Percaya (2)

(sambungan)

Setelah mendengar jawaban Marta, Yesus pun kemudian datang kesana. Apakah kepercayaan Marta sudah benar-benar penuh? Ternyata belum. “Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara dari Lazarus yang sudah meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” (ay 39). Lazarus sudah empat hari mati, itu artinya mayat sudah mengeluarkan bau busuk dan mengalami dekomposisi. Secara logika itu berarti semuanya sudah terlambat. Yesus mengetahui pikiran mereka dan kemudian berkata:”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (ay 40). Dan benar, terjadilah mukjizat luar biasa. Lazarus bangkit kembali dari kematiannya.

Mengapa mukjizat atau keajaiban Tuhan tidak bisa terjadi pada diri kita? Mengapa kita tidak kunjung melihat kemuliaan Tuhan? Kata Yesus, itu “Karena kamu kurang percaya.” (Matius 16:20a).  Yesus tidak mengatakan bahwa Tuhan pilih-pilih dalam menurunkan mukjizatNya. Yesus tidak berkata itu tergantung giliran atau nasib baik, tetapi dengan singkat, padat dan jelas Yesus berkata itu terjadi karena kita kurang pecaya. Masih dalam ayat yang sama selanjutnya Yesus mengatakan: “Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (ay 20b). Dalam versi Markus, ucapan Yesus berbunyi: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (Markus 11:23). Perhatikanlah bahwa sesuatu yang mustahil, seperti melemparkan gunung ke dalam laut, itu bisa terjadi pada kita, tetapi kuncinya adalah tidak bimbang hatinya, melainkan percaya.

Ada banyak problema dalam hidup yang siap mendatangkan rasa takut. Tapi kalau kita membiarkan rasa takut berkecamuk dalam hidup kita, apakah ada gunanya? Tidak ada. Justru Yesus berkata bahwa takut itu berasal dari kurang atau tidak percayanya kita terhadap Tuhan. (Matius 8:26). Oleh sebab itu, kuncinya adalah percaya. Believe. Yesus juga sudah berkata “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Lihatlah betapa pentingnya percaya itu dalam menerima kuasa Tuhan yang ajaib yang jauh melebihi segalanya.

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam renungan-renungan seminggu terakhir, dasar yang kuat untuk bisa percaya sesungguhnya sudah diberitahukan pula kepada kita, yaitu iman. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Iman merupakan dasar dari yang kita inginkan dan merupakan bukti dari apa yang belum kita lihat. Iman seharusnya bisa menjadi dasar bagi kita untuk percaya, tempat kita menggantungkan pengharapan tanpa putus kepada Tuhan. Meski sesuatu belum terjadi, bukti sebenarnya sudah ada lewat iman kita. Iman yang hanya seukuran biji sesawi saja sudah bisa memberikan perbedaan nyata dalam kehidupan orang percaya.

Logika boleh saja dipergunakan, tetapi jangan sampai logika membelenggu kepercayaan kita akan Tuhan. Kita mengaku sebagai orang percaya, tetapi sejauh mana sebenarnya kita percaya kepada Tuhan? Pada tahap mana kita hari ini, apakah masih menjadi orang yang tidak atau sulit percaya atau sudah percaya tapi masih kurang? Saya sudah mengalami begitu banyak mukjizat Tuhan secara langsung dan menyaksikan itu terjadi secara nyata pada banyak orang. Yang terbaru, kaki saya sempat tertancap paku besar berkarat yang menembus sendal. Darah berceceran tapi saya harus pergi rapat bersama bapak Gembala. Saya memutuskan untuk tetap berangkat meski bukan main sakitnya telapak kaki setiap melangkah. Tapi keesokan harinya saya mengalami mukjizat kesembuhan. Bukan hanya sembuh, bahkan bekas lukanya pun hilang. Mustahil? Tidak logis? Ya. Tapi bisa terjadi? Tentu saja. Because I believe in God and His power. I believe in God and His grace, His love and His care. Dan itu hanyalah satu dari sekian banyak mukjizat yang saya dan istri alami sepanjang perjalanan kami melayani.

Firman Tuhan itu ya dan amin. FirmanNya hidup dan punya kuasa. Believe that. Hari ini, marilah kita perbaharui keyakinan kita sepenuhnya kepada Tuhan. Jangan sampai anda luput dari itu semua hanya karena terus menghalanginya dengan ketidakpercayaan anda.

There can be miracle, when you believe

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.