Percik Firman: Berusaha Rendah Hati dan Tulus


Kamis, 19 Oktober 2017
Bacaan : Lukas 11:47-54                             


“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berusaha memancing Yesus, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya” (Luk 11:54)


Saudari/a ku ytk.,


PADA zaman sekarang ini banyak orang pandai (terpelajar) karena menempuh pendidikan di sekolah. Kepandaian mereka tentu saja sangat membanggakan karena bisa memberikan sumbangan untuk kemajuan umat manusia. Ada orang pandai yang tetap rendah hati, tetapi ada juga orang pandai yang sombong. Ia merasa diri selalu benar, bahkan kepandaiannya malah untuk ‘minteri’ orang lain dan membohongi sesamanya.


Pada zaman Yesus, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat merupakan orang-orang paling terpelajar di antara masyarakat pada waktu itu. Pengetahuan yang mereka miliki membuat mereka sombong dan selalu merasa benar. Mereka menuntut semua orang untuk mengikuti peraturan-peraturan yang mereka tetapkan, tetapi mencari lubang supaya mereka sendiri tidak perlu mengikuti peraturan itu untuk kepentingan diri sendiri.


Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk bersikap hati-hati terhadap orang-orang pandai, yang memiliki sifat seperti orang Farisi dan ahli Taurat itu. Sikap hidup mereka tidak benar dan tidak tulus. Tuhan Yesus mengecam mereka karena mereka mempergunakan pengetahuan yang mereka miliki untuk menindas orang lain. Padahal mereka sendiri tidak mematuhi peraturan Tuhan yang telah mereka ketahui di luar kepala. Pengetahuan memang bisa menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi kutuk kalau dipergunakan secara tidak benar.


Sikap Yesus ini membuat mereka marah. Tadi dikisahkan dalam Injil bahwa Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berusaha memancing Yesus, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.


Jika kita dianugerahi otak yang cemerlang, bakat yang menonjol, kepandaian, ingatlah bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan. Semua adalah anugerah Tuhan semata. Maka tetap perlu bersikap renda hati. Hal itu perlu dipergunakan dengan bijaksana dan juga dibagikan secara benar kepada sesama kita. Dan sebaliknya jika kita tidak tahu, kita perlu rendah hati mau bertanya kepada orang yang lebih tahu dan siap menerima masukan. Sebaliknya jika kita jatuh dalam dosa karena kelemahan kita sebagai manusia, janganlah menjadi putus asa.


Santa Teresa Avila memberikan nasihat kepada kita, “If you do something wrong, don’t punish yourself-change.” Artinya, jika kamu melakukan sesuatu yang salah, janganlah menghakimi atau menyalahkan diri sendiri. Percayalah, Tuhan akan membantu kita untuk mengatasi kelemahan kita dan membentuk hidup kita sesuai dengan rencana-Nya.


Pertanyaan refleksinya: Maukah Anda dibentuk dan dibimbing oleh Tuhan dalam hidup ini? Bagaimana sikap Anda jika ada orang yang bertanya kepada Anda? Apa yang Anda lakukan jika Anda tidak tahu terhadap sesuatu? Selamat merenungkan.


Di kota ada pengemis yang lusuh
Suka tidur berpindah-pindah
Mari berusaha rendah hati dan tulus
Agar hidup bersama menjadi indah.


Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.


NB: In Loving Memory 2 tahun (hitungan Jawa) berpulangnya Mgr J. Pujasumarta, Uskup Agung Semarang, ke rumah abadi di surga. Semoga kebahagiaan dan kedamaian abadi dianugerahkan Allah Bapa kepada beliau. Dan beliau menjadi pendoa bagi kita semua.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.