam injil hari Tuhan Yesus menegaskan, “Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Lalu apa dosa menghujat Roh Kudus itu? Tugas utama Roh Kudus adalah ‘menginsafkan’ manusia dari dosanya. Jika manusia tidak mau insaf, maka ia berdosa melawan Roh Kudus. Dosa menghujat Roh Kudus berarti tindakan manusia yang menolak kebenaran, kasih Allah, serta pengampunan dari Allah. Dengan demikian ia tidak mungkin diampuni, baik di kehidupan sekarang maupun yang akan datang.


Di dalam Katekismus Gereja Katolik no.1864 dikatakan secara panjang lebar, “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.”


Terkait dengan keterbukaan hati dan kerendahan hati manusia atas kasih Allah yang begitu dahsyat, kita bisa belajar dari teladan pasutri pada zaman modern ini yang diangkat menjadi orang kudus. Mereka adalah Luigi Beltrame dan Maria Beltrame Cuattrochi. Inilah pasutri pertama kali dalam sejarah Gereja yang diangkat menjadi orang kudus, pada 21 Oktober 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II. Dari perkawinan tanggal 25 November 1905, mereka dianugerahi 4 anak: Filippo (15 Oktober 1906 – 20 February 2003, imam); Stefania (9 Maret 1908 – 1 Maret 1993, suster); Cesare (27 November 1909 – 31 Desember 2008, imam); Enrichetta (6 April 1914 – 16 Juni 2012).


Menurut Paus Yohanes Paulus II, mereka diangkat menjadi orang kudus karena kehidupan keluarga mereka itu biasa, tetapi dijalani secara luar biasa. Pak Luigi adalah ahli hukum, sedangkan Bu Maria adalah perawat sukarelawan yang bergabung dalam Palang Merah Italia dalam masa perang. Dalam situasi hidup yang tidak mudah di Italia pada akhir abad 19 dan awal abad 20, mereka berfokus pada kehadiran Yesus yang nampak dalam rencana Allah atas perkawinan mereka.
Kardinal Jose Saraiva Martins, Perfect Kongregasi untuk Beatifikasi mengatakan bahwa, “Mereka membangun Gereja domestik dalam keluarga mereka: terbuka terhadap hidup, berdoa, memberikan pelayanan sosial, solidaritas bagi orang miskin dan penuh persahabatan dengan semua orang“.


Ada dua hal yang mendasari hidup sehari-hari mereka, yaitu: mencintai pekerjaannya dan tekun berdoa (Rosario dan Ekaristi). Ketika anak yang ke-4 mau lahir, sudah divonis dokter: kemungkinan hidup hanya 5 % atau akan lahir cacat. Maka diusulkan untuk digugurkan saja. Dalam situasi itu, mereka mengandalkan Tuhan dan makin tekun berdoa. Apapun yang terjadi mereka siap menerima anak itu bagaimanapun kondisinya, karena dia adalah buah hati perkawinan mereka.


Ternyata prediksi manusia, berbeda dengan kehendak Tuhan. Yang diprediksi tim medis dengan ilmu manusia hanya kemungkinan hidup 5%, tetapi atas kehendak Tuhan ternyata Enrichetta bisa hidup sampai usia 98 tahun (1914-2012). Tidak ada yang mustahil bagi orang yang selalu mengandalkan Tuhan dalam kesulitan hidupnya dan selalu rendah hati di hadapan Tuhan.


Pertanyaan refleksinya: Pernahkah dalam hidup ini Anda menghujat Roh Kudus? Apa yang Anda lakukan ketika menghadapi kesulitan dan masalah yang berat dalam hidup ini? selamat merenungkan dan menikmati akhir pekan.


Dari kejauhan lampu tampak redup
Ada pengemis tidur beralaskan kardus
Mari mengandalkan Tuhan dalam hidup
Jangan sesekali menghujat Roh Kudus.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.