Percaya dengan Iman

Ayat bacaan: Roma 4:18
================
“Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

percaya dengan iman

Mendengar pendapat negatif dari orang lain memang tidak enak. Ada seorang pemusik yang saya kenal merasa patah semangat ketika kemampuannya tidak dianggap cukup untuk menerobos pasar internasional oleh seseorang. “Yang realistis sajalah, pasar nasional saja belum tentu, apalagi bermimpi untuk sukses secara internasional.” begitu kata orang itu dengan ringan. Pikirkanlah, betapa seringnya kita mendapatkan bentuk-bentuk komentar seperti ini yang mungkin terasa biasa saja bagi yang mengatakan tetapi sanggup melukai rasa percaya diri kita dan berbekas hingga waktu yang lama. Ada banyak orang yang menjadi sulit tumbuh karena sejak kecil selalu dikatakan bodoh, atau selalu dibandingkan secara negatif dengan saudara-saudaranya yang lain. Kata-kata atau komentar negatif jika tidak disikapi dengan lapang hati bisa melemahkan bahkan menghancurkan kita. Masalahnya, kita lebih suka percaya terhadap apa kata orang dibanding janji-janji yang Tuhan berikan. Kita lupa bahwa kita diciptakan secara istimewa dan kepada kita masing-masing Tuhan sudah menyusun rencana indah lengkap dengan masa depan yang gemilang, siapapun kita, apapun keterbatasan kita dan sebagainya.

Abraham menerima janji Tuhan ketika ia sudah sangat tua. Pada usia yang sangat lanjut Tuhan menjanjikan sesuatu yang tidak masuk akal menurut logika manusia. “Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kejadian 15:5). Masuk akalkah memberikan janji seperti ini kepada seorang kakek yang tidak lagi produktif dengan istri yang seharusnya sudah lama menopause? Jika kita yang menerima janji itu mungkin kita akan tertawa, atau bahkan marah. Tetapi Abraham menunjukkan sikap yang berbeda. Dikatakan: “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (ay 6). Abraham percaya, dan Tuhan menganggap ketaatan dan kepercayaan Abraham itu sebagai sebuah kebenaran. Langsungkah Tuhan menepati janji itu? Ternyata tidak. Ujian iman Abraham berlangsung hingga lebih dua dasawarsa hingga ia memperoleh seorang anak dari Sara, istrinya, yang diberi nama Ishak. Meski janji itu mulai ditepati lewat kehadiran seorang anak kandung, ternyata ujian tidak berhenti sampai disitu. Kita tahu kemudian iman Abraham diuji lebih berat dengan permintaan Tuhan untuk mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran. Lagi-lagi Abraham menunjukkan imannya. Setelah ujian itu ia lewati dengan gemilang, Tuhan pun kembali menegaskan janjinya. “Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.” (Kejadian 22:17). Tuhan meneguhkan kembali janjinya karena Abraham mendengarkan firmanNya. (ay 18). Kelak kepada Ishak Tuhan mengulangi kembali janji ini. “Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.” (26:4). Dan lihatlah Tuhan juga menyebutkan kembali alasannya. “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” (ay 5). Tuhan memberi janji, tetapi itu hanya bisa kita tuai apabila kita mendengarkan firmanNya, mematuhi segala perintah, ketetapan dan hukumNya dalam aplikasi nyata dalam hidup kita.

Iman yang teguh, yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan menyisihkan logika manusia yang terbatas. Itulah yang membedakan Abraham dengan kebanyakan dari kita. Dalam kitab Roma hal ini disebutkan dengan jelas. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Roma 4:18). Selanjutnya dikatakan “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” (ay 19-21). Iman. Seperti apa iman itu? ” Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Iman adalah sesuatu yang mampu melampaui logika-logika manusia. Faith is the assurance of the things we hope for, the proof of things we do not see and the conviction of their reality. Darimana iman ini bisa kita peroleh? “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu timbul, dan ketaatan kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata akan membuat kita mampu menuai janji-janji luar biasa dari Tuhan, meski logika manusia yang terbatas mungkin menyatakan sebaliknya.

Ketika anda lebih tertarik untuk percaya kepada pendapat negatif yang melemahkan dari orang lain, mengapa tidak mengubah sikap itu dan kembali menggantungkan kepercayaan kepada Tuhan lewat sebentuk iman? Jika kepada Abraham janji yang mustahil itu bisa dipenuhi mengapa tidak bagi kita? Ucapan-ucapan negatif orang lain bisa membuat kita terpuruk dan hancur berantakan, kehilangan pengharapan, tetapi kembali berpegang kepada Tuhan dan janji-janjiNya akan mengembalikan kita kepada jalur yang benar. Ketaatan, kepercayaan teguh kepada Tuhan seharusnya tidak tergantung oleh situasi, kondisi dan logika kita. Meski saat ini anda belum melihat jawabannya, tetaplah melangkah dengan yakin dalam iman. Pada saatnya nanti anda akan melihat bagaimana kuasa Tuhan mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia yang terbatas.

Iman yang teguh merupakan kunci menuai janji Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.