Percik Firman: Berteriak pada Tuhan – Selasa, 8 Agustus 2017

Peringatan Wajib Santo Dominikus (Imam)

Bacaan : Matius 14:22-36

“Ketika dirasanya tiupan angin, takutlah Petrus dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!”” (Mat 14:30)

Saudari/a ku ytk.,

MERENUNGKAN bacaan Injil hari ini, muncul ingatan akan lagu “Gereja Bagai Bahtera”. Lagu tersebut sangat akrab di telinga kita. Bahkan, sejak kecil, kita sudah mendengar lagu itu. Lagu itu merupakan sebuah refleksi yang sangat mendalam dan penuh makna dari seseorang akan kehidupan Gereja, yaitu kita, di dunia ini. Berikut ini penggalan syair lagu “Gereja Bagai Bahtera”:

Gereja bagai bahtera di laut yang seram
Mengarahkan haluannya ke pantai seberang
Mengamuklah samudera dan badai menderu
Gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi? Reff.

Reff:
Tuhan tolonglah!
Tuhan tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak
Ya Tuhan tolonglah!

Gereja bagai bahtera di laut yang seram
Mengarahkan haluannya ke pantai seberang
Hai ‘kau yang takut dan resah, ‘kau tak sendirian
Teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan!
Bersama-sama majulah, bertahan berteguh;
Tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu! Reff.

Ya, Gereja (kita) bagaikan bahtera (perahu) di laut yang seram, diwarnai badai menderu, gelombang menghempas, lalu kita pun bertanya kepastiannya kapan sampai. Kapan masalah kita akan selesai. Kapan salib kita ini akan berlalu. Secara manusiawi, kita pun berteriak, menengadah menatap Tuhan dan memohon pertolongan.

Apakah Anda pernah berteriak? Mengapa Anda berteriak? Biasanya apa yang menyebabkan orang berteriak? Orang biasanya berteriak karena marah, takut, ingin minta tolong, dsb. Dalam injil hari ini disebutkan sampai dua kali para murid Yesus berteriak. Mereka berteriak karena takut dan minta tolong. Pertama, para murid berteriak takut karena melihat ‘hantu’ di saat perahu mereka diombang-ambingkan angin sakal. Angin sakal adalah jenis angin yang berlawanan dengan arah perahu, bertiup datang dari depan perahu. Bisa dibayangkan bagaimana mereka kepayahan mendayung perahu untuk melawan angin sakal tersebut.

Kedua, para murid (Petrus) berteriak minta tolong. Ketika ia mulai tenggelam, Petrus spontan berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Petrus adalah seorang nelayan dan pelaut yang berpengalaman. Dia telah sering mengarungi danau ini. Dia tahu bahayanya. Ini adalah danau yang sangat berbahaya. Bahkan di zaman sekarang ini, kapal bisa tenggelam jika terhantam badai di sini.

Para murid terjebak badai besar di tengah danau Galilea atau laut Galilea. Danau Galilea ini disebut laut karena memang sangat besar, panjangnya 13 mil (20 km) dan lebar 8 mil (12 km). Sebuah danau yang sangat besar. Saya bersyukur pernah diberi kesempatan Tuhan berkeliling di Danau Galilea bersama para peziarah waktu itu. Sebelumnya kami makan siang dengan menu Ikan Petrus di rumah makan di tepi danau itu. Ikannya lumayan besar.

Para murid sedang mendayung di tengah badai, sama seperti kita, kita sedang dilanda badai persoalan-persoalan hidup. Kita sedang mendayung di tengah badai. Badai di dunia ini, di dalam hidup kita, di tengah keluarga kita. Badai ditimbulkan oleh dosa. Dosa menyebabkan badai mengamuk di dalam kehidupan kita. Orang-orang dilanda kegelisahan dan ketakutan di dalam dirinya. Saat dosa melanda kehidupan, ia bagaikan badai yang membuat kacau segala sesuatu di dalam hidup kita. Sangat mengerikan. Untunglah, kita mempunyai Yesus. Allah telah mengutus Yesus datang untuk mengatasi badai dosa di dalam diri setiap orang percaya.

Yesus berkata, “Jangan takut.” Dia tidak akan mencelakai Anda. Dia hanya ingin menyelamatkan dan memberi Anda damai sejahtera. Dia ingin mengubah hidup Anda. Dia akan menyingkirkan dosa dari dalam hidup Anda dan menjadikan Anda pribadi yang baru, pribadi yang memiliki sukacita sejati.

Yesus itulah yang selalu diwartakan dan dikotbahkan Santo Dominikus (1170-1221), yang kita peringati hari ini. Santo Dominikus adalah pemimpin pertama dari ‘Ordo Predicatorum’ atau ‘Ordo Pengkhotbah’. Dia adalah seorang imam yang selalu berkotbah dan mewartakan Yesus. Ketika berdoa di Basilika Santo Petrus di Roma, Dominikus mengalami penglihatan berikut: Santo Petrus dan Paulus mendatangi Dominikus. Petrus menyerahkan kepadanya sebuah kunci, dan Paulus memberinya sebuah buku. Kepadanya Petrus dan Paulus berkata: “Pergilah dan wartakanlah Injil, karena engkau telah ditentukan Allah untuk misi pelayanan itu”.

Suatu ketika seseorang bertanya kepada Dominikus buku apakah yang ia pergunakan untuk mempersiapkan khotbah-khotbahnya yang mengagumkan itu. Ia menjawab, “Satu-satunya buku yang aku pergunakan adalah buku cinta.” Hebat ya santo kita yang satu ini…

Pertanyaan refleksinya: Apakah hari-hari ini Anda sedang diterpa badai kehidupan? Apakah Anda sungguh mengimani Yesus sebagai sang Juru Selamat? Bersediakah Anda mewartakan Yesus itu dalam hidup Anda sehari-hari? Selamat merenungkan.

Ke pasar Kranggan beli emas
Pasar Kranggan dekat Tugu Jogja
Janganlah takut dan cemas
Tuhan selalu menyertai kita.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Roma.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Yohanes Gunawan Pr Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS); Pemimpin Umum/Pemred Majalah “Salam Damai” KAS dan Kepala Campus Ministry di Unika Soegijapranata Semarang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: