Perayaan 1.700 Tahun Dekrit Milan untuk Hak Kebebasan Beragama

< ![endif]-->

Dekrit Milan misa

PATRIAK Gereja Ortodoks Konstantinopel Bartolomeus I ke Milan bertemu Kardinal Angelo Scola. Sejak 14 Mei, Bartolomeus I berada di Milan dan berbincang dengan Kardinal Angelo Scola, Uskup Agung dari Keuskupan Agung Milan. Ini dia lakukan dalam rangka perayaan 1.700 tahun  Dekrit Milan.

Dekrit Milan ditetapkan pada tahun 313 SM oleh Kaisar Roma Konstantin. Sebuah keputusan politik untuk menjamin kebebasan beragama dan mengakhiri penganiayaan terhadap umat kristen.

 

Kardinal Angelo Scola menyambut kedatangan Bartolomeus I dan seluruh delegasi yang dipimpinnya dan mengatakan: “Saya menerima Anda sekalian sebagai karunia dari Tuhan di dalam mengunjungi Gereja Allah yang ada di Milan. Selamat datang di tanah Ambrosius, dimana banyak umat dari Gereja Anda telah menetap, Orang Kudus yang dihormati oleh umat beriman dari Gereja kita bersama, baik di Timur maupun di Barat, sebagai Bapa Gereja dan Guru dari kesamaan iman kristen”. 

 

Kunjungan Bartolomeus I itu merupakan puncak dari perayaan 1.700 tahun Dekrit Milan dan awal dari kebebasan beragama di Barat. Untuk itu Uskup Agung Milan tidak lupa menggarisbawahi titik sejarah dari kejadian itu:

 

“Kita pada hari ini membacakan awal yang penting dari kesadaran yang terbaru dari sebuah prinsip tertinggi: Kebebasan Beragama, yang mana hak-nya tidak dapat dicabut dari martabat hidup manusia. Dan justru perlunya membela dan mendukung kebebasan beragama di dalam masyarakat plural dari dunia kontemporer akan menjadi pusat dari perhatian kita bersama di dalam hari-hari kunjungan Anda”.

 

Dekrit Milan Costantino-imperatore-di-BisanzioKardinal Scola melanjutkan: “Terutama adalah buah-buah dari kenangan di bawah profil menggereja dan ekumenis yang menjadi perhatian kita. Dan memang dari sudut pandang ini, pertemuan dengan Yang Mulia adalah yang paling dinantikan dan paling berarti pada abad ini”.

 

Menurut Bartolomeus I, perayaan ini bukan hanya motif untuk berpesta, tetapi pada dasarnya sebuah “tanggung-jawab dari kita para pembimbing rohani, di hadapan kemanusiaan dan dunia; merupakan pewartaan atau pewartaan kembali dari Kebenaran, yaitu bahwa iman kita hidup dan bukan merupakan mesin ideologi dan teori manusia; bukan sebuah “makanan dan minuman yang disantap”, melainkan sebuah kehidupan”.

Kebebasan beragama

Paus Fransiskus mengartikan Dekrit Milan yang memberikan hak atas kebebasan beragama sebagai: “Sebuah keputusan bersejarah yang membuka jalan-jalan baru kepada Injil dan memberikan andil dengan cara yang pasti untuk kelahiran dari peradaban Eropa”. Kemarin, bertempat di Istana Kerajaan, di pusat kota Milan yang pernah menjadi tempat dari dipublikasikannya Dekrit tersebut, Kardinal Angelo Scola dan Patriark Bartolomeus I berdialog tentang ayat Injil Yohanes “Kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32).

Dengan mendengarkan kata-kata Paus Fransiskus yang dibacakan oleh Mgr. Luca Bressan, diharapkan Agarkesaksian bersamaorang KristenTimur dan Barat, yang ditopang olehRohdari Yang Bangkit, membantu untukmenyebarkan pesankeselamatandi Eropadan seluruh dunia.” Bapa Suci memandang pada masa kini dan beralih kepada politik ketika mengharapkan agar “berkat kejelianpemerintahan sipil,hak untukmenyatakan imanseseorangsecara publikdihormatidi manapundanandil yangterus ditawarkan oleh Kristianismeuntukbudaya dan masyarakatdi zaman kita,diterimatanpa prasangka.

Sebuah “tahap mendasar di dalam sejarah manusia”, demikian yang diartikan oleh Patriark Bartolomeus.

Dekrit Milan 2

Ia bertanya, “Tapi bagaimanakah kebebasan dapat diartikan? Artinya adalah ketiadaan kesombongan dan keangkuhan. Sebuah misteri yang mendalam, kekal dan tak dapat dipahami, yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan. Tetapi kebebasan ini, yang sering kali dipisahkan dari penciptanya,  menjadi terisolasi, didewakan, mengakuisisisebuah karakter antroposentris,menjadimaha kuasa, menyebabkan kejahatanbesar.”

Lanjutnya, “Ini adalahdistorsi darikebebasandari mereka yang percaya bahwaitu berartimemuaskan keinginan merekatanpa pandang bulu, tanpa batas, memutuskandan bertindak, melakukanketidakadilandi dalam keheningansiapa yangmengelilingi, membunuh dandi beri tepuk-tangan: semuadan selaluatas namakebebasan”. Dan jika demikian “tiada seorang pun yang bebas apabila tidak menyangkal adorasi-diri dari ego-nya”, Bartolomeus mengukuhkan bahwa kebebasan “tidak mungkin ada tanpa Salib, yang ditemukan di dalam kasih, di dalam penerimaan kita, di dalam pelayanan kita kepada sesama”.  

Dekrit Milan

Dekrit Milan yang dipublikasikan 1.700 tahun yang lalu menjanjikan kemajuan-kemajuan besar dari masyarakat manusia kepada kebebasan, kata Patriark. Tetapi melihat situasi yang ada sekarang, “dari umat Kristen di negara-negara muslim dan dari umat muslim di negara-negara kristen, masih banyak yang harus dikerjakan. Seperti di Syria, di mana “umat Kristen dari setiap keyakinan mengalami pencobaan dan diancam setiap hari dengan penculikan dan pembunuhan”. 

Bartolomeus kemudian mengajukan ajakan penutup yang ditujukan bagi semua orang, “sampai perdamaian dan keamanan tercipta terutama di Timur Tengah – di mana Kristianisme memiliki banyak santuari kuno yang dihormati dan di mana tradisi kristen begitu mendalam dan terkait dengan kehidupan rakyat – begitu pula di seluruh dunia, di mana kebebasan mengimani Kristus diinjak-injak akibat keangkuhan terorisme, peperangan, penindasan ekonomi dan berbagai cara lainnya. Situasi yang dikoreksi hanya dengan pribadi-pribadi oto-kritis, dengan Rahmat dari Roh Kudus”.  

Sementara itu, Kardinal Angelo Scola mengatakan bahwa: “Kebebasan adalahkerinduanterdalamyangselalu memenuhi hati manusia. Dan hak atas kebebasan beragama adalah jenjang tertinggi padatingkatanhak, yang tanpa hak itu semua lainnyaditakdirkan untukruntuh, “karena memungkinkan manusia untukmempertanyakanmakna dari keberadaan dirinya”. Kata Kardinal, “Nilai sejarah dari Dekrit Milan sangat penting saat ini di dalam masyarakat plural. Pengakuan atas kebaikan dari perbedaan, yang berasal dari kontemplasi Trinitas, memungkinkan melawan utopia kolektivisme di mana manusia menjadi Negara“.

Terutama Milan dan Lombardia, kata Scola, “Dipanggil untuk menunjukkan kemampuan membaharui tubuh gereja dan membangun tenunan sosial yang baik, menghargai kebebasan semua orang. Menyerahkan itu kepada generasi baru, di dalam pelatihan kenangan yang hidup, iman yang aktif dari para ayah dan persahabatan yang erat dengan semua orang, pengalaman sipil yang unggul dari tanah Ambrosian”. Kardinal melanjutkan, “Agar paroki-paroki, yayasan-yayasan, gerakan-gerakan awam semuanya sadar bahwa bagi umat kristen tidak ada dinding-dinding untuk dibela, melainkan jalan-jalan untuk dilalui, untuk menyatakan bahwa Kristus adalah Injil manusia”.

Pada akhir pertemuan, diumumkan bahwa pada tanggal 31 Januari Kardinal Scola bergilir mengunjungi Bartolomeus di Konstantinopel dan mengharapkan sebuah “langkah bersama” dari kedua Gereja untuk meningkatkan kebebasan beragama di Timur dan Barat”. Sebuah kewajiban, kata Scola menutup pidatonya, “yang tidak ingin dilalaikan oleh Gereja Milan”.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.